SURYAMALANG.COM, - Nama seorang Warga Negara Indonesia (WNI) berinisial KY mendadak menjadi sorotan setelah tercantum dalam dokumen pertukaran email milik predator seksual asal Amerika Serikat, Jeffrey Epstein.
Berdasarkan penelusuran dokumen Departemen Kehakiman AS (DOJ), KY diketahui merupakan seorang profesional di bidang perhotelan yang secara intensif mengirimkan lamaran pekerjaan ke perusahaan milik Epstein sejak tahun 2013.
Meski namanya muncul di berkas perkara hukum yang sensitif, dokumen tersebut menegaskan keterlibatan KY murni seputar urusan profesional dan pencarian kerja, bukan terkait aktivitas kriminal sang miliarder.
Seperti diketahui, kasus Jeffrey Epstein kembali menjadi sorotan tajam setelah DOJ merilis lebih dari tiga juta dokumen terkait investigasi kriminal terhadap dirinya pada Jumat, (30/1/2026) lalu.
Dokumen yang kini viral sebagai Epstein Files tersebut berisi ribuan halaman catatan yang berkaitan dengan dua investigasi kriminal perdagangan seks oleh Jeffrey Epstein, bersama wanita yang disinyalir sebagai kekasihnya, Ghislaine Maxwell.
Baca juga: Tudingan Epstein Jadi Agen Badan Intelijen Israel Mossad Mencuat Dalam Dokumen FBI
Saat ini, Maxwell tengah menjalani hukuman 20 tahun penjara. Sementara Jeffrey Epstein telah tewas usai mengakhiri hidup di penjara Manhattan, New York, pada Agustus 2019 lalu.
Dokumen-dokumen di dalam Epstein Files, mencakup catatan perjalanan, rekaman, email, menjadi topik pembicaraan hangat sejak kematian Epstein.
Berdasarkan penelusuran di situs Departemen Kehakiman AS (DOJ) pada Selasa (3/2/2026), KY saling bertukar pesan melalui email dengan berbagai pihak yang berafiliasi dengan Epstein.
Rupanya, KY diduga tengah melamar pekerjaan di perusahaan milik Epstein yakni Jee Vacation.
Total ada 142 dokumen tentang KY terkait pesan email yang dikirimkan ke pihak yang terafiliasi dengan perusahaan milik Epstein.
Adapun dokumen terkait KY pertama kali yakni soal curriculum vitae (CV) miliknya sebagai profesional di bidang perhotelan.
Dokumen itu tercatat dikirimkan KY ke email perusahan Epstein pada 3 April 2013 lalu.
Dalam CV tersebut, KY mengaku pernah bekerja di beberapa hotel ternama di Jakarta, Bali, hingga Maladewa.
Di hari yang sama, KY dijadwalkan melakukan pertemuan dengan Epstein melalui aplikasi Skype pada pukul 08.00 waktu setempat.
Baca juga: Email Bill Gates ke Jeffrey Epstein Soal Simulasi Pandemi, Tuduhan Rekayasa Memanas
Hanya saja tidak diketahui apakah pertemuan secara daring itu terealisasi atau tidak.
Setelah itu, KY tertarik untuk bekerja di perusahaan milik Epstein di New York ataupun Florida.
"Sejujurnya, saya tertarik bekerja bersama Anda di salah satu properti milikmu di New York dan Florida," kata KY.
"Jika saya diberi kesempatan untuk bekerja dengan Anda, maka saya menjadi sosok yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya," sambungnya.
Kemudian, jauh sebelum komunikasi via email, KY mengaku sempat akan melakukan wawancara kerja di perusahaan milik Epstein.
Namun, KY mengatakan hal tersebut terpaksa dibatalkan buntut tragedi Bom Bali.
Jika merujuk dari pernyataan KY, maka dirinya diperkirakan melakukan wawancara pada Oktober 2002 atau Oktober 2005.
Baca juga: Bocor Isi Dokumen Epstein, Muncul Dugaan Kiswah Kain Penutup Ka’bah Dijual ke Jeffrey Epstein
Pasalnya tragedi Bom Bali terjadi sebanyak dua kali yakni pada 12 Oktober 2002 dan 1 Oktober 2005.
"Kami datang untuk wawancara sebagai Residence Butler di Florida dan New York pada waktu itu. Hal itu telah diatur bersama Nicholas Simmonds dan Edwina saat itu" tulis KY dalam email tertanggal 4 April 2013.
"Namun, karena terjadi ledakan bom di Bali, semuanya dibatalkan," imbuhnya.
KY tercatat begitu sering mengirim email ke Epstein terkait perkembangan lamaran kerjanya.
Bahkan KY terus meminta update tersebut hingga tahun 2015 dengan mengirimkan pesan email ke Epstein.
Berdasarkan catatan dokumen DOJ tersebut, KY terakhir kali tercatat mengirim email ke ke Epstein pada tahun 2017.
Adapun isi dari pesan tersebut yaitu tautan terkait akun LinkedIn dari KY.
Menurut penelusuran dari komunikasi via email, KY tidak ada kaitannya dengan kejahatan seksual yang dilakukan Epstein.
Selain KY, terdapat dua tokoh nasional yang turut masuk dalam dokumen milik Epstein tersebut, yakni konglomerat Hary Tanoesoedibjo dan pendiri Sinar Mas, Eka Tjipta Widjaja.
Namun, dalam keterangan yang tertulis dalam laporan tersebut, Hary dan Eka tidak terkait langsung dengan Epstein.
Hary Tanoe hanya disebut terlibat dalam pengembangan hotel-hotel milik Presiden AS Donald Trump di Indonesia.
Diketahui, keduanya memang bekerja sama dalam proyek bernama Trump Residences Indonesia yang berlokasi di Bogor, Jawa Barat dan Bali sejak tahun 2015 lalu.
"Hary Tanoesodibjo telah terlibat dalam pengembangan hotel-hotel Trump dan (Hary) merupakan seorang miliarder. Hary memperkenalkannya kepada orang CIA Indonesia," demikian tertulis dalam laporan tersebut.
Baca juga: DAFTAR 5 Nama Orang Penting Indonesia Muncul di Dokumen Epstein: Ada Jokowi dan Sri Mulyani
Sosok 'orang CIA Indonesia' tersebut diduga adalah anggota Badan Intelijen Negara (BIN), namun tidak disebutkan nama jelasnya.
Selain itu, Hary juga disebutkan membeli kediaman Trump di kawasan Beverly Hills, California, AS dengan 'harga yang dibesar-besarkan'.
Mantan Ketua Umum Partai Perindo itu juga sempat mengatakan kepada Trump akan 'menghancurkan Amazon' terkait kontrak militer mereka, meski tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai maksud pernyataan tersebut.
Sementara itu, nama pendiri Sinar Mas, Eka Tjipta Widjaja, tercantum dalam file Epstein terkait penjualan mansion milik Trump di Beverly Hills pada tahun 2009 seharga 9,5 juta dolar AS.
Baca juga: Sisi Kelam Epstein Files: Dari Tuduhan Kanibalisme hingga 900 Kali Penyebutan Indonesia
Eka disebut berkaitan dengan entitas dari Swiss yang menjadi pembeli kediaman tersebut, yang diduga merupakan perusahaan cangkang miliknya. Dokumen tersebut memaparkan:
"Pada musim panas 2009, dia (Trump) menjual rumah tersebut seharga 9,5 juta dolar AS - 800.000 dolar AS lebih rendah dari harga tahun sebelumnya - kepada entitas Swiss yang terkait dengan keluarga Eka Widjaja, seorang miliarder pengusaha keuangan Indonesia"
"Penjualan dilakukan secara tunai. Mantan pengacara Trump, Michael Cohen, mengajukan dokumen hukum untuk perusahaan cangkang yang terlibat dalam pembelian mansion tersebut dan ia menandatangani akta jual beli saat Trump menjual properti tersebut," demikian isi dari file tersebut.
Nama Presiden kedua RI Soeharto juga tercantum karena adanya usulan buku terkait dirinya dari seseorang bernama Gregory Brown kepada Epstein, sehingga sosok Soeharto dipastikan tidak berkaitan langsung dengan aktivitas Epstein.
(Tribunnews.com)