BPOM Ingatkan Soal Regulasi Ketat untuk Pengembangan Jamu Nasional
February 06, 2026 02:38 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar menegaskan pentingnya standar keamanan dan regulasi ketat dalam pengembangan jamu nasional.

Menurutnya, jamu bukan sekadar minuman tradisional, melainkan warisan pengetahuan dan kekayaan biodiversitas yang menyimpan potensi besar bagi kesehatan masyarakat.

Indonesia memiliki sekitar 18.000 jenis jamu dan lebih dari 600.000 kuliner tradisional.

Peluang besar itu, kata Taruna, hanya bisa diwujudkan dengan pendekatan ilmiah dan kepatuhan regulatori.

“Kepercayaan publik terhadap jamu Indonesia dibangun dari kepastian standar, bukan semata klaim,” ujarnya dalam peresmian Cafe Jamu Indonesia di Jakarta, Kamis (5/2/2026). 

Peresmian tersebut menjadi momentum untuk menegaskan kembali pentingnya regulasi dalam pengembangan jamu di era modern.

Taruna menekankan, inovasi berbasis bahan alam harus tetap mengedepankan keamanan dan mutu.

Ia juga menegaskan komitmen BPOM memberantas peredaran jamu ilegal, termasuk produk tanpa izin edar atau yang mengandung bahan kimia berbahaya.

Saat ini lebih dari 7.000 produk jamu telah mengantongi izin edar resmi. Nilai pasar domestik mencapai Rp20 triliun dengan potensi ekspor sekitar Rp16 triliun.
 
Sementara itu, pasar herbal global tumbuh pesat hingga USD 174,89 miliar pada 2023 dengan proyeksi pertumbuhan 7,5 persen per tahun.

Bagi Taruna, melindungi masyarakat adalah prasyarat mutlak agar jamu bisa berkembang sehat dan dipercaya. Ia menekankan bahwa pengembangan jamu harus dilakukan secara bertanggung jawab dengan mengutamakan standar yang jelas. 

Sebagai contoh, ia rutin mengonsumsi jamu jahe setiap pagi, sebuah tradisi yang menurutnya patut diwariskan dengan pendekatan sesuai zaman.

Baca juga: Warga Kaget saat Berobat BPJS PBI Dinonaktifkan, Pasien Gagal Ginjal Tak Bisa Cuci Darah Rutinan

Dalam kebijakan, Taruna mendorong transformasi jamu melalui kolaborasi akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah. Riset, kata dia, tidak boleh berhenti di jurnal, melainkan harus menghasilkan produk yang terstandar. 

Hilirisasi riset menjadi agenda penting untuk membawa jamu dari pengetahuan tradisional menuju produk modern yang berdaya saing, dengan memanfaatkan kekayaan sekitar 30.000 spesies tanaman herbal Indonesia.

Integrasi jamu ke sistem kesehatan nasional juga menjadi agenda ke depan. Taruna mencontohkan praktik China dengan Traditional Chinese Medicine dan India dengan Ayurveda. 

Indonesia, menurutnya, masih perlu memperkuat regulasi dan riset agar jamu dapat menembus pasar global tanpa kehilangan identitas budaya.

Sebagai pelaku usaha, Jony Yuwono, Founder & Director PT Acaraki Nusantara Persada, menilai pengembangan jamu perlu pendekatan yang relevan dengan masyarakat masa kini. 

Ia menekankan pentingnya menghadirkan jamu dalam keseharian generasi muda agar tradisi tetap berlanjut di tengah perubahan zaman.

Dalam kerangka tersebut, jamu dipandang bukan hanya sebagai produk kesehatan, tetapi juga sebagai duta budaya sekaligus bagian dari ekonomi kreatif Indonesia. 

Dengan regulasi ketat dan dukungan riset ilmiah, jamu berpotensi menjadi bagian penting sistem kesehatan sekaligus menjaga warisan budaya bangsa.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.