Cerita Obi, Pemuda Makassar Menempa Diri di Negeri Gurun: Tantangan Suhu dan Beda Budaya Kerja
Seno Tri Sulistiyono February 08, 2026 06:29 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, ABU DHABI - Obi (24) pemuda asal Makassar, Sulawesi Selatan, menjadi salah satu warga negara Indonesia yang bekerja di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA).

Ia bekerja sebagai waiters alias pramusaji magang di Hotel St. Regis Saadiyat Resort, Saadiyat Island, Abu Dhabi. 

Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa semester akhir, ia nekat mengurus segalanya secara mandiri. Ia datang ke UEA bersama 3 rekannya yang magang di lokasi berbeda. 

Baca juga: Megawati dan Dubes Judha Berdialog 1,5 Jam di KBRI UAE: Persoalan WNI hingga Geopolitik Timur Tengah

Berbekal keberanian dan status magang dari kampus selama 6 bulan, ia mendarat di tanah yang suhu panasnya bisa keburu merontokkan nyali perantau.

Perbedaan Suhu Ekstrem Jadi Tantangan

Cuaca menjadi salah satu tantangan alam terbesar bagi Obi. Ia tiba di Dubai saat puncak musim panas, di mana suhu bisa menyentuh angka 45 derajat Celcius, terlalu ekstrem bagi warga di Indonesia terbiasa di suhu rerata 31 derajat Celcius.

"Malam hari saja susah bernapas. Mau turun ke bawah buat merokok saja malasnya luar biasa karena saking panasnya," ucap Obi sambil tertawa di sela - sela tugasnya sebagai pramusaji saat jam sarapan, di Hotel St. Regis Saadiyat, Abu Dhabi, Jumat (6/2/2026).

Perubahan suhu yang ekstrem dari panas yang membakar menuju musim dingin sempat membuat imunnya tumbang. 

Butuh waktu berminggu-minggu bagi tubuh 'tropis'-nya untuk terbiasa dengan suhu 16 derajat yang menusuk tulang. Mulanya dia masih menggigil kedinginan hingga harus memakai baju berlapis. Setelah dua minggu bekerja, tubuhnya mulai terbiasa.

Namun, peralihan suhu ekstrem itu terbayar dengan jumlah finansial yang didapatkan. Meski biaya hidup di UEA berlipat ganda ketimbang Indonesia, tetapi pengeluaran bulanannya hanya 30 persen dari upah yang diterima, sebuah rasio yang sulit didapat di banyak kota besar di Indonesia.

"Kalau hitungan dari gaji, biaya hidup di sini overall balance lah. Dari gaji itu, paling cuma 30 persen buat biaya hidup sudah cukup," kata Obi yang bercerita dengan antusias. 

Kesenjangan Budaya Kerja RI - UEA

Obi mengatakan, banyak anak muda Indonesia minder duluan ketika mencari kerja di tanah air. Syarat 'langit' dianggapnya terasa seperti melamar untuk menjadi malaikat.

Obi yang berkulit sawo matang menyebut 'berpenampilan menarik' kerap menjadi tembok penghalang ketika melamar kerja di Indonesia. Ia gerah dengan standar tersebut.

Di UEA khususnya Abu Dhabi, Obi diterima dengan baik tanpa sedikitpun dinilai dari tampilan fisik, atau tinggi badan. Sedangkan soal tekanan kerja, Obi lebih merasakannya di UEA.

"Di sini pressure-nya jauh lebih kerasa dibanding di Indo," kenang Obi saat berbincang di tengah cuaca Dubai yang Februari ini masih bersahabat.

Di tempatnya bekerja kata dia, lebih mengutamakan kemampuan atau skil dan pengetahuan. Setiap pekerja harus terus memiliki progres setiap hari, dan target hingga punya kemampuan meyakinkan pelanggan. 

"Di sini mengutamakan skill dan knowledge. Setiap hari kita dituntut belajar hal baru. Progresnya nggak boleh lambat. Kita harus terus bergerak, mulai dari target up-selling sampai urusan meyakinkan orang," ceritanya. 

Bagi Obi, lingkungan seperti ini justru memanusiakannya sebagai pekerja yang dihargai karena kemampuan, meski ia tak menampik adanya dinamika sosial antar-negara yang terkadang memunculkan rasa senioritas kelompok tertentu.

Bidik Kerja di Eropa

Meski sudah mulai nyaman dengan ritme Dubai, jiwa petualang pemuda yang sempat menetap 3 tahun di Bali ini belum terpuaskan. 

Dubai baginya hanya sebuah 'sekolah' besar. Setelah lulus kuliah nanti, matanya tertuju pada cakrawala yang lebih jauh yakni Eropa. Ada dua negara yang menjadi tujuannya, Kroasia dan Hungaria.

"Aku ingin ke Kroasia atau Budapest," ungkapnya.

Bukan semata soal nilai mata uang yang lebih kuat, Obi mengejar infrastruktur dan suasana hidup yang berbeda, meski ia tahu ia akan kembali berhadapan dengan musuh bagi tubuhnya yaitu suhu dingin ekstrem.

"Kayaknya nggak lanjut di sini. Mau cari negara lain. Mau coba kehidupan di luar lagi. Aku sih mau tinggal di Eropa. Lebih tepatnya mungkin Kroasia atau Budapest. Pertama karena mata uang, kedua karena suasananya, mulai dari infrastruktur, vibes-nya, lebih berminat ke sana," pungkasnya. 

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.