TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Program Kelas Khusus Olahraga (KKO) untuk mencetak atlet pelajar berprestasi sekaligus memenuhi kebutuhan pendidikan mereka di Kota Semarang, Jawa Tengah, dinilai tak berjalan efektif.
Selama menjalani KKO, para atlet tersebut mendapat beban pendidikan yang sama dengan pelajar umum sehingga bisa menghambat fokus mereka meraih prestasi di bidang olahraga.
Hal ini menjadi sorotan Kabid Bina Masyarakat Satpol PP kota Semarang Sigid Widiyanto dalam disertasi yang diujikan dalam sidang terbuka Program Doktor (S3) Pendidikan Olahraga Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Semarang (Unnes), Kamis (5/2/2026).
"Siswa KKO memiliki beban latihan yang berbeda dengan siswa umum."
"Kalau sistem pembelajarannya disamakan, tentu akan menjadi hambatan."
"Perlu ada kebijakan yang lebih adaptif," katanya, dalam rilis yang diterima, Minggu (8/2/2026).
Baca juga: Kota Semarang Kini Punya Kelas Khusus Olahraga Tingkat SMP, Angkatan Pertama Lolos 48 Siswa
Sigid menilai, butuh penguatan koordinasi lintas instansi agar pembinaan atlet pelajar berjalan lebih optimal dan berkelanjutan.
Selama ini, pelaksanaan KKO melibatkan Dinas Pendidikan (Disdik) dan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora).
Namun, sinkronisasi kebijakan di antara keduanya belum sepenuhnya berjalan seirama sehingga berdampak pada pola pembinaan atlet usia sekolah.
Sigid menilai, sistem pembelajaran dan pola latihan yang diterapkan belum sepenuhnya menyesuaikan kebutuhan siswa KKO.
Menurut Sigid, penyesuaian sistem pembelajaran merupakan hal mutlak agar prestasi akademik dan olahraga dapat berjalan beriringan.
Sebagai figur yang lama berkecimpung di dunia olahraga, Sigid tercatat pernah menduduki sejumlah jabatan strategis, di antaranya Plt Sekretaris KONI Kota Semarang, Manajer Tim Pencak Silat SMP Negeri 3 Semarang, Ketua Panitia Forda Kota Semarang, Ketua Umum Pengkot IODI Semarang, Kasi Kemitraan dan Penghargaan Olahraga Dispora Kota Semarang, Sekretaris Bapopsi Kota Semarang, serta Ketua Kontingen Peparpeda Kota Semarang.
Dalam disertasi berjudul Evaluasi Program Kelas Khusus Olahraga di SMP Negeri 3 Semarang Menuju Peningkatan Prestasi Olahraga Pelajar, Sigid mengulas secara komprehensif efektivitas KKO sebagai model pembinaan atlet usia sekolah di Kota Semarang.
Ia menilai, evaluasi tersebut penting dilakukan karena masih ditemukan sejumlah persoalan dalam pelaksanaan program, terutama saat memasuki agenda kompetisi seperti Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda).
Menurutnya, perbedaan penanganan antarbidang kerap memicu ketidaksinkronan dalam pembinaan atlet pelajar.
"Pembinaan sebenarnya sudah berjalan tetapi ketika masuk agenda kompetisi seperti Popda, koordinasinya belum solid."
"Ini karena masing-masing bidang berjalan sendiri-sendiri," ungkap Sigid.
Baca juga: Tanggapi Stand Up Comedy Pandji Pragiwaksono, Pakar Bahasa Unnes sebut Humor Memang Selalu Politis
Sigid menambahkan, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa KKO belum sepenuhnya didukung sistem pendukung atlet yang memadai.
Beberapa temuan di antaranya, masih belum tersedianya pelatih fisik khusus, belum adanya layanan fisioterapi dan pemantauan kondisi atlet secara berkala, serta pengaturan nutrisi yang belum mengacu pada standar atlet prestasi.
"Fasilitas latihan dan sarana pendukung juga masih disamakan dengan siswa reguler. Padahal, kebutuhan atlet tentu berbeda," katanya.
Melalui disertasinya tersebut, Sigid berharap, ke depan, dapat terbangun sinergi yang lebih kuat di antara seluruh pemangku kepentingan sehingga pembinaan olahraga pelajar di Kota Semarang memiliki arah, sistem, dan visi yang sama.
Sidang terbuka program doktoral Sigid tersebut juga berlangsung istimewa dengan kehadiran Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti sebagai salah satu penguji.
Selain Wali Kota Agustina Wilujeng, duduk sebagai tim penguji adalah Dr Andry Akhiruyanto SPd MPd, Dr Sri Handayani MPd, Prof Sri Sumartiningsih SSi MKes PhD, Donny Wira Yudha Kusuma MPd PhD, serta Prof Dr Heny Setyawati MSi. (*)