TRIBUNKALTARA.COM, TANA TIDUNG - Sejumlah bangunan pasar yang telah dibangun di Kabupaten Tana Tidung Kalimantan Utara hingga kini masih terlihat terbengkalai dan belum dimanfaatkan secara maksimal oleh para pedagang.
Kondisi tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari lokasi pasar yang dinilai kurang strategis hingga kebiasaan masyarakat yang cenderung berbelanja di tempat yang lebih dekat dan mudah dijangkau.
Dari beberapa pasar yang ada di Kabupaten Tana Tidung terlihat hanya Pasar Imbayud Taka di Jalan Jenderal Sudirman, Tideng Pale, Kecamatan Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara ( Kaltara ) yang aktif beroperasi. Secara letak, Pasar Imbayud Taka ini berada di tempat yang cukup strategis karena posisinya di pusat kota dan mudah untuk diakses masyarakat.
Menanggapi hal ini, Bupati Tana Tidung Ibrahim Ali menyampaikan kepada TribunKaltara.com, Pemkab Tana Tidung sebenarnya telah berupaya mengimbau pedagang agar berjualan di pasar-pasar yang telah disiapkan.
Baca juga: Tak Ingin Terbengkalai, Bupati Tana Tidung Tegaskan Taman Limbu Sedulun Bakal Diinventarisasi
“Kalau bicara tentang pasar ini, kita sudah menggunakan segala cara untuk mengimbau pedagang agar berjualan di sana. Tapi karena kebiasaan masyarakat ini, ketika kita relokasi mereka di satu tempat, otomatis berbicara bagaimana peningkatan ekonomi dan pendapatan mereka,” ujar Ibrahim Ali, Sabtu (7/2/2026).
Ia menilai, salah satu kendala utama adalah penempatan pasar yang dinilai kurang efektif karena jauh dari permukiman warga.
“Kita juga tidak tahu kenapa penempatan pasar itu di tempat yang tidak efektif menurut saya, karena itu kan jauh dari pemukiman, jadi masyarakat malas jalan ke sana,” katanya.
Menurutnya, karakter masyarakat Kabupaten Tana Tidung lebih memilih lokasi berbelanja yang terlihat langsung dan mudah diakses dalam aktivitas sehari-hari.
“Masyarakat kita ini kan maunya pergi yang terlihat di depan mata mereka saja, jadi yang sudah terbiasa dengan kehidupan mereka tiap hari beli pasar yang dekat,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, persoalan pasar sebenarnya sudah dihadapi sejak periode pertamanya menjabat sebagai bupati. Berbagai upaya relokasi pedagang pun telah dilakukan pemerintah daerah.
Baca juga: Bangunan Christian Center di Nunukan Senilai Rp 72,3 Miliar Terbengkalai, DPRD: Tak Ada yang Kelola
“Dulu di kepemimpinan saya periode pertama, pasar itu memang sudah ada dan kita sudah membuat berbagai macam cara waktu itu untuk merelokasi mereka ke pasar di sana,” ungkapnya.
Namun, relokasi tersebut tidak berjalan sesuai harapan karena pedagang kembali berjualan di lokasi lama yang dinilai lebih menguntungkan.
“Setelah kita relokasi, mereka pindah lagi berjualan di rumah atau tempat lain. Ya akhirnya pasar itu jadinya terbengkalai,” katanya.
Ia menegaskan, pemerintah daerah tidak bisa mengambil langkah tegas secara sepihak karena harus mempertimbangkan aspek ekonomi dan kemanusiaan.
“Untuk upaya tegas juga tidak bisa, karena kita tidak bisa menjamin di sana mereka berjualan akan selalu laku,” ujarnya.
Pendekatan kebijakan, lanjutnya, tetap harus mengedepankan sisi kemanusiaan.
“Walaupun kita tegas, tapi tetap harus ada sisi kemanusiaan dan kita juga harus menilai secara ekonomis,” tegasnya.
Hal serupa juga terjadi pada pasar di wilayah Kecamatan Sesayap Hilir yang sempat diisi pedagang, namun perlahan kembali ditinggalkan.
“Pasar di Sesayap Hilir juga sudah kita coba pindahkan pedagang ke sana, tapi lama-lama kembali lagi mereka,” tuturnya.
Ia menegaskan, pemerintah daerah tidak bermaksud membiarkan pasar terbengkalai, melainkan masih melakukan evaluasi terhadap urgensi dan efektivitas pemanfaatannya.
“Karena mereka akan kalah, masyarakat tidak mau datang beli, jadi tidak laku juga jualan mereka. Siapa yang mau tanggung jawab kalau begitu,” pungkasnya.
(*)
Penulis : Rismayanti