Renungan Harian Kristen 9 Februari 2026 - Konsistensi Karya Penyelamatan
Bacaan ayat: Matius 1:1 (TB) Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.
Oleh Pdt Feri Nugroho
Coba kumpulkan anggota keluarga, terutama anak-anak, dan tanyakan kepada mereka nama asli kakek atau neneknya.
Entah mengapa hal demikian bisa terjadi!
Beda jauh dengan umat Tuhan dalam catatan Alkitab. Mereka adalah orang-orang yang sangat teliti dalam hal mengingat generasi sebelumnya.
Hal ini didasarkan pada aturan beriman bahwa mereka memang diminta untuk terus mengingat karya Allah yang pernah terjadi pada masa lalu.
Disamping itu, ada banyak aturan sosial yang sedikit memaksa mereka untuk tahu dan paham setiap relasi yang terjadi.
Bahkan dimana mereka tinggal pun, setiap kali tahun Yobel terjadi, mereka masing-masing akan pulang ke tanahnya sesuai dengan pembagian warisan dari generasi ke generasi.
Menujukan tulisannya untuk orang Yahudi, membuat Matius, penulis Injil Matius, mengawali kisahnya dengan catatan paling mendasar yaitu perkara silsilah.
Hal ini wajib dilakukan demi memperkuat pernyataan bahwa Yesus ialah Mesias, yang telah dijanjikan sejak lama. Beberapa catatan menyebut bahwa Mesias berasal dari keturunan Raja Daud.
Maka penting membuktikan fakta tersebut. Dengan sengaja Matius menyebut nama Abraham sebagai awal karya penyelamatan Allah berfokus.
Tiga generasi yang berkembang menjadi sebuah bangsa, ternyata terdapat sebuah garis yang berkesinambungan yang berujung pada Yusuf, suami Maria, yang melahirkan Yesus.
Tentu ini menjadi bukti yang paling mudah diverifikasi kebenarannya, mengingat catatan silsilah ialah pengajaran umum yang diwariskan dari generasi ke generasi selanjutnya.
Dengan catatan Matius, kita dapat memperoleh pengajaran berharga tentang Yesus Kristus dari sisi kemanusiaan-Nya.
Bahwa Ia manusia seutuhnya, sama seperti manusia pada umumnya yang melewati proses alamiah sebelum akhirnya menjadi dewasa dan mengajar.
Meskipun demikan, ada yang berbeda; jika semua manusia lahir dalam dosa, maka tidak demikian dengan Yesus. Ia lahir sebagai bayi yang suci dan kudus, karena Maria mengandung karena Roh Kudus.
Dalam hal ini, konsistensi Allah dalam menyelamatkan terpenuhi. Bahwa Juruselamat itu manusia seutuhnya karena yang hendak diselamatkan ialah manusia.
Hanya yang tidak berdosa yang dapat membereskan dosa, sehingga diperlukan intervensi langsung agar bayi dalam rahim Maria tidak berdosa. Roh Kudus menaunginya.
Tidak mudah untuk hidup konsisten. Meskipun demikian bukan hal yang mustahil untuk dilakukan. Allah bertindak sangat konsisten.
Karya penyelamatan terjadi dengan sempurna dan konsistensi yang ajaib. Amin.
Renungan Kristen oleh Pdt Feri Nugroho, GKSBS Siloam Palembang