Sandiwara Abdullah Syauqi Menangis di Kuburan, Padahal Suapi Ibu, Kakak dan Adik Pakai Racun Tikus
Joseph Wesly February 07, 2026 07:50 PM

 

TRIBUNBEKASI.COM, TANJUNG PRIOK– Dendam Abdullah Syauqi Jamaludin begitu membara di dada.

Dendam itu membuatnya hilang nalar dan tega meracuni ibu, adik dan kakaknya sendiri hingga tewas.

Merasa diperlakukan tidak baik dan kerap dimarahi, Syauqi terus memendam emosi selama bertahun-tahun.

Namun dendamnya tak lagi bisa ditahan setelah dimarahi sang ibu dan kakak setelah pulang pagi usai begadang menyambut tahun baru 2026.

Tepat pada Jumat 2 Januari 20216 dini hari, dia menyuapi sang ibu, kakak dan adiknya menggunakan racun tikus yang dicampur teh.

Keempatnya lemas setelah sebelumnya menghirup kapur barus yang dididihkannya bersama dengan teh dan racun tikus di panci.

Dia kemudian menutup pintu sehingga para korban menghirup uang dari kapur barus saat ketiganya terlelap.

Kondisi tersebut lalu dimanfaatkan Syauqi menyuapi para korban di rumah kontrakan mereka di kawasan Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (2/1/2026).

Akting menangis di kuburan

Pasca berhasil membunuh ibu, kak dan adiknya, Abdullah Syauqi Jamaludin menangis histeris di kuburan.

Baca juga: Abdullah Syauqi Suapi Ibu, Kakak dan Adik Pakai Racun Tikus hingga Tewas karena Sering Dimarahi

Aktingnya membuat orang yang hadir di pemakaman merasa iba dan memintanya untuk berhenti menangis.

Dia pun harus dipapah karena terlihat lemas dan histeris di liang lahat.

Pura-pura Jadi Korban, Tubuh Dilukai Sendiri

Saat pertama kali ditemukan, Syauqi berada di lokasi kejadian dalam kondisi terluka. Polisi sempat menduga ia juga menjadi korban.

RENCANAKAN PEMBUNUHAN-  Abdullah Syauqi bawa panci yang digunakan untuk untuk wadah racun tikus yang digunakan untuk merecuni, ibu, kakak dan adiknya. Pelaku tega membunuh ketiganya karena merasa diperlakukan berbeda dan kerap dimarahi.
RENCANAKAN PEMBUNUHAN- Abdullah Syauqi bawa panci yang digunakan untuk untuk wadah racun tikus yang digunakan untuk merecuni, ibu, kakak dan adiknya. Pelaku tega membunuh ketiganya karena merasa diperlakukan berbeda dan kerap dimarahi. (Tribunnews/TribunJakarta)

Namun belakangan terungkap, luka-luka tersebut sengaja dibuat sebagai alibi. Syauqi melukai tubuhnya sendiri menggunakan kembang api agar terlihat seperti korban selamat.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara, AKBP Onkoseno Grandiarso Sukahar, mengatakan Syauqi bahkan sempat dilarikan ke rumah sakit karena kondisinya dianggap kritis.

Racun Tak Ditemukan di Tubuh Pelaku

Kecurigaan polisi muncul saat hasil pemeriksaan medis menunjukkan tak ada racun di dalam tubuh Syauqi, berbeda dengan ketiga korban yang ditemukan mengeluarkan busa dari mulut akibat keracunan.

“Sehingga kemudian kami lakukan pendalaman, termasuk observasi kejiwaan terhadap pelaku,” kata Onkoseno.

Dari situlah penyidik menemukan motif sebenarnya.

Dendam Lama pada Ibu, Emosi Dipendam Bertahun-tahun

Syauqi mengaku menyimpan rasa jengkel dan dendam terhadap ibunya, Siti Solihah (50), karena kerap dimarahi.

Ia juga sering cekcok dengan kakak dan adiknya hanya karena persoalan sepele, seperti berebut ponsel.

“Motifnya karena tersangka jengkel dengan ibunya karena sering dimarahi, sering pulang larut malam, dan masalah rumah tangga lainnya,” ungkap polisi.

Racun Tikus Dicampur Teh, Pembunuhan Dilakukan Bertahap

Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Erick Frendriz, menjelaskan pembunuhan dilakukan secara berencana dan bertahap.

Pada tahap awal, Syauqi membuat korban lemas dengan rebusan kapur barus.

Setelah korban tak berdaya, ia lalu memasukkan racun tikus yang dicampur teh ke dalam mulut para korban dikutip dari tribunnews

Korban tewas dalam peristiwa ini yakni:

  • Siti Solihah (50), ibu
  • Afiah Al Adilah Jamaludin (27), kakak
  • Adnan Al Jabrar Jamaludin (13), adik bungsu

Syauqi sendiri merupakan anak ketiga dari empat bersaudara.

Terancam Pasal Berlapis

Atas perbuatannya, Syauqi dijerat pasal berlapis, mulai dari pembunuhan berencana, penganiayaan berat, hingga perlindungan anak, dengan ancaman hukuman berat.

Kasus ini menjadi salah satu tragedi keluarga paling kejam yang terjadi di Jakarta Utara awal 2026.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.