BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Waktu boleh berjalan setengah abad, tetapi ingatan dan rasa memiliki tak pernah benar-benar menua. Itulah yang terasa dalam Reuni Emas 50 Tahun Angkatan 1976 SMA Santo Yosef Pangkalpinang yang digelar di Sport Center SMA Santo Yosef Pangkalpinang, Kamis (5/2/2026).
Lima puluh tahun setelah pertama kali mengenakan seragam putih abu-abu, para alumni Angkatan 1976 kembali pulang ke sekolah yang telah menempa karakter dan mimpi mereka.
Bukan sekadar temu kangen, reuni ini menjadi ruang perjumpaan lintas generasi, mempertemukan guru, alumni, dan siswa-siswi kelas XII SMA Santo Yosef Pangkalpinang dalam suasana hangat dan penuh makna.
Acara diawali dengan doa bersama dan makan siang bersama, menjadi simbol rasa syukur sekaligus pengikat kebersamaan.
Suasana kemudian mengalir santai melalui pertunjukan musik akustik hingga tari kreasi Mandarin yang ditampilkan oleh para pelajar SMA Santo Yosef Pangkalpinang, menghadirkan harmoni antara masa lalu dan masa kini.
Dalam sambutan mewakili Ketua Yayasan Tunas Karya, Pengawas Yayasan Tunas Karya RD Aloysius Angus mengenang kondisi sekolah pada tahun 1976 yang masih serba sederhana.
"Saya mewakili Yayasan Tunas Karya mengucapkan terima kasih kepada para alumni. Harapan kami, semoga seluruh alumni tetap sehat, panjang umur, dan semakin bahagia," ujarnya.
Kepala SMA Santo Yosef Pangkalpinang, Frans, dalam sambutannya menekankan tiga nilai utama yang menjadi fondasi kehidupan, cinta, keluarga, dan bahagia.
"Bahagia itu lahir dari cinta. Dalam cinta ada merawat dan menjaga. Ketika kita merawat dan menjaga, lahirlah ikatan. Ikatan itu membentuk keluarga, dan keluarga menumbuhkan kebahagiaan," tuturnya.
Menurutnya, keberhasilan para alumni Angkatan 1976 menjadi bukti bahwa pendidikan yang ditanamkan puluhan tahun lalu telah melahirkan pribadi-pribadi tangguh yang hingga kini masih saling terhubung dan peduli satu sama lain.
Suasana semakin hidup saat sesi talkshow dan sharing antara alumni dan siswa-siswi kelas XII. Talkshow inspiratif bertema "Chase Your Dream" diisi oleh para alumni, di antaranya Sentrijanto dan Christine Chung Walker, Hartanto Candra, dan pak guru Bakir.
Mereka berbagi perjalanan hidup, nilai-nilai kerja keras, serta pengalaman meniti kesuksesan di bidang masing-masing, yang tak lepas dari fondasi pendidikan di SMA Santo Yosef.
Momen reuni ini juga menjadi ajang pembuktian cinta alumni kepada almamater. Secara simbolis, Rudi Suwandi dan Sentrijanto menyerahkan "bukti cinta" alumni kepada Kepala SMA Santo Yosef Pangkalpinang.
Bantuan tersebut berupa studio mini (podcast) dan 1 set scoreboard basket multifungsi (full led color), menjadi wujud nyata kepedulian alumni dalam mendukung keberlanjutan dan pengembangan sekolah.
Christine Chung Walker, salah satu alumni yang kini bermukim di Amerika Serikat, mengaku sangat terkesan dengan reuni emas ini.
"Walaupun saya sekarang tinggal di Amerika, setiap pulang ke Indonesia kami selalu berusaha berkumpul. Kami ini kompak sekali," ujarnya saat diwawancarai Bangkapos.com, Kamis (5/2/2026).
Menurut Christine, guru memiliki peran besar dalam membentuk masa depan para murid.
"Orang tua memberi kita kehidupan, guru-guru di sekolah memberi kita jaminan hari depan. Hubungan antara guru dan teman-teman sangat kuat," katanya.
Ia menambahkan, reuni seperti ini membawa kembali kenangan masa SMA yang penuh tawa dan kebersamaan.
"Di kehidupan sekarang, kita sering terlalu menyendiri. Padahal keluarga itu bukan hanya yang sedarah, tapi juga teman dan lingkungan yang menjadi bagian hidup kita," ucapnya.
Para alumni Angkatan 1976 hingga kini masih menjaga silaturahmi melalui grup WhatsApp, saling berbagi kabar dan kenangan. Reuni emas ini menjadi pertemuan besar pertama setelah tujuh tahun lamanya.
Kegiatan ditutup dengan foto bersama guru-guru, alumni, dan siswa-siswi kelas XII, sebuah potret lintas generasi yang merekam bukan hanya wajah, tetapi juga sejarah, nilai, dan cinta yang telah dirawat selama 50 tahun.
Di SMA Santo Yosef Pangkalpinang, reuni emas ini membuktikan satu hal: pendidikan yang baik tak hanya melahirkan prestasi, tetapi juga ikatan kekeluargaan yang bertahan melampaui waktu.
(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)