Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Impor Maluku sejak Januari hingga Desember 2025 mencapai US$359,07 juta.
Nilai tersebut turun US$108,15 juta (-23,15 persen) dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Komoditas yang diimpor pada periode itu ialah komoditi migas berupa bahan bakar mineral senilai US$354,40 juta, dan komoditas nonmigas senilai US$4,67 juta dalam bentuk plastik lembaran dan kemasan, kotak/kemasan dari karton, barang tekstil lainnya, mesin untuk keperluan umum/khusus, roda kastor (termasuk ban) dan peralatan listrik.
Kondisi yang sama pada Desember 2025, nilai impor naik 21,08 persen dari US$43,81 juta di Desember 2024 menjadi US$53,05 juta. Hal ini dipicu oleh adanya peningkatan impor migas sebesar 29,51 persen.
Baca juga: Kasus Video GEGP Diproses, Publik Perlu Tahu Peran Krimum dan Krimsus Polda
Baca juga: Beroperasi Komersial di Teluk Ambon, Bea Cukai Segera Panggil Kapten Yacht Akkur
Berdasarkan negara tujuan, asal impor Maluku selama satu tahun berjalan itu, ASEAN mencapai US$346,45 juta.
Nilai itu pula mengalami penurunan 25,02 persen dibandingkan Januari-Desember 2024.
Kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh menurunnya nilai impor dari beberapa negara utama seperti Singapura (-34,45 persen) dan Vietnam (-100,00 persen).
Selain dari ASEAN, impor Maluku juga berasal dari Tiongkok senilai US$4,67 juta, naik 110,82 persen, dari US$2,22 juta di periode yang sama tahun 2024.
“Dilihat dari peranannya terhadap total impor Januari–Desember 2025, kontribusi tertinggi masih didominasi oleh Singapura 61,61 persen (US$221,23 juta), diikuti oleh Malaysia 34,87 persen (US$125,21 juta), Korea Selatan 2,22 persen (US$7,95 juta) dan Tiongkok 1,30 persen (US$4,67 juta). Selanjutnya, kontribusi ASEAN 96,48 persen dan Asia lainnya 3,52 persen,” sebutnya.
Berdasarkan pelabuhan bongkar, nilai impor melalui Pelabuhan Yos Sudarso mengalami penurunan sebesar 23,42 persen.
Sebaliknya, terjadi peningkatan pada Pelabuhan Wahai di Maluku Tengah mencapai 37,67 persen dari US$ 2,10 juta menjadi US$ 2,89 juta.
Nilai impor pada periode ini lebih didominasi oleh Pelabuhan Yos Sudarso dengan andil mencapai 99,20 persen diikuti oleh Pelabuhan Wahai sebesar 0,80 persen terhadap total impor di Maluku.
Jika dibandingkan dengan Desember 2024, nilai impor Desember 2025 mengalami kenaikan sekitar 21,08 persen.
Peningkatan terjadi pada Pelabuhan Yos Sudarso di Ambon sebesar 20,81 persen, dari US$43,81 juta pada Desember 2024 menjadi US$52,93 juta di Desember
2025.
Selanjutnya, Pelabuhan Wahai di Maluku Tengah juga mengalami peningkatan dari tidak terdapat impor pada Desember 2024 menjadi US$0,12 juta pada Desember 2025.
Untuk volume impor Maluku Januari-Desember 2025 mencapai 541,03 ribu ton.
Nilai ini mengalami penurunan sebesar 13,69 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun 2024 (626,84 ribu ton).
Kondisi yang berbeda jika dibandingkan dengan Desember 2024 volume impor Desember 2025 mengalami peningkatan sebesar 25,23 persen.
Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya volume impor sektor migas.
Kontribusi sektor migas sangat dominan pada aktivitas impor Maluku.
Hal ini ditunjukkan dengan kegiatan impor periode Januari-Desember 2025, impor terbesar bersumber dari sektor migas dengan kontribusi mencapai 99,17 persen dari total volume impor Maluku.
Sedangkan kontribusi sektor non migas hanya sebesar 0,83 persen pada periode ini. (*)