TRIBUN TIMUR, MAKASSAR - Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr Ir Lucky Caroles, menyampaikan keprihatinan mendalam atas kecelakaan truk kontainer di Kabupaten Pangkep, Sulsel.
Kecelakaan maut terjadi di Jalan Poros Trans Sulawesi Barru–Pangkep, tepatnya di Desa Tamapura, Kecamatan Mandalle, Pangkep, pada Rabu (4/2/2026) malam.
Insiden tragis tersebut menewaskan tiga orang dalam satu keluarga yang berada di dalam sebuah mobil minibus.
Lucky menilai tragedi tersebut harus menjadi peringatan keras bagi semua pihak.
Utamanya dalam sistem keselamatan transportasi dan pengawasan angkutan barang di jalan nasional.
“Kehilangan nyawa dalam peristiwa seperti ini tentu sangat menyakitkan,” tutur Lucky, pengamat transportasi Unhas ini, Kamis (5/2/2026).
Menurutnya, kecelakaan yang terjadi di ruas jalan nasional di Pangkep tersebut tidak bisa dilihat sebagai peristiwa tunggal.
Baca juga: Pengemudi Truk Masih 19 Tahun, Kecelakaan Maut di Pangkep Masih Diselidiki
Sebaliknya, insiden yang berulang justru menunjukkan adanya persoalan mendasar yang belum dibenahi secara serius.
“Kalau kejadian seperti ini sudah sering terjadi, berarti ada warning yang sangat jelas. Ada hal yang perlu kita perbaiki,” ujarnya.
Lucky menjelaskan, dari perspektif keselamatan transportasi, terdapat sejumlah faktor yang harus dievaluasi secara menyeluruh.
Pertama adalah kelayakan kendaraan truk kontainer, termasuk apakah sudah memenuhi standar operasional dan tidak masuk kategori over dimension over loading (ODOL).
“Kita perlu melihat apakah kendaraan kontainer itu sudah memenuhi standar kelayakan, baik dari ukuran maupun muatannya. ODOL ini sudah lama jadi persoalan, tapi masih terus terjadi,” jelasnya.
Faktor kedua adalah kelayakan infrastruktur jalan.
Ia mempertanyakan kondisi fisik ruas jalan yang dilalui, mulai dari kualitas permukaan, potensi penurunan atau kerusakan jalan, hingga desain jalan yang dinilai belum sepenuhnya aman untuk kendaraan berat.
“Jalur di Pangkep ini adalah jalan nasional. Tapi kita tahu, masih ada ruas yang tidak memiliki median, padahal untuk kecepatan tinggi itu wajib ada median. Tanpa median, risikonya sangat besar,” kata Lucky.
Selain itu, ia juga menyoroti minimnya penerangan jalan.
Menurutnya, kondisi jalan yang gelap, ditambah cuaca hujan seperti yang terjadi selama ini, sangat mempengaruhi jarak pandang pengendara dan meningkatkan risiko kecelakaan.
Faktor ketiga, lanjut Lucky, adalah kesiapan kendaraan dan aspek manusia.
Ia menegaskan kelayakan kendaraan bukan hanya soal bisa berjalan, tetapi juga memastikan seluruh perangkat keselamatan berfungsi dengan baik.
Mulai dari kondisi ban, tekanan udara, hingga lampu kendaraan.
Sementara dari sisi pengemudi, Lucky menilai kemampuan berkendara tidak cukup hanya dengan bisa mengemudikan kendaraan.
“Bisa bawa mobil itu beda dengan bisa berkendara. Berkendara artinya memahami aturan lalu lintas, punya lisensi, dan yang paling penting stabil secara emosional,” tegasnya.
Ia mengingatkan sikap ugal-ugalan, merasa menguasai jalan, atau enggan memberi ruang bagi kendaraan lain kerap menjadi pemicu kecelakaan, baik dari pihak sopir truk maupun pengendara lain.
Menanggapi maraknya truk bermuatan berlebih dan lemahnya fungsi jembatan timbang, Lucky tak menampik dibutuhkan peran Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Sulsel.
Ia mengakui pengawasan angkutan barang belum berjalan optimal.
“Fungsi jembatan timbang itu sangat penting untuk memastikan muatan kendaraan tidak melebihi kapasitas jalan,” ujarnya.
Tapi faktanya, sekarang jembatan timbang tidak seefektif dulu karena volume kendaraan sudah jauh lebih banyak.
Ia mencontohkan jembatan timbang di sekitar Maros yang seharusnya menjadi titik kontrol utama kendaraan logistik.
Menurutnya, sistem pengawasan konvensional sudah tidak lagi memadai dan perlu ditopang teknologi.
“Sekarang kita sudah punya teknologi sensor, kamera dengan artificial intelligence (AI) dan timbangan dinamis. Kendaraan tidak perlu berhenti lama, cukup melintas dengan kecepatan tertentu, semua bisa terdeteksi—dimensi, kecepatan, hingga beban,” jelas Lucky.
Ia juga mengusulkan agar pengawasan dimulai sejak kendaraan masih berada di pool atau gudang milik operator angkutan.
Data kendaraan dan muatan, kata dia, seharusnya sudah terintegrasi sebelum truk turun ke jalan.
Dalam konteks ini, Lucky menegaskan perlunya peran nyata BPTD Sulsel dalam pengawasan dan koordinasi lintas sektor.
Meski demikian, ia mengingatkan agar tragedi ini tidak berhenti pada wacana evaluasi semata.
“Kalau sudah ada korban jiwa, jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi. Nyawa manusia tidak bisa dianggap sepele. Bayangkan kalau itu keluarga kita sendiri,” ucapnya.
Selain pengawasan kendaraan, Lucky juga menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin bagi sopir truk, baik secara jasmani maupun rohani.
Ia membandingkan profesi sopir angkutan berat dengan pilot pesawat, masinis kereta api, hingga awak kapal yang secara berkala wajib menjalani pemeriksaan kesehatan.
“Yang membawa kendaraan berat itu harus benar-benar siap. Sehat orangnya, sehat juga kendaraannya,” katanya.
Sebagai solusi, Lucky mendorong penerapan teknologi secara masif untuk mengendalikan ODOL, penguatan fungsi pengawasan di jalan, serta pembenahan infrastruktur dan regulasi secara konsisten.
“Kita sudah tidak punya pilihan. Mau tidak mau, suka tidak suka, teknologi harus digunakan. Ini soal keselamatan, dan jangan sampai ada korban berikutnya,” pungkasnya.
Sebelumnya, kecelakaan maut terjadi di jalan poros Trans Sulawesi Barru-Pangkep, tepatnya di Desa Tamapura, Mandalle, Sulawesi Selatan, Rabu (4/2/2026) malam.
Insiden tragis itu menewaskan tiga orang dalam satu keluarga yang berada di dalam sebuah mobil minibus.
Dalam rekaman yang beredar di media sosial, sebuah truk kontainer tua yang melaju dari arah Makassar terguling dan menimpa sebuah mobil di jalur Trans Makassar–Parepare.
Insiden nahas tersebut terjadi saat kondisi jalan diguyur hujan deras
Insiden truk kontainer terguling ini tercatat sebagai kejadian kedua dalam dua pekan terakhir di ruas jalan yang sama.
Sepanjang tahun 2025, setidaknya lima kecelakaan serupa dilaporkan terjadi di jalur tersebut.
Kecelakaan di Kilometer 76 Makassar–Parepare ini disebut sebagai yang paling tragis dan mengenaskan
Hingga Kamis (5/2/2026) dini hari, jumlah korban meninggal dunia tercatat tiga orang.
Korban tewas yakni MA (35) selaku pengemudi mobil sekaligus kepala keluarga.
Dua korban lainnya merupakan anak-anak berinisial NA (7) dan PS (5).
Sementara itu, M (30) selaku ibu korban serta seorang bayi dilaporkan selamat dengan kondisi luka berat
Kanit Gakkum Satlantas Polres Pangkep, Ipda Fadlan, menyatakan kendaraan yang terlibat kecelakaan adalah dump truk dan mobil Honda Brio.
Kedua kendaraan diketahui melaju di jalur Makassar–Parepare sebelum truk menabrak separator median jalan dan terguling.
Hingga pukul 02.30 dini hari, warga sekitar bersama pengendara lain masih melakukan upaya evakuasi korban.
Sopir dan awak truk kontainer dilaporkan mengalami luka-luka akibat insiden tersebut.
Aparat kepolisian dari Polsek setempat tiba di lokasi sekira 15 menit setelah kecelakaan terjadi.
Lokasi kejadian berada tepat di depan Puskesmas dan Kantor Camat Mandalle, sekira 78 kilometer utara Makassar.
Minibus Toyota Agya dengan nomor polisi DC 1471 GT yang ditumpangi lima orang asal Mamuju, Sulawesi Barat, ringsek setelah tertimpa sebuah truk kontainer bermuatan beras.
Truk kontainer bernomor polisi DP 8904 AP tersebut melaju dari arah Parepare menuju Kota Makassar, dikemudikan seorang pemuda berinisial MAR (19), warga Kabupaten Takalar.
Kanit Gakkum Satlantas Polres Pangkep, Ipda Fadlan, mengatakan akibat kecelakaan itu tiga penumpang minibus dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian.
Korban berinisial MA (35), pengemudi minibus sekaligus ayah dalam keluarga tersebut, serta dua anaknya NA (7) dan PS (5).
“Sementara itu, istri korban berinisial M (30) serta seorang bayi mengalami luka-luka dan langsung dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat,” bebernya.
Ia menjelaskan, kecelakaan bermula saat truk kontainer bergerak dari arah utara ke selatan di lajur kanan
Saat melintas di lokasi kejadian, truk berusaha menghindari sebuah kendaraan yang sedang parkir di badan jalan sebelah kiri.
Sementara itu, mobil Toyota Agya yang dikemudikan MA berpindah lajur ke kanan untuk mendahului kendaraan tersebut.
Diduga karena jarak yang sudah terlalu dekat, pengemudi truk membanting setir ke kanan untuk menghindari tabrakan,” katanya.
Namun, truk justru menabrak median jalan dan kehilangan kendali.
Truk kontainer tersebut kemudian terguling ke sisi kiri dan menimpa mobil Toyota Agya yang berada tepat di sampingnya.
“Benturan keras membuat mobil minibus ringsek parah dan menyebabkan para penumpangnya terjepit di dalam kendaraan,” terangnya.(*)