Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini
TRIBUNJABAR.ID, CIAMIS – Warga Kabupaten Ciamis, khususnya di Desa Ciomas, memiliki tradisi adat sakral bernama Nyepuh.
Tradisi Nyepuh masyarakat Desa Ciomas yang terletak di Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, kembali digelar dalam rangka menyambut Bulan Ramadan, Rabu (4/2/2026).
Prosesi adat Nyepuh berlangsung di kawasan Situs Geger Omas, tepatnya di Makam Eyang Haji Panghulu Gusti, Dusun Ciomas, yang diikuti antusias oleh masyarakat serta tamu undangan, sejak pagi hari.
Ratusan warga yang memakai baju bernuansa putih itu sangat antusias dan penuh khidmat saat melakukan prosesi demi prosesi tradisi Nyepuh.
Mereka larut dalam lantunan doa sebagai muhasabah juga ungkapan rasa syukur karena bisa kembali menyambut bulan suci Ramadan di tahun ini.
Tak hanya sekedar melestarikan warisan budaya, tradisi Nyepuh juga menjadi salah satu ajang silaturahmi bagi masyarakat.
Baca juga: WILUJENG SUMPING Sergio Castel Bakal Segera Dirilis Oleh Persib, Kabar Baik Buat Bobotoh
Dengan penuh suka cita mereka akan menyambut bulan suci ramadan hingga berharap menggapai kemenangan di hari Idulfitri nanti.
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Ciamis, Dian Budiyana, yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut mengapresiasi masyarakat dan Pemerintah Desa Ciomas yang konsisten menjaga tradisi leluhur.
“Upacara adat Nyepuh ini merupakan salah satu bentuk nyata pelestarian budaya bangsa yang masih hidup dan dijaga dengan baik oleh masyarakat. Atas nama Pemerintah Daerah dan juga Bupati Ciamis, kami mengucapkan selamat dan terima kasih kepada panitia, para sepuh, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta seluruh pihak yang terlibat,” ujar Dian Budiyana saat diwawancarai usai kegiatan.
Ia menjelaskan, tradisi Nyepuh tidak hanya bernilai budaya dan spiritual, tetapi juga memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi masyarakat, khususnya melalui sektor pariwisata budaya.
“Alhamdulillah, tahun ini tradisi Nyepuh sudah resmi masuk sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Provinsi Jawa Barat. Insya Allah nanti akan kita ajukan ke tingkat nasional agar dapat ditetapkan sebagai WBTB Nasional,” ungkapnya.
Dian optimistis dengan dukungan pemerintah desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta keterlibatan generasi muda, tradisi Nyepuh akan semakin dikenal luas, tidak hanya di Ciamis, tetapi juga di tingkat nasional.
Baca juga: BREAKING NEWS: WNA Amerika Serikat Ditemukan Tewas di Kamar Apartemen Jalan Karapitan
“Harapannya ke depan, tradisi ini terus dilestarikan dan dikembangkan, sehingga tidak hanya menjadi identitas budaya daerah, tetapi juga memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat,” tambahnya.
Tradisi Nyepuh singkatnya merupakan ritual warga Desa Ciomas menjelang bulan Ramadan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur penyebar Islam.
Adapun beberapa rangkaian acara yang dilakukan dalam Tradisi Nyepuh yaitu:
1. Pembukaan di kediaman kasepuhan/juru kunci
2. Doa dan tawasul
3. Tausiah keagamaan
4. Pengambilan air keramat di mata air Geger Emas
5. Nyekar di makam Kyai Haji Panghulu Gusti
6. Makan tumpeng bersama
Kepala Desa Ciomas, Devi Yulviana, menyampaikan rasa syukur atas pelaksanaan tradisi Nyepuh tahun ini yang berjalan lancar dari awal hingga akhir.
“Alhamdulillah prosesi Nyepuh tahun ini dapat dilaksanakan dengan baik. Pada intinya, kegiatan ini mengandung tiga nilai utama, yaitu mempererat silaturahmi, menghormati para leluhur, dan melakukan muhasabah diri menjelang bulan suci Ramadan,” jelasnya.
Menurut Devi, tradisi Nyepuh telah dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat Dusun Ciomas, Desa Ciomas sejak dahulu.
Baca juga: Persib Dikaitkan Striker Alumnus LA Liga, Posisi Ramon Tanque Berpotensi di Ujung Tanduk
Seiring perkembangan zaman, pelaksanaannya pun semakin melibatkan banyak pihak dan diikuti oleh masyarakat secara lebih luas.
“Dulu hanya diikuti perwakilan masyarakat, sekarang alhamdulillah bisa dihadiri oleh seluruh warga Desa Ciomas, bahkan masyarakat dari wilayah Kecamatan Panjalu dan pemerintah kabupaten. Ini menjadi momentum kebersamaan, silaturahmi, dan berbagi pengalaman,” katanya.
Rangkaian kegiatan Nyepuh ditutup dengan tradisi botram (makan bersama) sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur masyarakat.
Ke depan, sebagai salah satu desa wisata, Pemerintah Desa Ciomas berharap tradisi Nyepuh dapat terus dipertahankan dan dikembangkan sebagai agenda tahunan berbasis budaya dan pariwisata.
“Kami berharap Nyepuh bisa menjadi destinasi wisata budaya tahunan yang mampu menarik wisatawan, sekaligus mendorong peningkatan perekonomian masyarakat Desa Ciomas,” pungkas Devi.
Sementara itu, Laila Amanda (26) warga Kecamatan Panjalu mengaku baru pertamakali menghadiri acara tradisi Nyepuh.
Sebagai anak muda, ia bangga di wilayahnya itu masih banyak warga yang mau melestarikan budaya leluhur.
“Hari ini saya baru pertama kali mengikuti tradisi Nyepuh. Sebagai anak muda, dengan ikut langsung dalam acara ini saya merasa ikut melestarikan budaya yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu," katanya.
Laila berharap, tradisi Nyepuh ini terus diperingati setiap tahun agar generasi muda semakin sadar akan budayanya sendiri.
"Jangan sampai hanya ikut-ikutan hal yang modern saja, tapi tetap harus bisa melestarikan dan merawat budaya kita,” tandasnya. (*)