TRIBUNPRIANGAN.COM – Tribuners, orang yang cinta kepada Allah SWT ditandai dengan ketaatan mutlak, meneladani Rasulullah SAW, serta kerinduan ibadah.
Ciri utamanya meliputi menaati perintah-Nya, mencintai Al-Quran, selalu berzikir, rida atas ketetapan-Nya, dan mendahulukan cinta Allah di atas segalanya.
Berbicara perihal Jumat ini, tepatnya di hari Jumat tanggal 6 Februari 2026, kita selaku laki-laki beragama muslim akan melaksanakan ibadah Salat Jumat.
Hari Jumat yang merupakan Sayyidul Ayyam atau Penghulunya Hari pun diyakini oleh kaum muslimin sebagai hari yang penuh keberkahan.
Khusus untuk khutbah pada Jumat ini, berikut merupakan naskah khutbah Jumat yang sudah TribunPriangan.com lansir dari berbagai sumber 6 Februari 2026 bertemakan "5 Ciri Orang yang Cinta kepada Allah SWT".
Baca juga: Teks Khutbah Jumat 6 Februari 2026: Menyongsong Ramadan dengan Hati Bersih Bebas Dendam & Dengki
Khutbah 1
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى
فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Baca juga: Teks Khutbah Jumat 6 Februari 2026 Resmi Kemenag: Berburu Ampunan, Rahmat, dan Surga di Bulan Puasa
Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.” (QS. Al-Maidah: 35)
Mendekatkan diri kepada Allah, bertakwa, dan mencintai Allah Ta’ala adalah pondasi utama agama Islam.
Dengan sempurnanya kecintaan seorang hamba kepada Allah, maka sempurna pula keimanannya.
Dan dengan berkurangnya rasa cinta seorang hamba kepada Allah Ta’ala, maka berkurang juga kadar tauhid dan keimanan dari diri seorang hamba.
Kecintaan ini hukumnya wajib menurut kesepakatan seluruh kaum muslimin.
Seorang hamba dituntut untuk mengusahakan setiap hal yang akan mengantarkannya menuju rasa cinta kepada Allah Ta’ala sehingga nantinya imannya menjadi sempurna.
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 30 Januari 2026: Persiapkan Diri untuk Berlomba dalam Kebaikan Selama Ramadhan
Jemaah Jumat yang senantiasa dalam rahmat Allah Ta’ala.
Sesungguhnya, kecintaan kita kepada Allah ini layaknya pohon yang tumbuh dengan subur.
Akarnya kuat dan ranting-rantingnya menjulang tinggi ke langit.
Tanda-tanda kecintaan ini akan nampak di hati dan anggota badan pemiliknya, layaknya sebuah pohon yang buahnya berlimpah menandakan bahwa pohon tersebut tumbuh dengan baik dan subur.
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 30 Januari 2026: Marhaban Ya Ramadhan, Bulan Sarat Pengampunan dan Rahmat
Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.
Berikut ini adalah beberapa ciri yang membuktikan kejujuran cinta kita kepada Allah Ta’ala. Ciri-ciri yang sudah seharusnya dimiliki oleh setiap muslim yang mengaku cinta kepada Tuhan-Nya, Allah Ta’ala.
Yang pertama: Hamba yang mencintai Allah Ta’ala karena sibuknya ia dengan beribadah dan bermunajat kepada Allah Ta’ala serta membaca kitab-Nya. Ia akan terlupa dari selain Allah Ta’ala. Beribadah kepada Allah menjadi penyejuk hati dan penggembiranya sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
حُبِّبَ إِلِيَّ مِنْ دُنْيَاكُمُ النِّسَاءُ وَالطِّيبُ وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ
Artinya: “Dijadikan kecintaan pada diriku dari dunia kalian (yaitu) wanita-wanita (istri-istri beliau) dan wewangian. Dan dijadikanlah penyejuk hatiku dalam salat.” (HR. An-Nasa’i no. 3939, Ahmad no. 14069 dan Baihaqi no. 13836)
Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Al-Waabil As-Sayyib menjelaskan,
“Siapa yang hatinya menjadi sejuk karena melaksanakan salat di dunia, di akhirat kelak hatinya akan bahagia dan sejuk karena kedekatannya dengan Allah Ta’ala, bahkan di dunia pun hatinya akan menjadi lebih nyaman dan tentram. Siapa yang senang dan bahagia dengan beribadah kepada Allah Ta’ala, maka hatinya akan menjadi tenang. Dan siapa yang hatinya tidak senang dan bahagia dengan Allah Ta’ala, maka di dunia ini hatinya akan senantiasa dipenuhi kesedihan dan patah hati.”
Yang kedua: Sabar di atas ketaatan dan saat menghadapi kesulitan.
Allah Ta’ala berfirman,
وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ
Artinya: “Dan karena Tuhanmu, bersabarlah.” (QS. Al-Muddassir: 7)
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 30 Januari 2026: 6 Cara Memperbaiki Kualitas Keimanan Jelang Ramadan
Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.
Banyak dari kita yang mengaku mencintai Allah Ta’ala, padahal kecintaannya itu adalah kecintaan yang palsu. Betapa banyak dari kita yang tidak bisa bersabar saat ditimpa sebuah ujian dan musibah, padahal kesabaran merupakan pembuktian cinta yang paling besar. Allah Ta’ala mengisahkan Nabi Ayyub ‘alaihissalam saat ia diberi ujian oleh Allah Ta’ala,
إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ
Artinya: “Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).” (QS. Sad: 44)
Imam Al-Halimi rahimahullah mengatakan,
مَنْ أَحَبَّ اللهَ تَعَالَى لَمْ يُعِدَّ المَصَائِبَ الَّتِي يَقْضِيهَا عَلَيْهِ إِسَاءَةً مِنْهُ إِلَيْهِ، وَلَمْ يَسْتَثْقِلْ وَظَائِفَ عِبَادَتِهِ وَتَكَالِيفَهُ المَكْتُوبَةَ عَلَيْهِ
Artinya: “Barangsiapa mencintai Allah Yang Mahatinggi, ia tidak akan lagi menganggap bencana yang menimpanya sebagai bentuk penghinaan-Nya atas dirinya. Ia juga tidak menganggap berat kewajiban ibadah dan beban tanggung jawab yang Allah tuliskan kepada-Nya.”
Yang ketiga: Orang yang jujur di dalam cintanya kepada Allah Ta’ala, saat ia mengingat dan berzikir kepada Allah dalam kesendirian, hatinya menjadi takut dan air matanya pun bercucuran karena rasa takutnya kepada Allah Ta’ala. Mereka layak mendapatkan kasih sayang Allah berupa naungan-Nya di hari kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: (وَمِنْهَا) رَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
Artinya: “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan, kecuali naungan-Nya: (salah satunya) seseorang yang berzikir kepada Allah dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.” (HR. Bukhari no. 6806 dan Muslim no. 1031)
Baca juga: Naskah Singkat Khutbah Jumat 30 Januari 2026: 5 Persiapan Penting Jelang Ramadhan 1447 H
Yang keempat: Mencintai Al-Qur’an sepenuh hati.
Sebagaimana perkataan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,
مَنْ كَانَ يُحِبُّ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ، فَلْيَعْرِضْ نَفْسَهُ عَلَى القُرْآنِ؛ فَإِنْ أَحَبَّ القُرْآنَ فَهُوَ يُحِبُّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّمَا القُرْآنُ كَلَامُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Artinya: “Siapa yang ingin mengetahui apakah ia benar-benar mencintai Allah ‘Azza Wajalla, maka biarkan dirinya di hadapan Al-Qur’an. Jika ia mencintai Al-Qur’an, maka ia juga mencintai Allah Ta’ala, karena sesungguhnya Al-Qur’an merupakan kalamullah.” (AS-Sunnah karya Abdullah bin Ahmad rahimahullah)
أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.
اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.
Ma’asyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala.
Bukti cinta kita kepada Allah Ta’ala yang kelima adalah menyesal jika terluput dan terlewat dari sebuah ketaatan kepada Allah, menyesal apabila kita lupa tidak berzikir kepada Allah Ta’ala, menyesal jika tidak membaca zikir di waktu pagi dan petang.
Bukan hanya menyesal saja, jika kita memang mencintai Allah Ta’ala, kita juga akan berusaha untuk mengganti, mengqada amalan yang kita tinggalkan tersebut secepatnya, sebagaimana hal ini dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Aisyah radhiyallahu ‘anha bercerita,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا عَمِلَ عَمَلاً أَثْبَتَهُ، وَكَانَ إِذَا نَامَ مِنَ اللَّيْلِ أَوْ مَرِضَ؛ صَلَّى مِنَ النَّهَارِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً
Artinya: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika beliau mengerjakan sebuah amalan, maka akan benar-benar serius dan berusaha untuk konsisten melaksanakannya. Jika beliau (mendapati halangan dari melaksanakan salat malam karena) tertidur di sebuah malam atau sakit, maka beliau akan salat di siang harinya 12 rakaat (sebagai pengganti salat malamnya).” (HR. Muslim no. 746)
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 30 Januari 2026: 5 Persiapan Penting Menjelang Ramadhan 1447 Hijriah
Jemaah salat Jumat yang berbahagia.
Bukti cinta kita kepada Allah yang keenam adalah senantiasa mengikuti dan tunduk terhadap syariat Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمْ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Imran: 31)
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,
“Sungguh ayat yang mulia ini membantah setiap orang yang mengaku-ngaku cinta kepada Allah Ta’ala, namun ia tidak di atas jalan dan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sungguh mereka adalah pendusta atas apa yang mereka dakwakan hingga mereka benar-benar mengikuti ajaran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, agama islam ini dalam setiap perkataan dan perbuatan.”
Bukti cinta kita kepada Allah yang terakhir atau kelima adalah zuhud dalam urusan dunia, mencukupkan diri dan tidak berlebihan di dalam urusan duniawi. Setiap kali seorang hamba semakin mencintai Allah Ta’ala, semakin zuhud juga dirinya terhadap perkara duniawi, lebih menyibukkan diri dengan amalan-amalan yang akan menjadi bekalnya di akhirat nanti.
Ketahuilah wahai saudaraku, zuhud kita, rasa cukup kita terhadap perkara duniawi akan membawa dua cinta kepada diri kita, cinta Allah Ta’ala dan cinta manusia. Suatu ketika ada seorang sahabat yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu bertanya,
“Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku sebuah amalan yang apabila aku mengamalkannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala dan manusia akan mencintaiku.”
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab,
ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّوكَ
Artinya: “Bersikaplah zuhud terhadap dunia, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencintaimu. Dan bersikaplah zuhud terhadap apa yang ada pada manusia, niscaya mereka akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah no. 3326)
Ya Allah, ya Mujiba As-Saa’ilin, tuliskanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang senantiasa jujur di dalam mencintai-Mu. Ya Allah, jadikanlah kami salah satu hamba-Mu yang selalu mendapatkan cinta dan rida-Mu.
Aamiin Ya Rabbal Aalamiin.
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 30 Januari 2026 : Amalan-amalan Rasulullah Selama Syaban yang Dapat Dicontoh
Khutbah 2
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. رَبَّنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ