Tribunlampung.co.id, Jakarta – Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), secara terbuka menyatakan dukungannya agar kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dapat berlanjut hingga dua periode.
Jokowi menegaskan, sejak awal dirinya telah memberikan arahan kepada basis relawan untuk mengawal pemerintahan Prabowo–Gibran agar berjalan optimal selama dua periode atau sepuluh tahun masa kepemimpinan.
Pernyataan tersebut kembali ditegaskan Jokowi dalam sejumlah pertemuan, baik formal maupun nonformal, bersama organisasi relawan pada awal tahun 2026.
Menurut Jokowi, dukungan tersebut dilandasi keinginannya agar berbagai program strategis nasional yang telah dirintis pada masa pemerintahannya, seperti pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan hilirisasi industri, dapat dituntaskan.
Selain itu, ia juga berharap program-program baru di era Prabowo, seperti program Gentengisasi nasional dan makan siang bergizi, dapat berjalan berkelanjutan tanpa terhambat oleh pergantian kepemimpinan yang terlalu cepat.
Baca juga: Dedi Mulyadi Umrahkan Guru Ngaji yang Viral Puasa karena Tak Punya Uang
Melansir Tribunnews.com, Pernyataan dukungan Presiden ke-7 RI Joko Widodo tersebut mendapat tanggapan dari pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga.
Ia menilai, pernyataan Jokowi itu merupakan sinyal politik yang ditujukan untuk menekan Presiden Prabowo Subianto agar tetap berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mendatang.
Jamiluddin menyebut, langkah Jokowi yang menyatakan mendukung Prabowo-Gibran dua periode merupakan upaya mendahului partai-partai koalisi.
"Jokowi tampaknya ingin mendahului partai koalisi dalam hal mengusung Prabowo-Gibran pada Pilpres 2029. Padahal partai lain, seperti PKB, hanya menegaskan akan mengusung kembali Prabowo tanpa menyebut Gibran," kata Jamiluddin kepada wartawan, Kamis (5/2/2026).
Ia juga menyoroti aspirasi dari kader Partai Gerindra yang sebelumnya meminta Prabowo bersedia dicalonkan kembali.
Serupa dengan PKB, usulan tersebut hanya fokus pada sosok Prabowo tanpa menyertakan nama pendamping.
Menurut Jamiluddin, kondisi inilah yang kemungkinan mendorong Jokowi untuk bergerak lebih cepat dibandingkan partai politik lain.
"Mungkin hal itu yang menyebabkan Jokowi coba mendahului partai lain. Dengan begitu, Jokowi berharap ketua partai lain yang masih loyalisnya, akan mengikutinya," ujarnya.
Lebih lanjut, Jamiluddin menganalisis bahwa manuver ini bertujuan untuk menekan Prabowo baik secara psikologis maupun politis.
Jokowi dinilai ingin menciptakan situasi di mana Prabowo merasa "serba salah" jika harus menolak Gibran sebagai calon wakil presidennya di masa depan.
"Jadi, Jokowi coba menekan Prabowo secara psikologis dan politis untuk menerima Gibran jadi cawapresnya pada Pilpres 2029. Dengan begitu, Prabowo coba dikunci untuk tidak punya pilihan lain selain Gibran," tuturnya.
Jamiluddin menambahkan, motif utama di balik langkah Jokowi yang terkesan "ngebet" ini adalah demi kelangsungan karier politik putra sulungnya.
Sebab, tanpa berpasangan dengan Prabowo, posisi tawar Gibran untuk kembali menduduki kursi RI-2 dinilai cukup lemah.
"Jokowi hanya berharap Gibran akan tetap bisa menjadi Wapres bila berpasangan dengan Prabowo. Kiranya itulah motif Jokowi terkesan ngebet menjadikan Prabowo-Gibran dua periode," ungkapnya.
Sebelumnya, Jokowi menegaskan mendukung dua periode kepemimpinan Prabowo-Gibran.
Hal itu ditegaskan Jokowi saat dimintai pendapat mengenai peluang Gibran menjadi calon presiden pada Pemilu berikutnya.
“Kan sudah saya sampaikan, Prabowo-Gibran dua periode,” ungkap Jokowi saat ditemui Tribun Solo di kediamannya di Solo, Jawa Tengah, Jumat (30/1/2026).
Adapun wacana ini mencuat setelah Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Ahmad Ali melontarkan pernyataan sulit menemukan calon presiden yang lebih baik daripada Gibran dalam siniar Gaspol Kompas.com.
“(Gibran) Bisa menjadi kompetitor. Kompetitor yang cukup kuat menurut saya,” kata Ahmad Ali dalam Gaspol yang tayang pada Kamis (22/1/2026).
“Kalau saya sih sederhana saja, emang ada calon presiden lebih baik dari pada Gibran?” lanjutnya.
Ali menilai, Gibran memiliki modal politik yang tidak dimiliki banyak tokoh seusianya.