Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON - Saat hujan tak begitu deras dan atap rumah warga masih kering, air justru datang perlahan dari Sungai Cipager.
Luapan sungai itu merendam Perumahan Graha Nuansa Dawuan di Desa Kalibaru, Kecamatan Tengahtani, Kabupaten Cirebon, Kamis (5/2/2026) malam.
Pantauan Tribun di lokasi sekitar pukul 21.00 WIB, genangan air berwarna cokelat keruh menutup hampir seluruh kawasan perumahan.
Ketinggian air bervariasi, mulai dari sekitar 70 sentimeter hingga mencapai 1,5 meter di titik terdekat dengan aliran Sungai Cipager.
Pada malam itu, suasana perumahan tampak sunyi dan mencekam.
Lampu jalan menjadi satu-satunya penerangan, memantulkan cahaya di permukaan air yang tenang.
Tak terlihat kendaraan melintas, hanya suara aliran air dan serangga malam yang terdengar samar.
Air sudah masuk ke halaman hingga teras rumah warga. Sejumlah pagar nyaris tertutup genangan.
Di salah satu rumah, sebuah sepeda motor terparkir di carport dalam kondisi setengah terendam.
Air sudah mencapai roda hingga mendekati mesin, sementara sebuah ember berisi peralatan rumah tangga diletakkan di atas jok motor agar tak ikut terendam.
Seorang warga, Usman (40) mengatakan, banjir kali ini terjadi tanpa hujan di wilayah perumahan.
“Kalau dari sumber yang sudah didapat itu, kita enggak hujan. Genteng aja itu kering, tapi air malah datang. Setiap hujan di atas dari Kuningan, pasti turun ke sini dan kebanjiran,” ujar Usman, saat ditemui di rumahnya, Kamis (5/2/2026) malam.
Ia menjelaskan, air berasal dari Sungai Cipager yang berada tepat di samping perumahan. Menurutnya, kejadian ini bukan yang pertama.
“Ini sudah yang keempat kali. Tahun kemarin tiga kali, ini baru awal Februari sudah empat kali lagi, dengan ketinggian ya segini juga,” ucapnya.
Usman memperkirakan sekitar 120-160 unit rumah terdampak banjir.
Ia juga menyoroti belum adanya kejelasan penanganan dari pihak terkait.
“Saya mau mempertanyakan kejelasan perumahan ini. Pagar depan belakang pernah jebol, tapi dari developer enggak ada kejelasan. Katanya sudah diserahkan ke Pemda, tapi warga juga enggak tahu,” jelas dia.
Hal senada disampaikan warga lainnya, Krisdianto (42).
Ia menyebut, banjir terjadi akibat limpasan Sungai Cipager yang sudah penuh.
“Banjir karena limpasan dari Cipager itu sudah tinggi. Kalinya penuh, jadi limpas ke perumahan. Tanggul enggak jebol,” kata Krisdianto.
Menurutnya, jika permukaan air Sungai Cipager naik, perumahan di sekitarnya hampir pasti terdampak.
"Kalau Cipager sudah tinggi, pasti perumahan kita kebanjiran. Di sini ketinggiannya kurang lebih satu meter lebih,” ujarnya.
Krisdianto menyebut sedikitnya 160 unit rumah terdampak banjir kali ini. Sebagian besar warga memilih mengungsi.
“Sudah pada mengungsi. Biasanya kalau air di Cipager naik, sudah ada info dari dulu,” ucap Krisdianto.
Hingga Tribun meninggalkan lokasi sekitar pukul 23.00 WIB, air masih menggenangi kawasan perumahan.
Sejumlah warga terlihat berkumpul sementara di minimarket depan perumahan, sementara sebagian lainnya memilih bertahan di rumah untuk menjaga perabotan agar tidak rusak atau hanyut.
Baca juga: Jalan Brigjen Darsono Jalur Pantura Cirebon Sempat Banjir, Sejumlah Motor Mogok