Pilih Pulang Kampung, Alumnus Kampus Inggris Ini Bangun Sekolah Murah
GH News February 07, 2026 02:09 PM
Jakarta -

Mirza Idham Saifuddin adalah salah satu alumni kampus di Inggris yang mampu kembali ke Indonesia dengan menghasilkan dampak. Baginya, kuliah di luar negeri bukan sekadar soal gelar atau pengalaman hidup.

Lebih jauh dari itu, ia merasa ilmunya harus menjadi bermanfaat bagi sekitar. Ia sendiri kini membangun satuan pendidikan berkelanjutan yakni Yayasan Chony Zamani di Nganjuk, Jawa Timur.

Sekolah tersebut memiliki biaya yang murah yakni Rp 90 ribu per bulan dan telah membantu banyak siswa yang hampir putus sekolah. Bagaimana ia bisa membangun sesuatu berdampak selepas pulang dari Inggris?

Tak Cuma Kuliah, Mirza Manfaatkan Privilese Akademik

Laki-laki yang akrab disapa Mirza ini adalah lulusan University of Warwick dan penerima beasiswa Chevening Scholarship. Saat kuliah di UK, Mirza tak hanya fokus belajar di kelas. Ia berpikir bahwa privilese akademiknya harus ia manfaatkan sebaik mungkin.

"Ketika saya di Warwick, saya menggunakan privilege itu tidak hanya untuk kuliah, tetapi untuk visit ke industri secara langsung, ngobrol dengan CEO-nya, ngobrol dengan orang-orang yang punya kepentingan atau dia punya posisi penting di perusahaan," katanya usai acara Study UK Alumni Awards Indonesia 2026 di The Tribata Dharmawangsa Opus Ballroom Lobby Level, Jakarta Selatan pada Jumat (6/2/2026).

Ia juga serius mempelajari sistem pendidikan Inggris. Mirza berinteraksi langsung dengan masyarakat di sana dan berkunjung ke sekolah-sekolah.

"Bagaimana sistemnya, seperti apa. Bagaimana dia bisa meng- -nya dengan gratis, di sana kan gratis kan, terus habis itu bagus. Itulah yang aku ambil, yang ada di UK ke (sekolah) Nganjuk," bebernya.

Bangun Sekolah dengan Biaya Murah

Mirza tidak mengambil studi pendidikan saat S2, melainkan jurusan Innovation Entrepreneurship. Namun, hasil pengamatannya tentang sistem pendidikan di sana mendorongnya membangun sekolah yang mirip.

Sebelum pulang dari UK, Mirza sebenarnya sudah mendirikan yayasan pendidikan sejak 2011. Namun, sekolah pertamanya sempat tutup karena banyak alasan, salah satunya gaji guru yang kurang.

"Terus habis itu 2011 mulai start lagi, dan itu sebenarnya . Gaji gurunya tidak layak, kita jujur-jujuran aja di situ. Ketika kuliah ke UK, sebenarnya aku itu pengen gaji gurunya sangat layak sekali, tapi kan kita tidak bisa punya dependensi buat ke dana-dana yang tertentu itu," ungkapnya.

Akhirnya, Mirza mendirikan koperasi dengan sistem berkelanjutan. Dengan sistem tersebut, Mirza mampu mendirikan sekolah yang berkembang. "Dan mereka bayarnya cuma Rp 90.000 per bulannya dengan 400 siswa in total," katanya.

Sekolah tersebut juga didirikan karena keprihatinannya dengan anak-anak di Nganjuk. Ia melihat, mereka masih sulit menjangkau sekolah. "Salah satu kasus ekstrem yang kita tangani adalah kembar tiga (siswa), bapaknya bunuh diri. Dia tuh kita bantu sampai gede," katanya.

Kunci Pendidikan Sukses: Transparansi Anggaran

Mirza berpendapat permasalahan gaji guru yang rendah masih menjadi tantangan di banyak sekolah. Padahal, ia melihat bahwa persoalan ini bisa selesai jika anggaran transparan.

"Jadi kalau di UK itu kan, dia modelnya adalah sistem transparansi keuangan. Nah kita itu kalau misalkan mengelola sekolah, keuangannya tidak transparan. Dari pemerintah dapatnya berapa, dari SPP dapatnya berapa. Ketika kita jelaskan , oh ternyata ini bisa dimasukin pos ke gaji guru loh," ungkap Mirza.

Di sekolahnya saat ini, Mirza menerapkan transparansi anggaran tersebut. Sehingga gaji-gaji guru bisa lebih terjamin dan layak.

"Punya aku 3 tahun semuanya bisa sertifikasi. Makanya kalau sertifikasi tambah gaji-gaji, TPG-nya bisa 4-5 juta. Di UMR yang 2,1 juta," katanya.

Berkat kontribusi Mirza membangun sekolah, ia dianugerahi Studi UK Alumni Awards Indonesia 2026 bidang . Ia bisa menjadi inspirasi bagi anak muda yang ingin memberi dampak nyata bagi masyarakat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.