Jadi Novel Pertamanya, Iput Syarafuddin Tulis Kisah Patah Hati Tan Malaka
February 05, 2026 12:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Muhammad Syarafuddin tampak terganggu ketika pewawancara memberikan label "novel sejarah". "Novel adalah fiksi. Sementara sejarah adalah non fiksi, masa lalu yang faktual," tegas Iput, sapaannya, akhir Januari 2026.

Setelah 15 tahun bergelut dengan jurnalisme, Iput menulis novel pertamanya, Patah Hati Tan Malaka. Novel itu diterbitkan Rain Publishing, sudah bisa dipesan online, dalam waktu dekat akan masuk ke toko buku Gramedia.

Namun, dalam novel setebal 298 halaman ini Iput dengan jelas menyebut Semaun, Musso, Cokroaminoto, Sukarno, Sjahrir, dan Jenderal Sudirman. Semuanya tokoh nyata dalam sejarah Indonesia. Jadi, di mana fiksinya?

"Dalam kisah cintanya," tegas jurnalis 38 tahun kelahiran Banjarmasin tersebut.

Baca juga: Novel Membawa Umrah bagi Najih

Dalam otobiografinya, Dari Penjara ke Penjara, Tan Malaka menyebut beberapa nama perempuan. Seperti Nona Carmen di Manila dan Gadis AP di Xianmen.

Di majalah Tempo edisi khusus Bapak Republik yang Dilupakan juga diungkap romansa Tan Malaka dengan Syarifah Nawawi di Bukittinggi dan Paramita Rahayu di Jakarta.

Harry Albert Poeze yang menghabiskan umurnya untuk meneliti Tan Malaka juga menyebut sosok Fenny Struijvenberg di Haarlem, Belanda.

Tetapi, Tan tidak pernah menceritakan secara detail hubungannya dengan perempuan-perempuan itu.

Menurut Iput, itu wajar. Karena Tan seorang buronan politik yang diburu agen kolonial dan tidak sempat bercinta.

"Tan seorang lelaki kesepian, tapi harga dirinya tinggi. Tak terbayang Tan curhat kepada pembaca tentang kegagalannya dalam percintaan di otobiografinya," jelas Iput yang kini tinggal di Balikpapan.

Jadi, Iput mengimajinasikan kehidupan pribadi Tan. Dibantu fiksi, Iput membangun romansa Tan dengan Syarifah, Fenna, Carmen, AP, dan Paramita.

"Dengan fiksi, saya bisa menambal lubang-lubang dalam kehidupan pribadi Tan yang tak terceritakan oleh sejarawan," terangnya.

"Saya coba menempatkan Tan sebagai manusia biasa yang bisa galau dan membutuhkan sentuhan fisik," lanjutnya.

Artinya, Iput telah melabrak batasan antara fiksi dan non fiksi.

"Ya. Contoh rute pelarian Tan selama di luar negeri, saya rombak ulang untuk menjaga plot novel ini," ucapnya.

Kendati begitu, Iput menyadari kebesaran nama Tan Malaka. Dalam novel ini, ia berupaya menjaga perjuangan dan pemikiran Ibrahim, nama asli Tan.

"Misalnya saat mengulas Madilog, karya terbesar Tan. Saya hanya menyederhanakan intisari pembahasannya. Poin-poin dalam Madilog tidak saya campur adukkan dengan fiksi. Atau saat menulis bagian Persatuan Perjuangan. Di situ saya amat berhati-hati. Kendati ini novel, tetap saja saya tidak berani merusak legasi Tan Malaka untuk bangsa ini," tambahnya.

Oke, jika itu terkait proses kreatif, lantas bagaimana dengan risetnya? Iput mengaku tidak memiliki waktu terlalu banyak untuk meriset. Untungnya, ia tidak asing dengan literatur "kiri".

"Saya pertama kali membaca Madilog sekitar 16 tahun lalu. Saat KKN (kuliah kerja nyata) di sebuah desa di perbatasan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Materialisme, Dialektika, dan Logika adalah buku tebal yang tidak mudah dibaca. Baru di desa kecil itu saya bisa mengkhatamkan Madilog," kenangnya.

"Lucunya, saya tidak pernah benar-benar into it dengan Tan Malaka. Saya seorang fans Bung Hatta," kata alumni Fakultas Dakwah UIN Antasari ini.

Untuk membangun latar novel, Iput mengaku berutang banyak pada Nasionalisme dan Revolusi Indonesia karya George McTurnan Kahin dan Kemunculan Komunisme Indonesia karya Ruth T. McVey.

Sedangkan untuk latar kehidupan Tan di Sumatra Barat, Iput mengaku amat terbantu oleh novel-novel Buya Hamka.

Di zaman ketika buku masih bisa disita aparat untuk menjadi barang bukti, apakah ia tidak takut dituduh penyebar paham "merah"? Iput tampak geli mendengar pertanyaan itu.

"Begini... komunisme adalah ideologi yang sudah bangkrut. Uni Soviet sudah runtuh. China semakin kapitalis. Kita tidak perlu takut dengan hantu dari masa lalu," jawabnya.

Menuduh kiri pun, rasanya agak berlebihan. Ia jelas-jelas "aji mumpung", menulis novel Tan di tengah tren kenaikan penjualan buku Madilog dan Naar de Republiek.

Baca juga: Produktif Menulis, Mahasiswa Ekonomi dan Bisnis ULM Ini Telurkan Karya Novel

Saat opini itu diketengahkan, Iput tertawa. "Ya, Anda benar. Saya tidak bisa menyangkal motif komersial itu," ujarnya.

Terakhir, ditanya apa yang bisa diperoleh pembaca dari novel ini, Iput terdiam. Ia mendongkak ke atas dan menyilangkan tangan, menata kata-kata untuk jawabannya.

"Sejujurnya, saya tidak tahu. Saya juga takut terdengar muluk. Tapi, kalau boleh berharap, setelah pembaca menyelesaikan novel ini, mereka jadi lebih tertarik membaca sejarah. Sebab Tan Malaka, Hatta, Natsir, Buya Hamka, dan Agus Salim adalah raksasa-raksasa yang pernah berjalan di atas bumi Indonesia," tutupnya.

(Banjarmasinpost.co.id/rifki soelaiman)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.