SRIPOKU.COM - Berikut ini disajikan contoh Ceramah Ramadhan untuk menjalani ibadah Ramadhan 1447 H.
Contoh teks ceramah Ramadhan ini akan berfokus pada Tema Kekuatan Menahan Amarah (Self Control).
Baca juga: Ceramah Ramadhan Tema Menjadi The Real Winner Pasca Lebaran, Mengisi Buku Agenda Ramadhan 1447 H
Ramadhan: Momentum Instal Ulang Jiwa di Era Distraksi
Ramadhan bukan sekadar siklus ritual tahunan untuk menahan lapar dan dahaga secara fisik.
Lebih dari itu, ia adalah momentum transendental bagi setiap Muslim untuk melakukan 'instal ulang' karakter dan melakukan kalibrasi ulang terhadap fokus hidup yang sering kali melenceng.
Di tengah hiruk-pikuk dunia digital yang serba cepat, bising, dan sering kali melalaikan, bulan suci ini hadir sebagai "ruang tenang" (sacred space).
Ia adalah jeda wajib yang memaksa kita untuk berhenti sejenak dari perlombaan duniawi guna berefleksi, memperbaiki retakan koneksi dengan Sang Pencipta, serta memanen keberkahan melalui amalan-amalan yang substansial.
Sebagai panduan mengisi batin di bulan mulia ini, berikut adalah naskah ceramah singkat yang dirancang khusus untuk mengisi Buku Agenda Ramadhan 1447 H.
Baca juga: Ceramah Ramadhan Tema Sedekah Berbasis Literasi Islam, Mengisi Buku Agenda Ramadhan 1447 H
Materi Ceramah: Menaklukkan Diri Melalui Kekuatan Menahan Amarah
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Hadirin yang dirahmati Allah,
Puasa sering kali disebut sebagai Junnah atau perisai. Namun, perisai ini sering kali retak bukan karena makanan yang masuk ke mulut, melainkan karena kata-kata tajam yang keluar darinya akibat amarah yang tak terkendali.
Rasulullah SAW bersallabdah:
"Bukanlah orang yang kuat itu yang pandai bergulat, tapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah." (HR. Bukhari & Muslim).
Dalam konteks Ramadhan 1447 H, menahan amarah adalah puncak dari implementasi kesabaran. Mengapa ini penting?
Jadi marilah kita jadikan Ramadhan tahun ini sebagai ajang pembuktian bahwa kita adalah tuan atas diri kita sendiri, bukan budak dari ego dan amarah. Mari kita ganti luapan emosi dengan luasnya pengampunan.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.