Laporan : Kiki Andriana
TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG – Masjid Agung Sumedang dinilai berhasil menghadirkan praktik keberagamaan yang inklusif dengan menyediakan layanan juru bahasa isyarat bagi jemaah tuli saat pelaksanaan Salat Jumat.
Inisiatif tersebut telah dijalankan secara konsisten sejak Desember 2024 dan mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Sumedang.
Penyediaan pemandu bahasa isyarat ini memungkinkan jemaah tuli memahami isi khutbah secara utuh.
Langkah tersebut sekaligus menegaskan peran masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga ruang bersama yang menjunjung nilai kesetaraan dan kepedulian sosial.
Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir mengapresiasi komitmen Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Agung Sumedang yang dinilainya istiqomah dalam mewujudkan masjid ramah difabel.
“Atas nama Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada DKM Masjid Agung Sumedang yang telah konsisten menjadikan masjid ini ramah difabel dan inklusif,” ujar Bupati dalam siaran yang dikutip Minggu (8/2/2026).
Menurut Dony, Masjid Agung Sumedang telah menyiapkan aksesibilitas yang memadai, baik dari sisi fasilitas fisik maupun layanan keagamaan.
Kehadiran pemandu bahasa isyarat setiap Jumat menjadi inovasi penting agar jemaah tuli tidak tertinggal dalam menerima pesan keagamaan.
“Dengan adanya pemandu isyarat, teman-teman tuli bisa mendapatkan pengetahuan keagamaan yang berdampak pada peningkatan iman dan takwa,” tambahnya.
Ia berharap Masjid Agung Sumedang terus menjadi pelopor dan rujukan bagi masjid-masjid lain dalam menghadirkan layanan keagamaan yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Semua orang punya hak yang sama untuk mendapatkan pengetahuan tentang keagamaan,” tegasnya.