- Masalah anak susah makan kerap menjadi tantangan emosional bagi banyak ibu.
Rasa lelah setelah memasak, harapan anak mau menghabiskan makanan, hingga kecewa saat anak justru meminta camilan, sering kali memicu konflik kecil di rumah.
Artis sekaligus ibu dua anak, Nikita Willy, membagikan pengalamannya menghadapi situasi tersebut.
Ia menegaskan bahwa reaksi emosional orangtua dalam kondisi lelah adalah hal yang manusiawi.
“Memang rasanya tuh apa ya, pengen tantrum ketika kita sudah capek-capek masak Tapi anaknya tiba-tiba gak mau makan dan saya ngerti banget perasaan itu Dan itu perasaan yang wajar,” ujar Nikita pada acara Live Podcast Boostopia by Expertboost Pahami Strategi Optimalkan Nutrisi Anak, Bekal Peace of Mind Orang Tua!” di Pondok Indah Mall, Jakarta Selatan, Sabtu (7/2/2026).
Menurut Nikita, kunci utama dalam menghadapi anak susah makan adalah konsistensi, terutama ketika anak sudah terbiasa mengonsumsi makanan keluarga.
Ia memilih untuk tidak langsung mengalah ketika anak menolak makanan utama dan meminta camilan.
Nikita menilai, anak tetap memiliki rasa lapar secara alami.
Karena itu, orangtua tidak perlu panik atau merasa gagal ketika anak menolak makan di jam yang ditentukan.
“Anak tuh gak mungkin gak mempunyai rasa lapar. Jangan ketika anak tidak mau makan sesuatu yang kita sudah kita berikan Kita langsung memberikan apa yang dia mau,” katanya.
Dalam praktiknya, Nikita mengaku memilih membiarkan anak mengenali rasa laparnya sendiri.
Jika anak menolak makan dan meninggalkan meja, ia tidak langsung memaksa.
Namun, dirinya juga tidak memberikan alternatif makanan yang diinginkan anak sebelum makanan utama dihabiskan.
Pendekatan ini, menurut Nikita, membantu anak memahami batasan dengan lebih jelas.
Anak belajar bahwa camilan bukan pengganti makanan utama, melainkan sesuatu yang datang setelah kewajiban makan terpenuhi.
“Kalau misalnya karena dia gak mau makan terus ibu langsung kasih apa yang dia mau Biasanya dia tahu ibu tuh gampang banget tuh Aku tanya sedikit pasti langsung dikasih,” ujarnya.
Nikita menambahkan, tantrum pada anak usia balita adalah fase yang wajar.
Yang terpenting, orangtua tetap menjaga ketenangan dan tidak memperlihatkan luapan emosi di depan anak.
Baginya, pola makan yang konsisten dan suasana emosional yang aman akan membentuk kebiasaan jangka panjang pada anak.