Pertumbuhan Ekonomi Sulut 2025 Tumbuh 5,95 Persen, Akademisi Unima Soroti Dampak ke Masyarakat
February 05, 2026 10:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara (Sulut) mencatat pertumbuhan ekonomi Sulut pada 2025 mencapai 5,95 persen year on year (YoY), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen.

Kepala BPS Sulut Agus Sudibyo, menyampaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulut atas dasar harga konstan meningkat dari Rp 28,79 triliun menjadi Rp 30,50 triliun sepanjang 2025.

“Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Sulut di kuartal IV tumbuh 5,66 persen, sementara secara quarter to quarter mencapai 7,02 persen. Angka ini sangat impresif,” ujar Agus saat rilis indikator ekonomi Sulut di Kantor BPS Sulut, Kamis (5/2/2026).

BPS Sulut beralamat di Jalan 17 Agustus Nomor 7, Teling Atas, Kecamatan Wanea, Kota Manado, Sulut.

Menanggapi capaian tersebut, Akademisi Universitas Negeri Manado (Unima), Robert Winerungan, menilai pertumbuhan ekonomi Sulut yang berada di atas nasional bukan hal baru dan menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir.

“Pada 2024 pertumbuhan ekonomi Sulut sebesar 5,39 persen, lebih tinggi dari nasional 5,03 persen. Tahun 2025 nasional 5,11 persen, sementara Sulut mencapai 5,95 persen,” kata Robert saat dihubungi Tribun Manado via telepon, Kamis (5/2/2026) malam.

Ia menjelaskan, dengan nilai PDRB Sulut yang relatif kecil, pertumbuhan ekonomi daerah ini dapat terdongkrak signifikan meski hanya mendapat dorongan dari beberapa sektor utama.

Robert menduga, pertumbuhan ekonomi Sulut pada 2025 lebih banyak didorong dari sisi permintaan, terutama kinerja ekspor. 

Sementara itu, kontribusi belanja pemerintah dinilai relatif terbatas akibat kebijakan efisiensi, dan konsumsi rumah tangga tidak mengalami peningkatan signifikan.

“Belanja pemerintah relatif kecil, konsumsi ada tetapi tidak besar. Karena itu, besar kemungkinan pertumbuhan ini ditopang oleh ekspor,” ujarnya.

Meski demikian, Robert mengingatkan agar pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut tidak hanya menjadi angka statistik, tetapi juga berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.

“Kalau pertumbuhan tinggi tetapi hanya dinikmati kelompok berpendapatan atas, maka ketimpangan pendapatan akan semakin melebar,” katanya.

Ia menegaskan, pertumbuhan ekonomi yang ideal harus sejalan dengan penurunan tingkat kemiskinan dan pengangguran di Sulawesi Utara.

“Pertumbuhan ekonomi tidak ada artinya jika kemiskinan dan pengangguran justru meningkat,” tegas Robert Winerungan.

(TribunManado.co.id/Pet)

WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.