TRIBUN-BALI.COM - Komisaris Telkom, Rizal Mallaranggeng, menjelaskan bahwa dari 1.000 lebih BUMN di Indonesia, hampir setengahnya masih merugi.
"Saya mengutip kata Pak Presiden Prabowo, bahwa setengah BUMN merugi," katanya di Denpasar, 6 Februari 2026.
Sehingga untuk meminimalisir kerugian keuangan negara, ada ide untuk menciutkan atau mengecilkan BUMN di Indonesia dari 1.000 lebih menjadi 300an.
"Kata Bapak Presiden ke depan harus dikecilkan BUMN ini, karena yang paling penting swasta yang harus berkembang, pemerintah kan memberikan booster saja, dan menciptakan regulasi yang sehat, friendly dan terbuka," sebutnya.
Sebab kerugian BUMN ini tentu membebani perekonomian Indonesia secara general, apalagi BUMN diharapkan mendatangkan untung bukan rugi ke negara.
Baca juga: 2 MENTERI Turun Tangan Ikut Ambil Sampah di Pantai Bali, Koster Minta Pemkab & Pemkot Bentuk Satgas!
Baca juga: MALING Gasak 15 Ayam Jantan Arsana dan Carma di Sangsit Buleleng Bali
Salah satu contoh, kata dia, BUMN Merpati atau penerbangan zaman dulu masih vital tapi kini kan tinggal puing-puing belaka. Sisanya yang untung pun masih banyak belum maksimal.
BUMN bank Himbara seperti BRI, Bank Mandiri, BNI, rata-rata bagus secara perusahaan dan korporasi. "Revenue bagus, organisasi bagus, dan keuntungan bagus," sebutnya.
Beberapa lagi seperti Pertamina, PLN itu juga bagus namun tidak terlalu berkembang. "Sementara Telkom cukup bagus," sebutnya.
"Dalam 3-4 dekade, Telkom bisa berkembang jadi BUMN yang beri untung di luar Himbara," tegasnya lagi. Kalau Telkom bisa menjadi salah satu BUMN excelent, dengan tantangan cukup berat.
Telkom mampu membukukan Rp157 triliun pendapatan, dengan keuntungan bersih Rp23 triliun. Tentu hal ini bukan tanpa pengorbanan dan kerja keras.
Telkom pun terus menyesuaikan diri dengan hal ini, dari kabel tembaga pindah ke kabel optik. Kemudian menggali ladang bisnis baru seperti data center dan tower. PR ke depan harus terus adaptasi dengan AI dan sebagainya, sehingga tidak ketinggalan. (*)