SURYA.co.id - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap rangkaian pergerakan Direktur Utama PT Karabha Digdaya, Trisnadi Yulrisman (TRI), sebelum operasi tangkap tangan (OTT) terkait dugaan suap kepada Ketua dan Wakil Ketua Pengadilan Negeri (PN) Depok.
Fakta-fakta tersebut terkuak lewat dokumentasi foto yang dipaparkan KPK dalam konferensi pers pada Jumat (6/2/2026).
Foto-foto itu merekam momen krusial saat penyidik melakukan pengintaian intensif sejak dini hari.
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, menjelaskan bahwa tim penyidik sudah bersiaga sejak tengah malam.
Informasi awal menyebutkan transaksi suap bakal berlangsung sekitar pukul 00.00 WIB.
Namun hingga pagi menjelang, situasi masih senyap tanpa aktivitas penyerahan uang.
Situasi berubah drastis sekitar pukul 13.00 WIB. Tim KPK mulai mencatat adanya pergerakan signifikan di lingkungan PT Karabha Digdaya.
Seorang staf keuangan berinisial ALF terlihat mencairkan dana sebesar Rp850 juta, sesuai kesepakatan antara pihak perusahaan dengan PN Depok.
Tak lama berselang, Trisnadi Yulrisman terpantau tiba di kantor.
Ia mengenakan jaket dan celana hitam, lalu masuk ke ruang kerjanya. Pada fase ini, penyidik semakin mengencangkan pengawasan.
Sekitar pukul 14.36 WIB, staf berinisial GUN bersiap untuk pertemuan dengan perwakilan PN Depok.
Sementara itu, staf lain berinisial AND membawa uang Rp850 juta hasil pencairan di salah satu bank di kawasan Cibinong.
Baca juga: Gelagat Trisnadi Yulrisman Dirut PT KD Sebelum Suap Wakil-Ketua PN Depok, Padahal Dikenal Inspiratif
GUN kemudian berangkat satu mobil bersama Berliana Tri Kusuma (BER), Head Corporate Legal PT Karabha Digdaya, yang diketahui berperan aktif dalam proses negosiasi dengan pihak PN Depok.
Di sisi lain, jurusita PN Depok, Yohansyah Maruanaya alias YOH, terpantau meninggalkan gedung pengadilan dengan kendaraan pribadinya.
Menjelang waktu maghrib, tiga mobil (dua milik pihak PT Karabha Digdaya dan satu kendaraan jurusita) berada di lokasi yang sama, yakni Emerald Golf Tapos.
"Sekitar pukul 19.00 terjadi penyerahan uang yang kemudian uang yang diserahkan dari pihak PT KD kepada pihak PN Depok dalam hal ini YOH,"
Tak lama setelah penyerahan tersebut, tim KPK langsung bergerak. Uang Rp850 juta ditemukan dalam tas ransel hitam yang saat itu dibawa oleh Yohansyah.
Usai penangkapan di lokasi transaksi, penyidik KPK melanjutkan operasi ke PN Depok untuk mengamankan Wakil Ketua PN Depok, Bambang Setyawan.
Sekitar pukul 19.18 WIB, KPK kembali mengamankan tiga orang lainnya, yakni AND, GUN, dan BER, yang berada di kantor PT Karabha Digdaya. Rangkaian OTT belum berhenti di situ.
Pada pukul 20.19 WIB, Trisnadi Yulrisman ditangkap di kawasan Living Plaza Cinere.
Penangkapan terakhir dilakukan di rumah dinas Ketua PN Depok, di mana aparat KPK mengamankan I Wayan Eka Mariarta.
Kasus ini menambah daftar panjang praktik suap yang menyeret aparat penegak hukum, sekaligus menegaskan komitmen KPK dalam membongkar transaksi gelap yang mencederai keadilan.
Menurut penelusuran SURYA.co.id, Trisnadi Yulrisman merupakan profesional keuangan dan manajemen risiko yang kini menjabat sebagai Direktur Utama PT Karabha Digdaya, sebuah BUMN di bawah Kementerian Keuangan yang bergerak di bidang pengembangan kawasan dan properti.
Ia mulai menduduki posisi pucuk pimpinan PT Karabha Digdaya pada Maret 2025, setelah sebelumnya berkarier panjang di sektor keuangan negara dan pasar modal.
Latar belakang pendidikannya berasal dari D4 Akuntansi Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan S2 General Management di IPMI Business School Jakarta.
Karier Trisnadi terbilang mapan dan teknokratis. Ia pernah menjabat Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Bina Karya (Persero), Direktur PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) selama lebih dari satu dekade, serta Direktur di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Sebelumnya, ia juga tercatat sebagai Senior Vice President PT Danareksa (Persero) dan memiliki pengalaman sebagai auditor di lingkungan Bursa Efek Jakarta serta BPKP.
Selain itu, ia pernah terlibat sebagai Koordinator Tim Teknis Investasi Sektoral dalam persiapan pemindahan Ibu Kota Negara (IKN).
Di PT Karabha Digdaya, Trisnadi dikenal mendorong agenda transformasi perusahaan, termasuk penguatan tata kelola, rebranding, pengembangan kawasan berkelanjutan, serta pemberdayaan UMKM melalui kolaborasi dengan pemerintah dan mitra strategis.
Perannya menempatkan PT Karabha Digdaya sebagai salah satu aktor penting dalam pengelolaan aset dan pengembangan kawasan milik negara.
Namun, pada Februari 2026, nama Trisnadi Yulrisman turut menjadi sorotan publik setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkannya sebagai tersangka dalam dugaan perkara korupsi terkait pengurusan sengketa lahan di Pengadilan Negeri Depok, menyusul operasi tangkap tangan. Perkembangan hukum ini menjadi babak baru yang signifikan dalam perjalanan kariernya sekaligus memberi dampak serius terhadap citra dan dinamika internal PT Karabha Digdaya.