TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Berikut prakiraan cuaca di Jawa Tengah (Jateng), Minggu 8 Februari 2026 besok.
Dari seluruh wilayah Jateng yang terdiri atas 35 kabupaten dan kota semuanya bakal diguyur hujan.
Intensitas hujan mulai dari ringan hingga lebat.
Hujan lebat mendominasi, diprediksi turun di 17 wilayah.
Enam wilayah mengalami hujan disertai petir meliputi Klaten, Karanganyar, Purworejo, Magelang, Sragen, dan Sukoharjo
Baca juga: Longsor Terjang Rumah di Watukumpul Pemalang, Bocah 9 Tahun Meninggal Dunia
• Anak Ketiga Habisi 1 Keluarga di Jakarta, Suapi Para Korban dengan Racun Tikus, Pura-pura Ikut Lemas
Demikian antara lain info Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang.
Agar aktivitas tak terganggu, persiapkan diri kalian sebaik mungkin.
Berikut prediksi cuaca lengkap esok hari:
Suhu udara rata-rata antara 17 derajat celcius hingga 32 derajat celcius.
Kecepatan angin rata-rata antara 4 km per jam hingga 16 km per jam.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banyumas, Dwi Irawan, memperingatkan masyarakat akan adanya potensi cuaca ekstrem hingga akhir Februari 2026 dan dampak yang ditimbulkannya.
Dalam acara tasyakuran bertajuk "Baturraden Aman" di Lokawisata Baturraden, Jumat (6/2/2026), ia mengungkap bahwa hujan dengan intensitas sangat tinggi di kawasan puncak dapat memicu terbawanya sisa-sisa material vulkanik erupsi tahun 2024.
Menurutnya, curah hujan ekstrem di puncak Gunung Slamet menjadi faktor utama terjadinya aliran material yang berdampak pada wilayah lereng selatan, termasuk Baturraden dan sekitarnya.
"Dari hasil kaji cepat yang dilakukan BPBD bersama lintas sektor dan Provinsi Jawa Tengah, inti permasalahannya ada pada cuaca dan curah hujan yang sangat tinggi, khususnya di puncak Gunung Slamet," ujarnya.
.Material vulkanik yang masih tersisa di kawasan hutan sebagian sudah mengeras menjadi butiran kecil, yang bisa terbawa arus air hujan yang sangat kuat.
Namun untungnya, kondisi vegetasi di lereng selatan Gunung Slamet masih cukup kuat. "Ini menjadi keuntungan bagi kita. Hutan di lereng selatan Gunung Slamet masih luar biasa, masih kuat menahan arus material," jelasnya.
Meski begitu, wilayah yang berada di bawah naungan kawasan tersebut, meliputi Baturraden, Cilongok, hingga Sumbang, diimbau untuk terus waspada.
Dwi juga mengingatkan kondisi cuaca ekstrem diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.
BPBD mencatat, puncak musim hujan dengan intensitas tinggi diperkirakan terjadi hingga akhir Februari, terutama di wilayah Banyumas bagian barat, utara, dan selatan.
"Dari BPBD Provinsi Jawa Tengah juga sudah menyampaikan imbauan kewaspadaan, khususnya untuk wilayah barat, utara, dan selatan."
"Curah hujan tinggi diperkirakan masih berlangsung sampai Februari," tambahnya.
Banjir bandang dari Gunung Slamet sempat menerjang Guci dan kawasan wisata Baturraden pada Sabtu (24/1/2026) dini hari.
Akibat banjir bandang itu, beberapa obyek wisata air sempat ditutup demi keselamatan pengunjung.
Selepas banjir menerjang, kualitas air sempat keruh dan ada kerusakan jaringan pipa warga.
Namun Dwi mengatakan, bahwa kini kualitas air sudah membaik karena jaringan PDAM sudah diperbaiki.
Selain itu, berkurangnya hujan lebat di kawasan puncak membuat campuran material vulkanik di aliran air mulai menurun.
"Alhamdulillah kualitas air sudah berangsur membaik, karena hujan di puncak sudah tidak seintens sebelumnya. Campuran material vulkanik juga sudah berkurang," katanya.
BPBD bersama klaster air bersih, termasuk PMI dan PDAM, sebelumnya telah menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah titik terdampak.
"PDAM sudah melakukan perbaikan. Kami bersama PMI dan PDAM juga menyuplai air bersih ke beberapa lokasi terdampak," jelasnya.
Di sejumlah titik, sedimentasi pasir vulkanik masih terlihat cukup banyak. BPBD mengatakan pembersihan akan dilakukan secara bertahap.
Meski di sisi lain, beberapa warga justru memanfaatkan material ini.
"Di beberapa tempat, warga sudah mulai mengambil sedimentasi pasir. Karena jenis pasir gunung berapi ini harganya lebih mahal," kata Dwi.
Dwi juga mengungkap bahwa dampak terbesar justru terjadi pada ekosistem sungai, terutama sektor perikanan.
Sehingga BPBD berencana melakukan rehabilitasi bersama dinas terkait dan para relawan.
"Efek terbesar ada pada ekosistem sungai, terutama ikan.Ini nanti akan kita rehabilitasi bersama dinas pertanian, peternakan, dan relawan, untuk memulihkan titik-titik sungai di lereng Gunung Slamet," tandasnya. (*)