Moody's Turunkan Outlook Lima Bank di Indonesia, Begini Dampaknya Terhadap Perbankan RI
Seno Tri Sulistiyono February 08, 2026 06:29 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai perubahan outlook lima bank di Indonesia dari stabil menjadi negatif oleh Moody’s Ratings berpotensi memengaruhi biaya pendanaan perbankan.

Dikutip dari situs moodys.com, Moody's Ratings adalah lembaga pemeringkat yang menerbitkan peringkat kredit dan menyediakan layanan penilaian atas berbagai kewajiban utang, program dan fasilitas pembiayaan, serta entitas yang menerbitkan kewajiban tersebut di pasar global, termasuk beragam kewajiban korporasi, lembaga keuangan, dan pemerintah, serta sekuritas pembiayaan terstruktur.

Menurut situs Investopedia, peringkat yang dirilis Moody's digunakan oleh berbagai institusi, individu, maupun entitas dunia, di antaranya reksadana, dana pensiun, perusahaan asuransi, dan hedge fund. 

Baca juga: Struktur Pembiayaan Lemah Sejak Awal, Kreditur Gagal Memulihkan Nilai Kredit

Selain itu, investor institusional yang mengelola portofolio besar memanfaatkan peringkat kredit untuk menilai risiko yang terkait dengan obligasi korporasi serta instrumen utang lainnya.

Myrdal menjelaskan bahwa dampak paling terasa dari perubahan outlook lima bank di Indonesia oleh Moody's adalah adanya kemungkinan meningkatnya biaya saat bank menerbitkan surat utang global.

"Secara umum sih paling kentara itu bisa membuat adanya kenaikan biaya untuk perbankan Indonesia dalam menerbitkan utang global," kata Myrdal kepada Tribunnews, Sabtu (7/2/2026).

Selain itu, perubahan ini juga berpotensi mendorong kenaikan yield obligasi perbankan yang sudah beredar, sehingga berdampak pada penurunan harga surat utang di pasar.

"Walaupun perbankan kita yang sudah menerbitkan surat utang, kelihatannya dampaknya paling kentara yield mereka akan naik," ujar Myrdal.

"Kalau di pasar surat utang negara sekunder, itu akan membuat harga dari obligasi atau surat utang dari perbankan tersebut akan turun ya harganya,” jelasnya.

Namun, ia menilai berbagai dampak ini tidak akan signifikan karena yang berubah baru sebatas outlook, bukan peringkat utamanya.

Ia pun menekankan kondisi fundamental perbankan nasional masih relatif solid dengan likuiditas membaik, permodalan kuat, serta tingkat kredit bermasalah yang tetap terjaga rendah.

Perhatian pasar belakangan dinilai lebih tertuju pada penurunan profitabilitas perbankan yang terlihat dari indikator seperti net interest margin dan return on equity yang melemah dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut Myrdal, itu yang membuat beberapa bulan terakhir saham-saham perbankan, khususnya yang besar, tidak menjadi primadona buat investor di pasar saham.

Dalam pengumumannya pada 6 Februari 2026, Moody's Ratings menyatakan telah mengubah outlook lima bank di Indonesia dari negatif menjadi stabil, tetapi peringkat kreditnya masih tetap sama.

Dalam pengumumannya, Moody’s menegaskan peringkat kredit, peringkat simpanan, peringkat senior unsecured, Counterparty Risk Ratings (CRR), Counterparty Risk Assessments (CRA), serta Baseline Credit Assessment dan Adjusted Baseline Credit Assessment untuk seluruh bank tersebut.

Selain itu, Moody’s juga menegaskan peringkat utang subordinasi dan saham preferen BNI serta peringkat program MTN senior unsecured Bank Mandiri.

Berikut pertimbangan Moody's mengubah outlook masing-masing bank:

1. Bank Mandiri

Dari sisi kinerja individual, Moody’s menilai Bank Mandiri masih memiliki permodalan, pendanaan, dan profitabilitas yang baik.

Namun, lembaga pemeringkat tersebut menyoroti penurunan buffer modal, risiko kredit dari pertumbuhan kredit yang sebelumnya agresif, serta tingginya eksposur ke sektor komoditas dan sektor berisiko tinggi.

Rasio permodalan bank pelat merah tersebut diperkirakan turun ke kisaran 14,5 sampai 15 persen pada 2026 akibat dividen tinggi dan pertumbuhan aset tertimbang menurut risiko yang diperkirakan sebesar 10 persen pada 2026.

Rasio ini merupakan yang terendah di antara bank komersial Indonesia yang di peringkat Moody’s.

2. BRI

Untuk BRI, Moody’s menilai bank ini tetap memiliki profitabilitas dan permodalan yang sangat kuat.

Risiko aset diperkirakan tetap tinggi pada 2026 dan 2027 karena eksposur signifikan pada kredit UMKM berisiko lebih tinggi.

Tak hanya itu, profitabilitas BRI diperkirakan menurun pada 2026 akibat tekanan margin bunga dan biaya kredit yang masih tinggi.

Permodalan diperkirakan turun ringan akibat dividen tunai tinggi, namun tetap sangat kuat. Pendanaan dan likuiditas tetap solid.

"Seperti Mandiri, peringkat BRI tidak memperoleh uplift tambahan karena Baseline Credit Assessment sudah setara dengan peringkat sovereign," tulis Moody’s.

3. BNI

Sementara itu, BNI dinilai memiliki permodalan yang kuat dan struktur pendanaan yang stabil, meskipun profitabilitasnya relatif lebih rendah dibandingkan bank sekelasnya.

Profitabilitas BNI diperkirakan menurun akibat pengetatan NIM. Peringkat juga mempertimbangkan risiko aset dari kredit restrukturisasi dan special mention loans, meski kualitas aset diperkirakan relatif stabil.

"Peringkat simpanan Baa2 mencerminkan probabilitas dukungan pemerintah yang sangat tinggi, sehingga terdapat uplift satu notch dari Baseline Credit Assessment baa3," tulisnya.

4. BCA

Untuk BCA, Moody’s menegaskan kekuatan utamanya berada pada kualitas aset yang solid dan profitabilitas yang sangat tinggi, ditopang oleh dominasi di bisnis transaction banking.

Permodalan dan likuiditas BCA juga kuat. Permodalan diperkirakan menurun ringan karena dividen dan pertumbuhan kredit, namun tetap sangat kuat.

Meski demikian, peringkat Baseline Credit Assessment BCA tetap dibatasi oleh peringkat kredit Indonesia sebagai sovereign.

5. BTN

Sementara BTN dinilai masih menghadapi tantangan struktural, terutama tingginya porsi restrukturisasi kredit dan rendahnya tingkat pencadangan dibandingkan risiko aset.

Moody’s menilai profitabilitas BTN di 2026 diperkirakan stabil, namun akan jauh lebih rendah jika pencadangan dilakukan secara memadai. Pendanaan stabil dan sebagian besar berbasis simpanan.

"Peringkat simpanan Baa2 BTN mencerminkan probabilitas dukungan pemerintah yang sangat tinggi, menghasilkan uplift tiga notch dari BCA ba2, mengingat peran sistemik BTN dan kepemilikan mayoritas pemerintah," tulis Moody’s.

Dampak ke Nasabah Bank

Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan, penurunan outlook RI pastinya akan meningkatkan bunga surat utang atau obligasi, karena investor cenderung meminta imbal hasil lebih tinggi. 

"Efeknya terasa pada harga obligasi (yield naik) dan biaya penerbitan utang baru, baik untuk pemerintah maupun korporasi," ujarnya dikutip Sabtu (7/2/2026).

Naiknya bunga obligasi akan memberikan beban terhadap APBN dalam membayar bunganya, sebab pemasukan APBN salah satunya dari penerbitan surat utang.

Kemudian, dampak kedua yaitu tekanan terhadap nilai tukar rupiah. 

Syafruddin menyampaikan, outlook negatif ini memperkuat persepsi risiko kebijakan, sehingga minat terhadap aset berdenominasi rupiah melemah. 

"Pelemahan rupiah berpotensi mendorong inflasi, terutama melalui kenaikan harga barang impor dan biaya produksi. Ketika kredibilitas kebijakan moneter dipertanyakan, volatilitas nilai tukar dan inflasi cenderung lebih mudah meningkat," tutur dia.

Dampak Ketiga yakni arus modal dan pasar saham tertekan. 

Sebab menurut Syafruddin, outlook negatif mendorong sikap “risk-off” investor asing. Arus jual di pasar saham dan tekanan terhadap IHSG menunjukkan bahwa pasar merespons melalui pergerakan harga, bukan sekadar wacana.

Syafruddin menekankan bahwa dampak penurunan outlook ini pada akhirnya juga bisa dirasakan masyarakat luas. 

Pertama, harga dan daya beli akan tertekan.

"Rupiah yang melemah membuat harga barang impor seperti pangan, energi, obat-obatan, dan bahan baku naik, yang bisa diteruskan ke harga jual," ujar dia.

Kemudian, bunga kredit naik dan akses pembiayaan mengetat. 

Ia menjelaskan, kenaikan yield obligasi membuat biaya dana perbankan meningkat. 

Bank cenderung menaikkan suku bunga kredit atau menahan ekspansi pembiayaan, yang paling cepat dirasakan oleh UMKM, kredit perumahan (KPR), dan pembiayaan kendaraan.

Selain itu, lapangan kerja juga akan terdampak. Syafruddin menyebut, ketidakpastian kebijakan dapat menahan investasi baru. 

Jika investasi tertunda, pembukaan lapangan kerja dan pertumbuhan pendapatan masyarakat ikut melambat.

"Intinya, outlook negatif bukan vonis, tetapi peringatan. Indonesia dapat membalik persepsi pasar jika pemerintah mengunci prediktabilitas kebijakan, memperbaiki kualitas komunikasi, dan memperkuat institusi yang menjaga stabilitas. Dalam siklus keuangan global, kredibilitas kebijakan menentukan ruang gerak negara," paparnya.
 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.