TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Setelah sempat mencatatkan rekor impresif dengan clean sheet di enam pertandingan beruntun, benteng pertahanan Bali United kini tengah menjadi sorotan tajam dari para pendukungnya.
Dalam dua laga terakhir, gawang Serdadu Tridatu harus rela dibobol sebanyak enam kali menjadi antiklimaks yang mengejutkan bagi tim yang sebelumnya dikenal memiliki pertahanan paling kokoh di liga.
Menanggapi situasi ini, Pelatih Kepala Bali United Johnny Jansen dan Kapten Tim Ricky Fajrin angkat bicara dalam konferensi pers yang berlangsung di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, pada Jumat 6 Februari 2026.
Alih-alih mencari kambing hitam, keduanya kompak memilih jalur evaluasi mendalam dan penguatan mental untuk mengembalikan performa tim ke jalur juara.
Baca juga: AMBISI Persebaya Hapus Tren Buruk di Kandang Bali United, Rivera Siap Jebol Gawang Serdadu Tridatu!
Pelatih asal Belanda itu tidak menutupi rasa kecewanya atas rentetan gol yang bersarang ke gawang timnya.
Ia membedah bahwa gol-gol tersebut lahir dari situasi yang seharusnya bisa dihindari, mulai dari bola mati hingga kesalahan individu.
"Kami kecewa karena kebobolan enam gol. Di laga sebelumnya, tiga gol lahir dari set pieces. Lalu kemarin, ada kesalahan operan pendek dari Arel, dan satu gol lagi yang menurut saya masih diperdebatkan secara aturan (law of the game)," ungkap Jansen.
Meski sempat menyinggung keputusan wasit yang dianggapnya tidak jelas pada gol kedua lawan, mantan pelatih PEC Zwolle ini menegaskan bahwa ia tidak ingin mengeluh.
"Saya benci bicara soal wasit, tapi itu aturannya. Intinya, jika melihat kembali pertandingan itu, gol-gol tersebut terasa sangat konyol. Itu masalah saya, dan kami tidak senang dengan hal itu," bebernya.
Jansen mengingatkan para pendukung bahwa membangun tim yang solid dengan banyak pemain baru bukanlah proses yang instan.
Ia mengibaratkan perkembangan tim seperti grafik yang naik-turun, namun tetap menuju arah yang lebih baik.
"Garis perkembangan kami itu seperti ini (naik-turun,-Red). Kami punya pemain baru, kami harus menemukan kualitas mereka dan menyatukannya. Ini pekerjaan yang berat, tapi kami akan memperbaikinya," kata dia.
Ia juga menegaskan bahwa mentalitas tim saat ini tidak sedang jatuh.
Sebaliknya, tamparan berupa enam gol ini justru menjadi bahan bakar untuk meledak di laga selanjutnya.
"Kami tidak membiarkan diri kami jatuh. Kami bangkit. Kami tetap mengarah ke atas karena fokus dan tujuan kami adalah menjadi lebih baik," ucapnya.
Sebagai Kapten Tim, Ricky Fajrin mengaku memiliki cara tersendiri untuk menjaga moral rekan-rekannya. Baginya, kunci utama untuk bangkit adalah dengan tidak membiarkan satu atau dua hasil buruk merusak perjalanan panjang musim ini.
"Sebagai pemain, saya pikir kita tidak bisa berhenti di satu pertandingan saja. Kita harus bergerak ke depan," ujar Ricky.
Pemain paling senior di Bali United ini menekankan bahwa penyesalan tidak akan mengubah skor, namun evaluasi akan mengubah hasil di laga berikutnya.
"Yang berlalu sudah berlalu. Kita tetap evaluasi, mencoba yang terbaik, dan belajar. Semoga ke depannya kami bisa lebih baik lagi dari yang sebelumnya," pungkas sang kapten. (*)