Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Peristiwa tragis yang menimpa PA (34), ibu rumah tangga di Pesisir Barat yang dibacok suaminya sendiri saat hamil empat bulan, memancing keprihatinan mendalam dari berbagai pihak.
Psikolog Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Lampung, Retno A. Riani, menilai kejadian tersebut merupakan puncak dari agresivitas yang tidak terkelola dan kurangnya kemampuan negosiasi dalam rumah tangga.
Menurut Retno, kasus ini menunjukkan adanya kesulitan individu dalam mengontrol diri.
Ia menilai, agresi yang muncul menjadi liar karena tidak adanya bekal kemampuan berkomunikasi yang baik saat menghadapi konflik.
"Kalau saya melihat, ini adalah masalah kesulitan untuk mengontrol diri atau agresivitas yang tidak terkelola dengan baik," ujar Retno, Rabu (4/2/2026).
Menurut Retno, di era sekarang banyak terjadi fenomena pasangan yang akan menikah tapi tidak menyiapkan mental dengan matan, dan hanya membayangkan indahnya pernikahan tanpa siap menghadapi realita perbedaan karakter.
Retno menekankan bahwa kemampuan anak dalam berumah tangga dipengaruhi oleh berbagai faktor, utamanya melihat contoh atau role model dari orang tua mereka.
"Seseorang perlu disiapkan untuk menuju berumah tangga, ketika orang tua mampu memberikan contoh bagus, maka anak akan mengerti bahwa dalam pernikahan ada namanya dinamika," jelasnya.
Menurutnya, teknik negosiasi dan komunikasi seperti pengendalian emosi hingga penyelesaian maslaah, sering kali tidak diajarkan di dalam keluarha, sehingga saat terjadi cekcok, emosi yang berbicara.
Selain faktor perilaku, Retno tidak menampik adanya faktor eksternal seperti kesulitan ekonomi hingga kecemburuan kerap membuat emosi seseorang menjadi kompleks.
Untuk meminimalisir kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) Retno secara khusus menyarankan kepada perempuan khususnya yang mau atau baru berumah tangga agar memiliki kemandirian finansial.
"Berdasarkan fakta yang saya temui di lapangan, ketika perempuan tidak mandiri secara finansial ditambah lagi dia mendapat pasangan yang 'tidak oke', biasanya dia rata-rata akan menjadi korban," ungkap Retno.
Kemandirian ini, lanjutnya, bukan berarti harus bekerja di luar rumah, melainkan memiliki cara untuk berdaya secara ekonomi, misalnya melalui usaha daring, guna mengantisipasi kemungkinan terburuk dalam rumah tangga.
Di samping itu, Retno juga mengkritik fenomena masyarakat yang lebih fokus pada pesta pernikahan (wedding) yang megah daripada esensi kehidupan pernikahan itu sendiri (marriage).
"Kita ini sering kali bukan intimate wedding. Tamu bisa sampai seribu, habis uang ratusan juta, sementara mungkin keluarganya pas-pasan. Ini tidak rasional. Kita sering lupa bahwasanya suatu ketika pernikahan ini bisa putus di tengah jalan. Sekarang perceraian itu begitu mudahnya," tegasnya.
Retno memberikan poin penting yang harus disiapkan sebelum memutuskan untuk menikah guna menghindari konflik berujung kekerasan.
Pertama, seseorang harus memiliki kematangan finansial pegangan ekonomi agar tidak sepenuhnya bergantung dan memiliki daya tawar dalam negosiasi rumah tangga.
Kedua kematangan mental agar siap menghadapi kemungkinan terburuk dan tidak hanya membayangkan hal-hal indah saja.
Ketiga, kemampuan komunikasi agar dapat belajar teknik negosiasi, sehingga saat terjadi perbedaan pendapat, solusi dicari melalui diskusi, bukan emosi sesaat.
"Intinya adalah pola komunikasi untuk mencari solusi, bukan mengandalkan emosi sesaat, terlepas apa pun masalahnya," pungkasnya.
( Tribunlampung.co.id / Hurri Agusto )