Sosok Yoyok Eks Perwira TNI, Beri Nilai 50 untuk Kinerja Menpar Widiyanti, Kini jadi Anggota DPR
February 05, 2026 11:03 AM

 

BANGKAPOS.COM -- Kinerja Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, mendapat nilai 50 dari Yoyok Riyo Sudibyo.

Mantan perwira TNI yang kini menjabat sebagai anggota DPR RI itu mengkritik kinerja Menpar Widiyanti.

Menurutnya, kebijakan pariwisata yang ada saat ini belum berfungsi optimal sebagai mesin ekonomi nasional.

Padahal, sektor pariwisata diklaim sebagai penyumbang devisa negara dan penyerapan tenaga kerja yang besar.

“Kalau saya boleh menilai 100, nilai secara ujian benar semua kan 100, saya menilai Ibu masih 50,” kata Yoyok di hadapan Widiyanti dalam rapat kerja di Komisi VII DPR RI, Rabu (4/2/2026).

“Kebijakan-kebijakan yang Ibu ambil tahun kemarin, itu kan masih banyak celah dan bolongnya, Bu, dan saya harapkan di 2026 nanti, kebijakan yang Ibu ambil ini semestinya merupakan kebijakan sebagai mesin ekonomi,” ujar Yoyok.

Baca juga: Sosok Mufli Dalilu Rahman, Suami Dini Kurnia Mantan Istri Ressa, Berprofesi sebagai Keyboardis

Sosok Yoyok Riyo Sudibyo

Yoyok Riyo Sudibyo lahir di Batang, Jawa Tengah pada 23 April 1972.

Ia memiliki istri yang bernama Budi Prasetiyawati Widawati.

Yoyok berasal dari latar belakang militer. 

Sebelum memasuki dunia politik, ia terlebih dahulu berkarier sebagai anggota militer.

Yoyok merupakan lulusan Akademi Militer (Akmil) pada 1994.
 
Dalam karier militernya, ia pernah mengemban berbagai penugasan, di antaranya :

  • Danton Mer Rai Q Yon Arhanudse-6 (1994)
  • Danton Turbak Rai Q Yon Arhanudse-6 (1997)
  • Pasi Operasi Rai Q Yon Arhanudse-6 (1998)
  • Komandan Baterai Q Yon Arhanudse-6 (2000)
  • Pasi Intel Yon Arhanudse-6 (2001)
  • Perwira Operasi Detasemen Intel Kodam Jaya Jakarta (2001)
  • Komandan Koramil 03 Tanjung Priok Jakarta Utara (2002)
  • Komandan Satgas Badan Intelijen Negara (BIN) wilayah Jayawijaya, Papua (2004).

Saat menjabat sebagai Danramil 03 Tanjung Priok, Yoyok menjadi Danramil termuda di Indonesia.

Pada 2006, Yoyok memutuskan untuk pensiun dini dan memilih fokus untuk membesarkan usaha garmen yang sudah dirintisnya.

Kala itu, ia menjabat sebagai Direktur Utama PT Smile Papua dan PT Papua Maju Sejahtera selama enam tahun.

Selama menjadi pengusaha, usaha garmen yang ditekuninya maju pesat hingga memiliki 60 toko di Papua dan Batang.

Pada 2012, Yoyok mulai masuk dunia politik dengan maju sebagai calon Bupati Batang dari jalur independen yang didukung masyarakat, petani, dan aktivis LSM. 

Menjelang pendaftaran ke KPUD, sejumlah partai politik kemudian menyatakan dukungan sehingga pasangan Yoyok–Soetadi resmi diusung Golkar, PAN, PPP, Demokrat, serta beberapa partai nonparlemen.

Yoyok dan Soetadi berhasil terpilih sebagai Bupati dan Wakil Bupati Batang dengan perolehan 113.027 suara.

Mereka dilantik pada 13 Februari 2012.

Pada Pemilu 2024, ayah dua anak itu berhasil melenggang ke Senayan melalui Partai Nasdem.

Baca juga: Sosok Melvin Lim CEO Property Selingkuh dengan Karyawan, Karier Tamat, Kini Mengundurkan Diri

Di sisi lain, Yoyok dikenal aktif dalam berorganisasi.

Ia tercatat menjabat sebagai Ketua DPP Bidang Pertahanan Dan Kemananan untuk periode 2024-2029.

Beri Nilai Kinerja Menpar 50 dari 100

Yoyok Riyo Sudibyo, anggota Komisi VII DPR RI jadi sorotan usai memberi nilai 50 dari 100 terhadap kinerja Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana.

Yoyok menilai, kebijakan pariwisata yang ada saat ini belum berfungsi optimal sebagai mesin ekonomi nasional.

Padahal, sektor pariwisata diklaim sebagai penyumbang devisa negara dan penyerapan tenaga kerja yang besar.

“Kalau saya boleh menilai 100, nilai secara ujian benar semua kan 100, saya menilai Ibu masih 50,” kata Yoyok di hadapan Widiyanti dalam rapat kerja di Komisi VII DPR RI, Rabu (4/2/2026).

“Kebijakan-kebijakan yang Ibu ambil tahun kemarin, itu kan masih banyak celah dan bolongnya, Bu, dan saya harapkan di 2026 nanti, kebijakan yang Ibu ambil ini semestinya merupakan kebijakan sebagai mesin ekonomi,” ujar Yoyok.

Yoyok menilai, kebijakan pariwisata sebaiknya difokuskan untuk menggerakkan roda ekonomi secara langsung di lapisan masyarakat paling bawah, bukan sekadar berhenti pada pencapaian yang bersifat seremonial.

Ia menegaskan, penggunaan anggaran Kementerian Pariwisata harus benar-benar dirasakan oleh para pelaku sektor wisata, mulai dari pengelola destinasi hingga warga desa. 

Menurutnya, anggaran harus benar-benar dimanfaatkan untuk mendukung pelaku usaha kecil dan menengah di sektor pariwisata, bukan sekadar untuk kegiatan internal kementerian atau seminar-seminar besar.

"Penyerapan anggaran yang akan datang ini harus benar-benar sampai ke pelaku wisata ke bawah, Bu. Jangan sampai malah habis anggaran yang digunakan ke dalam kementerian Ibu sendiri atau bahkan yang paling tinggi levelnya, misalkan ada seminar sana-seminar sini, ke sana-ke sini, ke sana-ke sini," ujar Yoyok dalam rapat.

Yoyok pun mengingatkan supaya Kementerian Pariwisata tidak bergeser peran hanya sebagai penggelar acara tingkat nasional semata.

Ia juga menyoroti masih banyak destinasi wisata milik pemerintah daerah dan desa wisata yang tidak berkembang, walaupun pembangunannya dibiayai oleh anggaran negara.

“Ibu tahu enggak data pemda yang punya obyek wisata yang pada bangkrut? Duit negara lho itu. Ibu tahu enggak desa wisata yang dibuat oleh dana desa yang habis? Duit negara lho itu,” kata Yoyok.

(Bangkapos.com/Tribunnes.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.