Hubungan Epstein dan Elite Global: Raymond Chin Sebut Gunakan Sains dan Filantropi Sebagai Topeng
Frida Anjani February 07, 2026 11:35 PM

 

SURYAMALANG.COM - Raymond Chin menyebut nama-nama elite dunia, mulai dari bangsawan hingga miliarder teknologi, pernah berada dalam orbit Jeffrey Epstein.

Menurutnya, sistem bisnis gelap membuat Epstein bisa masuk ke lingkaran kekuasaan, bahkan dilindungi bank-bank besar.

Raymond menilai titik balik Epstein terjadi saat ia memperoleh kuasa penuh dari miliarder Leslie Wexner, pendiri Victoria’s Secret.

Dalam pandangan Raymond, Epstein merekayasa citra sebagai filantropis sains untuk masuk ke lingkaran elite intelektual dunia.

Ia menyebut donasi ke Harvard dan MIT menjadi pintu masuk Epstein ke tokoh besar seperti Bill Gates dan Stephen Hawking.

Raymond menegaskan, legitimasi sosial itu hanya menutupi kejahatan yang terus berlangsung di balik layar.

Dalam video di kanal YouTube miliknya, Sabtu (7/2/2026) konten kreator sekaligus pengusaha milenial Raymond Chin menyebut Epstein bukan sekadar pelaku kejahatan seksual, melainkan figur yang membangun sistem manipulasi elite dunia melalui uang, akses, dan pemerasan.

“Jeffrey Epstein itu menjijikkan banget. Dia bukan level kriminal biasa. Dia monster yang membangun pulau untuk memperdagangkan anak di bawah umur demi melayani orang-orang paling berkuasa di bumi,” kata Raymond.

Baca juga: Sosok KY Orang Indonesia dalam Epstein Files: Profesional Perhotelan Lamar Kerja ke Sang Predator

Bukan Teori Konspirasi, tapi Fakta Hukum

JEFFREY EPSTEIN-Nama Jeffrey Epstein menjadi sorotan karena dikaitkan dengan sejumlah nama konglomerat dunia mulai dari Bill Gates, Donald Trump, hingga Elon Musk.
JEFFREY EPSTEIN-Nama Jeffrey Epstein menjadi sorotan karena dikaitkan dengan sejumlah nama konglomerat dunia mulai dari Bill Gates, Donald Trump, hingga Elon Musk. (ISTIMEWA)

Raymond menegaskan bahwa kasus Epstein bukan teori konspirasi liar.

Menurutnya, banyak fakta sudah terbukti di pengadilan, meski dokumen yang dibuka ke publik baru sebagian kecil.

“Kasus yang kita tahu itu dari jutaan file yang baru dirilis. Masih ada jutaan file lain yang belum dibuka,” ujarnya.

Ia menyebut nama-nama elite global—mulai dari bangsawan, mantan presiden Amerika Serikat, hingga miliarder teknologi—pernah berada dalam “orbit” Epstein, setidaknya berdasarkan catatan penerbangan dan kesaksian hukum yang telah terungkap.

Sebagai pebisnis, Raymond mengaku bukan hanya ngeri pada kejahatan Epstein, tetapi pada mekanisme bisnis gelap yang membuat seorang mantan narapidana bisa memiliki akses VIP ke Gedung Putih, berfoto dengan Ratu Inggris, hingga dilindungi bank-bank raksasa.

“Yang bikin gua merinding itu bukan cuma kejahatannya, tapi sistemnya. Kok bisa bank sekelas JP Morgan rela melanggar aturan demi ngelindungi transaksi haramnya?” ujar Raymond.

Baca juga: Tudingan Epstein Jadi Agen Badan Intelijen Israel Mossad Mencuat Dalam Dokumen FBI

Menurutnya, titik balik Epstein terjadi saat ia dekat dengan miliarder Amerika Leslie Wexner, pendiri Victoria’s Secret.

Epstein disebut memperoleh power of attorney, kuasa hukum penuh yang tidak lazim di dunia finansial.

“Dia bukan kaya karena bisnis. Dia punya akses ke duit karena dikasih akses. Dari situ semua pintu kebuka,” katanya.
Sains dan Filantropi sebagai Topeng

Raymond menyebut Epstein menggunakan sains dan filantropi sebagai pintu masuk ke lingkaran elite intelektual dunia.

“Dia rebranding jadi science philanthropist. Nyumbang ke Harvard, MIT, dan danai riset-riset aneh. Itu pintu belakang buat masuk ke Bill Gates, Stephen Hawking, dan elite lainnya,” ucap Raymond.

Menurutnya, legitimasi sosial itu membuat reputasi Epstein “tercuci”, meski di balik layar kejahatan terus berlangsung.

Baca juga: Bocor Isi Dokumen Epstein, Muncul Dugaan Kiswah Kain Penutup Ka’bah Dijual ke Jeffrey Epstein

Honey Trap dan Blackmail Elite Dunia

FILE BARU EPSTEIN - Foto Jeffrey Epstein (TENGAH) dengan orang-orang di lingkarannya. Namanya kembali mencuat setelah Departemen Kehakiman AS (DOJ) merilis sejumlah berkas baru terkait mendiang Jeffrey Epstein pada Jumat (30/1/2026). Epstein yang merupakan pengusaha kaya raya asal Amerika Serikat, sekaligus terpidana kasus pelecehan seksual anak kini dikaitkan dengan rekayasa pandemi global yang turut mencatut nama  Bill Gates.
FILE BARU EPSTEIN - Foto Jeffrey Epstein (TENGAH) dengan orang-orang di lingkarannya. Namanya kembali mencuat setelah Departemen Kehakiman AS (DOJ) merilis sejumlah berkas baru terkait mendiang Jeffrey Epstein pada Jumat (30/1/2026). Epstein yang merupakan pengusaha kaya raya asal Amerika Serikat, sekaligus terpidana kasus pelecehan seksual anak kini dikaitkan dengan rekayasa pandemi global yang turut mencatut nama Bill Gates. (Akun X @JefferyEplsein via tangkap layar Youtube Tribunnews)

Salah satu bagian paling mengerikan, menurut Raymond, adalah dugaan jebakan dan pemerasan sistematis.

Ia mengklaim FBI menemukan sistem kamera tersembunyi di properti Epstein, termasuk di pulau Little St. James.

“Dia ngumpulin kompromat. Ribuan jam rekaman elite dunia lagi ngelakuin kejahatan. Itu kartu as-nya,” ujar Raymond.

Dengan cara itu, kata Raymond, Epstein disebut mampu “menyandera moralitas” orang-orang yang seharusnya menegakkan hukum.

Baca juga: DAFTAR 5 Nama Orang Penting Indonesia Muncul di Dokumen Epstein: Ada Jokowi dan Sri Mulyani

Nama Indonesia Disebut dalam Dokumen?

DOKUMEN EPSTEIN - Dokumen Epstein yang dibuka ke publik memicu kehebohan di Indonesia setelah kata “Indonesia” disebut ratusan kali. Nama-nama pejabat dan pengusaha nasional ikut tercantum, termasuk Jokowi dan Sri Mulyani.
DOKUMEN EPSTEIN - Dokumen Epstein yang dibuka ke publik memicu kehebohan di Indonesia setelah kata “Indonesia” disebut ratusan kali. Nama-nama pejabat dan pengusaha nasional ikut tercantum, termasuk Jokowi dan Sri Mulyani. (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

Raymond juga menyinggung ramainya pembahasan soal dokumen yang menyebut nama-nama dari Indonesia.

“Ini bukan hubungan langsung ya. Tapi unik aja kenapa nama elite politik Indonesia bisa muncul. Kalian bisa baca sendiri,” katanya, sembari memberi disclaimer agar publik tidak menarik kesimpulan prematur.

Di akhir videonya, Raymond menilai kematian Epstein tidak otomatis memutus jaringan kejahatan.

“Epstein itu gejala, bukan penyakitnya. Penyakitnya sistem di mana uang dan kekuasaan bisa membengkokkan hukum,” ujarnya.
Ia mempertanyakan apakah jaringan serupa masih beroperasi di berbagai negara, termasuk kemungkinan di Indonesia.

“Menurut gua, pasti ada. Tinggal ketahuan atau belum,” kata Raymond.

Kasus Jeffrey Epstein

Jeffrey Epstein adalah pelaku kejahatan seksual dan perdagangan seks anak di bawah umur berskala internasional, yang membangun kekuasaan lewat uang, akses elite, dan jaringan pemerasan terhadap tokoh-tokoh berpengaruh dunia.

Epstein ditemukan tewas di sel penjaranya di New York pada Agustus 2019 saat menunggu persidangan atas kasus perdagangan seks.

Secara resmi ia dinyatakan bunuh diri, namun kematiannya memicu banyak teori konspirasi global karena terjadi tepat saat ia mulai berpotensi membongkar nama-nama besar lainnya, ditambah lagi dengan rusaknya CCTV penjara pada saat kejadian.

Ringkasnya, Jeffrey Epstein adalah simbol dari sisi tergelap kekuasaan global, di mana uang dan akses digunakan untuk mengeksploitasi orang yang lemah sekaligus menyandera moralitas para pemimpin dunia.

(SURYAMALANG.COM/WARTAKOTALIVE.COM)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.