Contoh Ceramah Ramadhan Tema Kekuatan Menahan Amarah, Untuk Mengisi Buku Agenda Ramadhan 1447 H
February 05, 2026 12:27 PM

SRIPOKU.COM - Berikut ini disajikan contoh Ceramah Ramadhan untuk menjalani ibadah Ramadhan 1447 H.

Contoh teks ceramah Ramadhan ini akan berfokus pada Tema Kekuatan Menahan Amarah (Self Control).

Baca juga: Ceramah Ramadhan Tema Menjadi The Real Winner Pasca Lebaran, Mengisi Buku Agenda Ramadhan 1447 H

Ramadhan: Momentum Instal Ulang Jiwa di Era Distraksi

Ramadhan bukan sekadar siklus ritual tahunan untuk menahan lapar dan dahaga secara fisik.

Lebih dari itu, ia adalah momentum transendental bagi setiap Muslim untuk melakukan 'instal ulang' karakter dan melakukan kalibrasi ulang terhadap fokus hidup yang sering kali melenceng.

Di tengah hiruk-pikuk dunia digital yang serba cepat, bising, dan sering kali melalaikan, bulan suci ini hadir sebagai "ruang tenang" (sacred space).

Ia adalah jeda wajib yang memaksa kita untuk berhenti sejenak dari perlombaan duniawi guna berefleksi, memperbaiki retakan koneksi dengan Sang Pencipta, serta memanen keberkahan melalui amalan-amalan yang substansial.

Sebagai panduan mengisi batin di bulan mulia ini, berikut adalah naskah ceramah singkat yang dirancang khusus untuk mengisi Buku Agenda Ramadhan 1447 H.

Baca juga: Ceramah Ramadhan Tema Sedekah Berbasis Literasi Islam, Mengisi Buku Agenda Ramadhan 1447 H

Materi Ceramah: Menaklukkan Diri Melalui Kekuatan Menahan Amarah

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Hadirin yang dirahmati Allah,

Puasa sering kali disebut sebagai Junnah atau perisai. Namun, perisai ini sering kali retak bukan karena makanan yang masuk ke mulut, melainkan karena kata-kata tajam yang keluar darinya akibat amarah yang tak terkendali.

Rasulullah SAW bersallabdah:

"Bukanlah orang yang kuat itu yang pandai bergulat, tapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah." (HR. Bukhari & Muslim).

Dalam konteks Ramadhan 1447 H, menahan amarah adalah puncak dari implementasi kesabaran. Mengapa ini penting?

  • Amarah Adalah Pintu Masuk Setan: Saat kita marah, nalar tertutup dan emosi mengambil alih. Ramadhan adalah momentum untuk menutup pintu tersebut rapat-rapat.
  • Menjaga Kualitas Pahala: Menahan lapar tanpa menahan amarah hanya akan menyisakan haus dan letih. Menahan amarah memastikan puasa kita naik kelas dari sekadar puasa awam menjadi puasa khawas (khusus).
  • Investasi Kedamaian Sosial: Di era media sosial yang penuh provokasi, kemampuan untuk tidak reaktif terhadap cacian adalah bentuk ibadah yang sangat tinggi nilainya.

Jadi marilah kita jadikan Ramadhan tahun ini sebagai ajang pembuktian bahwa kita adalah tuan atas diri kita sendiri, bukan budak dari ego dan amarah. Mari kita ganti luapan emosi dengan luasnya pengampunan.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.