TRIBUNPRIANGAN.COM - Pencarian korban longsor Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat akan memasuki hari ke-14 atau hari terakhir perpanjangan pencarian, Jumat (6/2/2026). Apakah akan diperpanjang kembali atau dihentikan, Basarnas akan memutuskan besok.
Dari sekelumit cerita tragis ada kisah cukup heroik yang dilakukan Asep Koswara atau yang akrab disapa Ayah Asep yang menyelamatkan seorang korban selamat dua pekan lalu.
Ayah Asep (50) dari SAR Pasundan Jabar, datang di hari pertama longsor pada Sabtu (24/1/2026) pukul 06.00 WIB. Ia diminta bantuan oleh Basarnas untuk datang lebih awal sebelum tim bantuan datang yang sedang dalam perjalanan. Ayah Asep melihat hamparan tanah lumpur yang masih basah dan bergerak pagi itu setelah longsor menenggelamkan kampung Pasirlangu. Dua ekor sapi yang setengah tubuhnya terkubur menjadi pemandangan pertama yang ia lihat di lokasi.
"Saat melihat dua ekor sapi tersebut, sayup terdengar dari kejauhan ada suara minta tolong dan memberikan teriakan seperti mengabarkan lokasi, dalam bahasa Sunda teriakan itu lama-lama terdengar jelas, Ieu! ieu! Ieuu! didieuu!," ujar Ayah Asep mengutip teriakan korban saat itu.
Tak hanya teriakan yang ia dengar, matanya juga tertuju pada tangan yang melambai dari lumpur yang masih basah. Jaraknya sekitar 300 meter dari tempat ia berdiri. Tak menunggu lama, Ayah Asep mengambil handphone dan langsung mengambil gambar tangan tersebut. Ia melakukan pembesaran zoom pada kameranya untuk memastikan penglihatannya.
"Benar ada orang yang masih selamat dan berteriak sambil melambaikan tangannya," ujar Ayah Asep.
Ayah Asep lantas berpikir sejenak untuk menolong korban tersebut. Pagi itu lumpur bercampur air masih bergerak, ia tak mungkin untuk langsung menuju korban tersebut. Lantas ia meminta bantuan warga agar menunjukkan jalan untuk menuju korban yang melambai tangan tersebut.
"Posisinya lebih atas dari tempat saya berdiri, terlihat namun jaraknya sekitar 300 meter dan tak mungkin saya menerjang lumpur tersebut," ujar Ayah Asep.
Warga pun ada yang tahu jalan memutar untuk mendekati korban tersebut. Tak pikir panjang, Ayah Asep pun langung minta diantar warga tersebut karena tak tahu jalan.
Dengan tergesa setengah berlali Ayah Asep tiba di lokasi dan melihat korban yang berjuang memaksakan diri merangkak di antara lumpur yang sudah mengubur tubuhnya. Korban tersebut belakangan diketahui bernama Abah Lili (60), penjaga tiket wisata Mentari yang dikelola Perhutani. Saat kejadian longsor, Abah Lili menginap di warung yang ia buka tak jauh dari lokasi tiket. Warungnya hilang namun ia berjuang menghindari terjangan lumpur hingga ia tetap berada tak jauh dari permukaan tanah.
Abah Lili hampir 4 jam merangkak berguling untuk menuju permukaan tanah hingga engsel kakinya bergeser. Tak menyerah meski engsel kaki bergeser Abah Lili terus merangkak hingga dilihat Ayah Asep di pagi hari.
"Saya tak mengira itu Abah Lili karena tubuh dan wajahnya sudah tertutup oleh lumpur," kata Ayah Asep.
Melihat Abah Lili yang selamat dan sadar namun kondisi tubuh yang sudah lemas, Ayah Asep langsung mengevakuasi ke puskesmas dan pihak puskemas langsung merujuknya ke Rumah Sakit Hasan Sadikin. Ayah Asep baru mengetahui itu Abah Lili setelah dievakuasi ke rumah sakit dan melihat wajahnya dengan jelas. Abah Lili menuturkan jika ia terus berteriak minta tolong sejak subuh namun terhalang oleh suara air hujan dan lumpur yang terus bergerak sehingga suaranya tak begitu jelas terdengar.
13 hari berlalu dan pencarian korban masih berlangsung, Ayah Asep mendengar Abah Lili sudah kembali ke rumahnya. Ia lantar menyempatkan kembali menjenguk Abah Lili, Kamis (5/2/2026). Ayah Asep turut senang karena Abah Lili sudah sehat seperti sedia kala meski engsel kakinya sempat bergeser. Ayah Asep menjenguk ditemani Perwakilan FPHJ, FPLH Paguyuban LMDH, KRPH Bursel, Polter Bursel Perhutani KPH BDU.
Belakangan diketahu Abah Lili juga sebagai Ketua LMDH Sinar Burangrang.
Abah Lili pun bercerita jika selama 4 jam ia berjuang merangkak di lumpur dan menghindari bebatuan. Cerita pilu yang membuat hening suasana sore kemarin.
Sementara di hari pencarian yang memasuki hari ketiga belas, tim pencarian mendapatkan kembali satu jenazah.
Ayah Asep mengatakan hingga saat ini belum bisa dipastikan berapa yang belum ditemukan. Dari data sementara yang ia dapat dari Basarnas korban warga lokal 84 yang terdata, dari marinir 23 jiwa jadi total 107 jiwa.
"Namun ternyata yang sudah terevakuasi sudah 120 bodypack hingga hari ini," ujarnya.
Ayah Asep menduga selain warga lokal kemungkinan juga ada warga luar kampung yang sedang bertamu ke warga Pasirlangu tersebut.
Ayah Asep juga belum bisa memastikan apakah Basarnas akan melanjutkan pencarian atau menghentikannya besok.
Pengurus Paguyuban LMDH Jabar yang diwakili oleh Thio Setiowekti menjenguk Bah Lili bersama Poppy Noeraeni FPHJ, Oo Sukmana KRPH Bursel Sofyan Polter Bursel Perhutani BDU & Ayah Asep SAR Pasundan dirumahnya di Kampung Babakan RT 05/RW 11 Desa Pasirlangu Cisarua KBB.
Thio Setiowekti selaku pengurus Paguyuban LMDH Jabar berharap Abah Lili bisa melepaskan diri dari trauma dan berkegiatan normal kembali sebagai ketua LMDH Sinar Burangrang.
"Kami ke sini memberi semangat dan menguatkan hati Abah Lili sebagai Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan Sinar Burangrang agar tidak trauma dan dapat berkegiatan normal kembali di kawasan hutan," katanya.(*)