12 Tahun Mengabdi, Guru Honorer di Jakarta Barat Terima Gaji Lebih Rendah dari Buruh Cuci
Rr Dewi Kartika H February 06, 2026 01:52 PM

TRIBUNJAKARTA.COM, TAMANSARI - Gaji guru honorer, termasuk di Jakarta ternyata sangat ironis.

Jangankan mencapai upah minimum provinsi (UMP) yang kini di angka Rp 5,73 juta. 

Nyatanya, masih ada guru honorer di Jakarta yang gajinya hanya ratusan ribu, atau lebih rendah dari upah buruh cuci yang di Jakarta biasanya digaji Rp 1 juta-an perbulan.

Salah satu kisah pengabdian nan ironi itu dirasakan oleh seorang guru honorer berinisial MA (43).

Selama 12 tahun mengabdi sebagai guru honorer di sekolah dasar (SD) swasta kecil di Jakarta Barat, MA hanya menerima gaji sekitar Rp 700 ribu per bulan.

Bergantung pada SPP

MA mengatakan, besaran gaji yang diterimanya sangat bergantung pada pembayaran Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) dari orang tua murid yang mayoritas berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah.

“Kalau gaji ya tergantung SPP. Kebetulan sekolah saya itu sekolah anak-anak yang memang secara ekonomi butuh perhatian,” kata MA dikutip Jumat (6/2/2026).

Menurut MA, dari seluruh siswa di sekolah tempatnya mengajar, hanya sekitar 60 persen orang tua yang mampu membayar SPP secara rutin setiap bulan. 

Kondisi tersebut berdampak langsung pada kemampuan sekolah dalam menggaji para guru.

“Tidak semua orang tua bisa membayar penuh. Jadi yang kita terima ya sering kali sesuai SPP yang terkumpul. Kurang lebih sebulan Rp 700 ribu,” ujarnya.

Gaji Kerap Tertunda

Selain mengandalkan SPP, sekolah juga menerima bantuan dari Kartu Jakarta Pintar (KJP) yang memiliki alokasi untuk upah guru. 

Namun, pencairan dana KJP dilakukan setiap tiga bulan sehingga gaji guru kerap tertunda.

“Kalau SPP tidak optimal, ada guru yang tidak dapat gaji bulanan dan harus menunggu pencairan KJP tiga bulan,” jelas MA.

Pulang Ngajar, Jadi Ojol

Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, MA mengaku harus mencari penghasilan tambahan di luar jam mengajar. 

Ia sempat bekerja sebagai pengemudi ojek online dengan fokus pengantaran paket sepulang sekolah.

“Pulang sekolah sekitar jam 11.30 WIB, saya langsung aktifkan aplikasi. Biasanya dapat Rp 60 ribu sampai Rp 70 ribu per hari,” katanya.

Namun, karena desakan ekonomi, MA terpaksa menjual sepeda motornya yang selama ini digunakan untuk bekerja dan mencari penghasilan tambahan.

Malam Jual Nasi Goreng

Selain itu, MA juga membuka usaha kecil berjualan nasi goreng pada malam hari di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan, tempat ia tinggal.

“Sore belanja bahan, malam jualan nasi goreng. Itu untuk tambahan penghasilan saja,” ucapnya.

MA berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap guru honorer dan sekolah swasta kecil yang berada di kawasan permukiman padat penduduk.

Menurutnya, sekolah swasta kecil memiliki peran penting dalam memberikan akses pendidikan bagi anak-anak yang tidak tertampung di sekolah negeri.

“Harapannya ada kesamaan perhatian antara guru negeri dan guru swasta, karena anak-anak yang kami tangani sama dan butuh pendidikan yang layak,” tuturnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.