SURYA.co.id, SURABAYA - Fenomena ketidakharmonisan sejumlah Bupati dengan wakil di Jawa Timur membuat Anggota DPRD Jatim Freddy Poernomo merasa prihatin.
Politisi senior Partai Golkar ini pun meminta agar Gubernur ikut turun tangan untuk melakukan mediasi.
Campur tangan Gubernur dinilai penting sebab selain merupakan kepala daerah di tingkat provinsi.
Baca juga: Bupati Dan Wabup Jember Pecah, Kuasa Hukum Gus Fawait Sebut Gugatan Rp 25,5 Miliar Tanpa Dasar Hukum
Gubernur juga merupakan kepanjangan tangan dari pemerintah pusat. "Sehingga, perlu melakukan pembinaan," kata Freddy kepada SURYA.co.id, Jumat (6/2/2026).
Informasi yang dikumpulkan SURYA.co.id, belakangan ini konflik beberapa kepala daerah memang mencuat ke publik.
Sebelum Gubernur turun tangan, Freddy juga berharap agar DPRD setempat ikut memediasi kepala daerah yang berkonflik
Sebab, tentu saja konflik semacam itu dikhawatirkan mengganggu jalannya birokrasi di daerah.
Sehingga, tak boleh dibiarkan berlarut-larut. Karena khawatir turut berdampak terhadap pelayanan publik.
"Tentu kami harap DPRD sebagai fungsi kontrol harus memberikan warning," ujar anggota Komisi A DPRD Jatim tersebut.
Wakil Rektor Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surokim Abdussalam tak kaget dengan fenomena yang terjadi ini.
Sebab, ia menilai ketidakharmonisan kepala daerah dan wakil kerap terjadi di tengah pemerintahan. Berbeda ketika saat masa kampanye hingga pelantikan yang mesra.
Keretakan biasanya terjadi karena berbagai faktor.
"Menurut saya semua ini seharusnya tidak perlu terjadi jika kedua belah pihak memiliki komitmen yang kuat untuk selalu bersama-sama hingga akhir periode," ujar Surokim ketika dikonfirmasi SURYA.co.id terpisah, Jumat (6/2/2026) .
Pengamat politik ini menilai hal tersebut bisa teratasi dengan intensnya komunikasi, saling pengertian hingga pembagian peran dan pelibatan masing-masing.
Sehingga, tidak muncul ego masing-masing ketika di pertengahan periode.
Sedapat mungkin disharmoni harus diantisipasi.
"Menurut saya harus ada ikhtiar terus menerus agar frekuensi itu bisa sama dan terus bisa diperbaharui agar terbangun trust berkesinambungan," jelas Surokim dalam analisanya.
Sebagai akademisi, Surokim mengingatkan disharmoni kepala daerah pasti akan mengganggu ritme dan akselerasi pemerintahan.
Bahkan, cenderung merusak dan menggangu konsentrasi dalam manajemen pembangunan daerah.
"Jika keretakan itu terjadi percayalah energi kepala daerah akan habis untuk berseteru dan susah untuk bisa menjalankan roda birokrasi menjadi lebih progresif dan akseleratif," ucap Surokim.