SURYA.co.id SURABAYA – Kasus meninggalnya seorang siswa kelas IV SD berinisial YBR (10) di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi pengingat serius tentang pentingnya kesehatan mental anak dan peran emosi dalam keluarga.
Di lokasi kejadian, aparat menemukan sepucuk surat perpisahan yang ditujukan kepada ibu korban. Surat tersebut ditulis menggunakan bahasa daerah Bajawa dan kini diamankan polisi sebagai barang bukti dalam proses penyelidikan.
Menanggapi peristiwa tersebut, Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Marini S.Psi., M.Psi., Psikolog menilai isi surat mencerminkan adanya tekanan emosi yang kuat pada diri anak.
Ia menduga kondisi psikologis tersebut berkaitan dengan situasi keluarga yang penuh tekanan, termasuk kemungkinan adanya beban ekonomi.
“Anak usia 10 tahun sudah bisa mengalami depresi, bahkan pada tingkat berat. Ungkapan dalam surat itu menunjukkan adanya rasa terluka dan perasaan ditolak secara emosional,” ujar Marini ketika dihubungi SURYA.CO.ID, Sabtu (7/2/2026).
Baca juga: Ngopi Jadi Pelarian Mahasiswa, Psikolog Ungkap Dampaknya Terkait Kecemasan
Menurut Marini, tekanan ekonomi yang berlangsung lama sering kali membuat orang tua berada dalam kondisi emosional yang tidak stabil, seperti mudah tegang atau kurang responsif.
Anak yang sensitif dapat menangkap perubahan sikap tersebut dan menafsirkannya sebagai tanda bahwa dirinya menjadi beban keluarga.
Ia menjelaskan, anak belum memiliki kesiapan mental untuk memahami persoalan kompleks orang dewasa, seperti kemiskinan atau kesulitan ekonomi. Tanpa pendampingan dan komunikasi yang sehat, anak cenderung memaknai masalah tersebut secara sederhana dan hitam-putih.
“Kecemasan di lingkungan keluarga bisa terserap oleh anak dan dimaknai dengan cara mereka sendiri. Jika tidak tersedia ruang aman untuk bertanya dan mengekspresikan perasaan, anak bisa mengambil kesimpulan yang keliru dengan pemahaman yang sangat terbatas,” jelasnya.
Marini mengimbau keluarga dan pihak sekolah agar lebih peka terhadap perubahan perilaku sekecil apa pun pada anak. Menurutnya, perubahan sikap, menarik diri, atau ekspresi emosi yang tidak biasa dapat menjadi tanda peringatan dini yang tidak boleh diabaikan.
“Kehadiran emosional yang stabil dan konsisten sangat penting agar anak memahami bahwa persoalan hidup adalah tanggung jawab orang dewasa, bukan beban mereka,” tegasnya.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau untuk segera mencari bantuan profesional apabila menemukan gejala depresi atau tanda-tanda keinginan mengakhiri hidup pada anak maupun orang dewasa.
Layanan darurat Kementerian Kesehatan dapat dihubungi melalui 119 untuk mendapatkan bantuan dan pendampingan.