Mirisnya Rumah Aan di Ciamis, Lapuk dan Tanpa Pondasi, Belum Tersentuh Bantuan Rutilahu
Seli Andina Miranti February 08, 2026 06:11 PM

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini

TRIBUNJABAR.ID, CIAMIS – Harapan sebuah keluarga di Dusun Linggamanik, Desa Panyingkiran, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, untuk mendapatkan bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) hingga kini belum terwujud, meski pengajuan telah dilakukan sejak empat tahun lalu.

Ketua RT 02, Dusun Linggamanik, Mugni, mengungkapkan bahwa pengajuan bantuan perbaikan rumah warga tersebut sudah disampaikan ke pemerintah desa sejak awal dirinya menjabat sebagai ketua RT di tahun 2022.

“Sudah pernah diajukan ke desa, sejak saya jadi ketua RT hampir empat tahun, dan pengajuan itu dilakukan sejak awal,” kata Mugni saat dikonfirmasi, Minggu (8/2/2026).

Baca juga: Pilu Taswan di Pangandaran, 10 Tahun Rumahnya Lapuk Tak Layak Huni, Baru Ditangani Pihak Desa

Ia menjelaskan, rumah tersebut dihuni oleh satu keluarga, terdiri dari pasangan suami istri dan dua orang anak. 

Sang kepala keluarga, Aan (40), sehari-hari bekerja sebagai penjual balon dengan penghasilan yang tidak menentu.

Sementara istri Aan juga hanya bekerja serabutan, dia bekerja jika ada yang memintanya seperti membersihkan rumput.

“Yang bersangkutan usianya sekitar 40 tahun. Kerjanya jualan balon, kadang ke anak-anak sekolah. Penghasilannya tidak pasti,” ujarnya.

Bahkan, seringkali hasil jualannya tidak mencukupi untuk makan keluarganya sehari-hari.

Untuk bantuan sosial lainnya, keluarga tersebut tercatat masih menerima PKH dan BPNT dari pemerintah. 

Namun, Mugni menilai bantuan tersebut belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus memperbaiki kondisi rumah.

“Kebutuhan sekolah anak juga masih ada. Anak yang kecil masih kelas 4 SD, kadang anaknya juga sampai tidak masuk sekolah karena tidak punya bekal jajan." katanya.

Menurut Mugni, kondisi rumah Aan saat ini sangat memprihatinkan. 

Baca juga: Pemkot Bandung Sudah Perbaiki 1.719 Rumah Tidak Layak Huni Melalui Program Rutilahu

Bangunan masih menggunakan material lama, tanpa pondasi yang memadai, dengan bagian rumah berbilik dan rangka kayu yang sudah lapuk.

“Rumahnya bukan panggung, tapi bawahnya tidak pakai pondasi. Usuk-usuknya juga sudah banyak yang patah. Kalau dilihat memang sudah tidak layak,” ungkapnya.

Ia menambahkan, rumah tersebut sudah pernah disurvei sebanyak dua kali dan telah diajukan oleh pihak desa. 

Namun, keterbatasan anggaran membuat realisasi bantuan belum bisa dilakukan.

“Sudah disurvei, sudah diajukan juga. Tapi katanya belum ada anggaran Rutilahu. Desa juga bingung karena harus mempertanggungjawabkan anggaran,” jelasnya.

Mugni juga menyebutkan bahwa pengajuan bantuan melalui UPZ sempat dilakukan, namun hingga kini belum terealisasi karena sistemnya giliran antar RW.

“Katanya sekarang giliran RW lain. RW sini dulu dapat tahun 2022, jadi sekarang belum kebagian lagi,” ucapnya.

Sebagai ketua RT, Mugni mengaku prihatin melihat kondisi warganya tersebut. 

“Mudah-mudahan ada respon, baik dari pemerintah maupun pihak lain, supaya rumahnya bisa segera diperbaiki. Kasihan,” pungkasnya.(*)

Baca juga: Roboh Diterjang Angin dan Gempa, Rumah Kakak Beradik di Pacet Bandung Ambruk Tak Layak Huni

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.