Hujan pernah menjadi saksi saat Divia Citra Muliya Prima Saputri duduk sendiri di sudut kamarnya di Jombang, menahan kecewa karena satu pintu menuju masa depan tertutup di hadapannya. Saat itu, ia tak tahu bahwa kegagalan tersebut justru akan mengantarkannya pada jalan yang jauh lebih besar. Dari bangku MAN 2 Jombang hingga akhirnya berdiri sebagai Mahasiswa Berprestasi Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang 2026, perjalanan Divia adalah kisah tentang jatuh, bangkit, dan keberanian untuk terus melangkah.
TRIBUNMATARAMAN.COM - Perjalanan Divia Citra Muliya Prima Saputri menuju gelar Mahasiswa Berprestasi Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM) 2026 berawal dari fase penting dalam hidupnya saat menempuh pendidikan di MAN 2 Jombang.
Masa sekolah menengah atas tersebut menjadi periode pembentukan karakter yang penuh ujian dan perjuangan. Berbagai kegagalan yang dialami justru membentuk ketangguhan mental saat ia melangkah ke dunia perkuliahan.
Lahir di Jombang pada 28 Desember 2005, Divia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menjadi penopang utama setiap langkahnya.
Dukungan orang tua membuatnya terus berusaha bangkit setiap kali menghadapi kegagalan. Pengalaman tersebut membentuk prinsip hidup Divia untuk menjalani pendidikan dengan sungguh-sungguh dan tidak mudah menyerah.
Masa belajar di MAN 2 Jombang menjadi titik penting dalam perjalanan akademiknya. Ia aktif mengikuti berbagai perlombaan, khususnya di bidang bahasa dan sastra, meskipun tidak semua upaya berakhir dengan kemenangan. Divia memaknai fase tersebut sebagai masa “hujan” dalam hidupnya.
“Saya memaknai masa MAN itu sebagai masa hujan, karena di masa itulah saya benar-benar jatuh bangun mencari satu jalan menuju keberhasilan,” ujar Divia kepada TribunMataraman.com, Jumat (6/2/2026).
Di sekolah itu pula, ketertarikan Divia terhadap dunia bahasa semakin berkembang. Ia mengambil jurusan bahasa dan mendapat kesempatan mempelajari bahasa Prancis hingga mengikuti ujian Diplôme d’Études en Langue Française (DELF), sertifikat bahasa Perancis resmi yang berlaku seumur hidup.
Di sisi lain, kecintaannya pada sastra terus tumbuh melalui aktivitas membaca dan menulis, yang mengantarkannya meraih juara dua cipta baca puisi pada ajang PORSENI tingkat Provinsi Jawa Timur.
Namun, perjalanan Divia di MAN 2 Jombang tidak selalu berjalan mulus. Salah satu momen paling berat yang dialaminya adalah ketika tidak dapat mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) akibat kendala administratif.
Peristiwa tersebut sempat membuatnya merasa seluruh usaha dan prestasi yang telah diraih menjadi sia-sia.
“Sejak kejadian itu saya percaya bahwa SNBP bukan satu-satunya pintu menuju kesuksesan. Mungkin, jika saya tidak mengalami tragedi itu bisa saja saya tidak akan mendapatkan golden ticket ini. Kalimat semua pasti ada hikmahnya itu memang benar adanya,” katanya.
Peralihan dari siswa MAN 2 Jombang menjadi mahasiswi Universitas Negeri Malang menjadi babak baru dalam perjalanan Divia.
Ia diterima di Program Studi S1 Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah dengan beasiswa penuh. Seluruh pengalaman selama di bangku sekolah ia jadikan bekal utama untuk menghadapi dunia perkuliahan yang menuntut kemandirian dan konsistensi.
Sejak semester pertama, Divia mulai menorehkan prestasi di tingkat nasional. Ia meraih juara satu cipta cerpen nasional yang diselenggarakan oleh UIN Sunan Ampel Surabaya.
Prestasi tersebut memicu semangatnya untuk terus mengikuti berbagai kompetisi, meskipun perjalanan yang ditempuh tidak selalu mulus dan kerap diwarnai kegagalan.
Selain aktif mengikuti lomba, Divia juga menekuni dunia kepenulisan secara serius. Ia menulis puisi, cerpen, serta karya nonfiksi, salah satunya buku antologi nonfiksi yang telah terbit dan tersebar di jaringan toko buku Gramedia nasional.
Padatnya aktivitas akademik dan nonakademik membuat Divia harus pandai mengatur waktu agar seluruh tanggung jawabnya tetap berjalan beriringan.
Pada semester tiga, Divia mendapat dorongan untuk mengikuti ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.
Dengan prinsip untuk selalu mencoba hal-hal positif, ia mengikuti seluruh rangkaian seleksi dengan sungguh-sungguh. Proses tersebut mengantarkannya meraih Juara 3 Mahasiswa Berprestasi Fakultas Sastra UM 2026.
Bagi Divia, gelar mawapres bukan sekadar pencapaian formal, melainkan cerminan kesungguhan dalam menjalani pendidikan.
“Arti gelar mawapres bagi saya adalah siapapun kalian yang kuliah dengan tekun dan sungguh-sungguh maka kalian sudah menjadi mawapres, meskipun tanpa dilabeli dari ajang pilmapres itu sendiri,” tegasnya.
Kini, Divia terus melangkah dengan prinsip yang sama seperti saat ia berjuang di MAN 2 Jombang. Ia tetap aktif belajar, mengikuti perlombaan, dan membuka diri terhadap berbagai kesempatan.
Perjalanan panjang yang dimulai dari masa “hujan” di bangku sekolah menjadi fondasi kuat baginya untuk terus melangkah menuju fase berikutnya hingga suatu saat dapat berada di titik masa “pelangi”. (Mutiara Nora Ayu/TribunMataraman.com)
(tribunmataraman.com)