TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans), Viva Yoga Mauladi mengungkapkan bahwa Perhimpunan Anak Transmigran Republik Indonesia (PATRI) sebagai organisasi mitra strategis bagi Kementerian Transmigrasi (Kementrans).
Sebab itu, sinergi menjadi kunci utama untuk menyukseskan program kerja Kementerian di kawasan transmigrasi yang fokus pada peningkatan pertumbuhan ekonomi, pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, menciptakan peluang serta lapangan kerja baru melalui pengembangan produk unggulan kawasan.
"Kementerian Transmigrasi di tahun 2026 ini akan melakukan program-program sesuai arahan dari Bapak Prabowo, untuk merealisasikan visi Asta Cita Presiden," kata Viva Yoga, saat menutup Rapat Kerja Nasional (Rakernas) V PATRI di Aula Arjuna Balai BPPMT Yogyakarta, Sabtu (7/2/2026) malam.
Rakernas V PATRI ini menjadi momen bersejarah karena diikuti sejumlah pengurus dan anggota dari wilayah Aceh hingga Papua. Viva mengatakan, Kementerian Transmigrasi membuka ruang kolaborasi bagi mitra swasta dan para investor agar kawasan transmigrasi mampu tumbuh menjadi pusat ekonomi baru serta mampu mengembangkan produk unggulan. Langkah ini penting untuk meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus kemandirian ekonomi.
Muara dari transformasi kawasan transmigrasi ini adalah menciptakan peluang usaha baru secara ekonomi. Tujuannya untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat, pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) agar lebih unggul sehingga ide gagasan di kawasan transmigrasi ini bisa berkembang dengan cepat.
"Melalui beberapa ide dan gagasan itu maka dapat menciptakan pengembangan ekonomi yang lebih inovatif dan kreatif," katanya.
Rakernas PATRI kali ini bertepatan dengan usia organisasi yang menginjak 22 tahun sejak didirikan pada 2004 lalu.
Peserta rakernas diikuti oleh perwakilan dari 16 Provinsi dan dihadiri tiga Bupati yaitu Bupati Tebo, Sleman dan Gunungkidul.
Sekertaris Jenderal DPP PATRI, Imam Muhadi mengatakan program transmigrasi yang telah berjalan lebih kurang 20 tahun ini memiliki tingkat keberhasilan hingga 80 persen.
Namun bukan berarti tidak ada kegagalan. Ia memberikan catatan kritis kegagalan program ini, misalnya beberapa wilayah transmigrasi di Kalimantan Tengah yang masyarakatnya tidak bisa menanam padi maupun palawija karena tingkat keasaman tanah dan kondisi lahan yang tidak memungkinkan ditanami.
Kondisi sarana dan prasarana jalan di kawasan transmigrasi juga tidak sama. Imam menyebut, ada beberapa wilayah yang hampir belum tersentuh pembangunan. Bahkan warga mau berobat saja susah, karena kendaraan tidak bisa melintas. Karena itu, poin utama dari agenda lima tahunan ini adalah bagaimana PATRI bisa berkolaborasi aktif dengan kementerian, terutama merevitalisasi wilayah transmigrasi yang selama ini berada dibawah kemiskinan.
"Kami ingin membangun membangkitkan kembali ekonominya, terutama di wilayah yang tidak tersentuh oleh kue pembangunan," kata Imam.(*)