TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Nama Pontianak bukan sekadar penanda geografis bagi ibu kota Provinsi Kalimantan Barat.
Di balik penamaannya, tersimpan kisah legenda yang telah diwariskan turun-temurun dan masih dipercaya sebagian masyarakat Melayu hingga kini.
Cerita rakyat ini menghubungkan berdirinya Kota Pontianak dengan sosok makhluk halus yang dikenal luas dalam budaya Nusantara, yaitu kuntilanak.
Dalam cerita yang paling populer, pendiri Kesultanan Pontianak, Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, disebut pernah mengalami gangguan makhluk halus ketika mencari lokasi untuk membangun pusat pemerintahan.
Konon, daerah di pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak saat itu dianggap angker dan dihuni oleh sosok kuntilanak.
Untuk mengusir gangguan tersebut, sang sultan memerintahkan penembakan meriam ke arah hutan.
Tempat jatuhnya peluru meriam itulah yang kemudian dipilih sebagai lokasi istana dan masjid pertama, sekaligus menjadi cikal bakal berdirinya Kota Pontianak.
• Tradisi Khas Pontianak: Meriam Karbit, Warisan Budaya Unik Masyarakat Melayu
Dari peristiwa inilah nama “Pontianak” diyakini berasal, yang pelafalannya sangat mirip dengan kata “puntianak” atau “kuntilanak”.
Karena legenda tersebut begitu melekat, Pontianak kerap dijuluki sebagai “Kota Kuntilanak”. Penyebutan ini bukan dimaksudkan secara harfiah, melainkan sebagai bagian dari kekayaan folklor lokal yang membentuk identitas budaya masyarakatnya.
Cerita rakyat tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri, baik dalam aspek sejarah lisan, budaya, maupun pariwisata.
Versi Lain Asal-Usul Nama Pontianak
Selain legenda kuntilanak, terdapat beberapa pendapat lain mengenai asal-muasal nama Pontianak:
1. Berasal dari Nama Pohon Punti
Sebagian sejarawan dan budayawan berpendapat bahwa nama Pontianak mungkin berasal dari kata punti, yaitu sejenis pohon tinggi yang dahulu banyak tumbuh di kawasan tersebut. Hutan di sekitar muara sungai yang lebat bisa saja membuat wilayah itu disebut sebagai daerah yang dipenuhi pohon punti.
2. Istilah “Pintu Anak Sungai”
Ada pula yang mengaitkan nama Pontianak dengan istilah “pintu anak sungai”, mengingat letaknya berada di pertemuan dua sungai besar. Dalam perspektif geografis dan perdagangan masa lampau, wilayah ini memang menjadi jalur strategis lalu lintas air. Sebutan tersebut lambat laun diduga berubah pelafalannya menjadi Pontianak.
3. Pengaruh Istilah Asing
Pendapat lain menyebutkan kemungkinan adanya pengaruh bahasa asing, seperti kata yang merujuk pada tempat persinggahan atau perhentian kapal dagang. Mengingat Pontianak sejak dulu merupakan wilayah perdagangan penting, teori ini juga dinilai masuk akal oleh sejumlah peneliti sejarah.
• Waktu Terbaik Mandi Sunnah Hari Jumat, Dianjurkan Bagi Yang Hendak Jumatan
Kepercayaan terhadap sosok kuntilanak atau pontianak tidak hanya ditemukan di Indonesia, tetapi juga di Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.
Dalam tradisi Melayu, makhluk ini digambarkan sebagai arwah perempuan yang meninggal saat melahirkan, dan sering dikaitkan dengan sosok langsuir. Kesamaan cerita ini menunjukkan adanya akar budaya yang sama di kawasan Melayu.
Dengan demikian, hubungan antara kuntilanak dan Kota Pontianak lebih bersifat mitologis dan kultural daripada historis ilmiah.
Namun, justru dari kisah inilah lahir warna tersendiri yang memperkaya sejarah dan identitas Kota Pontianak hingga dikenal luas seperti sekarang.