SURYA.CO.ID , SURABAYA - Rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) kedua di Surabaya mendapat sorotan dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur.
Menurut lembaga ini, pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) menyimpan risiko jangka panjang.
Sampah diperlakukan sebagai bahan bakar yang harus terus tersedia, sehingga berpotensi melemahkan budaya reduce, reuse, recycle (3R).
“PLTSa tidak menyelesaikan akar masalah. Sampah hanya dibakar di TPA, bukan dikurangi dari sumbernya. Harusnya yang ditekan dari rumah tangga,” kata Lucky Wahyu, Divisi Advokasi WALHI Jatim.
Baca juga: Surabaya Bangun PLTSa Kedua, Sampah dari Gresik hingga Lamongan Ikut Diserap Demi Listrik
Di TPA Benowo, terdapat dua teknologi pengolahan sampah menjadi listrik.
Pertama, landfill gas collection. Sampah yang ditimbun menghasilkan gas metana, kemudian disedot melalui pipa untuk diolah menjadi listrik.
Daya yang dihasilkan dari sistem ini sekitar 2 megawatt, digunakan untuk operasional PLTSa.
Kedua, teknologi gasifikasi yang menghasilkan listrik untuk dijual ke PLN.
Dalam metode ini, sampah dibakar dalam kondisi minim oksigen hingga berubah menjadi gas.
Gas tersebut kemudian menggerakkan turbin pembangkit.
Namun, proses pembakaran dinilai berpotensi menimbulkan dampak kesehatan.
WALHI Jatim mencatat, pada November 2024 hingga Januari 2025, pihaknya melakukan pemantauan kualitas udara di sekitar PLTSa Benowo menggunakan alat AirBeam3.
“Standar WHO maksimal 15 mikrogram per meter kubik. Di Benowo, angkanya berkisar antara 27 hingga 100 mikrogram. Ini juga melampaui batas pemerintah dalam PP Nomor 22 Tahun 2021 sebesar 55 mikrogram. Pemkot Surabaya sempat membantah temuan tersebut, namun tidak menjelaskan metode dan teknologi yang digunakan," ungkap Aktivis lulusan Universitas Airlangga itu.
Baca juga: Warga Keluhkan Sejumlah Tempat Pembuangan dan Penampungan Sampah di Surabaya
Bagi WALHI, pengelolaan sampah yang ideal tetap berbasis 3R.
Lucky mencontohkan pengalaman China. Negeri Tirai Bambu itu sempat membangun PLTSa secara masif.
Namun setelah pemilahan sampah berjalan optimal, banyak pembangkit akhirnya ditutup karena kekurangan pasokan.
“Artinya, 3R jauh lebih efektif,” ujarnya.
Menurutnya, Surabaya memiliki peluang untuk mengatasi sampah melalui pola serupa.
Dalam dua tahun terakhir, pemerintah kota mulai membangun TPS 3R. Dari target 37 titik, sudah 12 yang terealisasi.
“Secara kebijakan bagus, tapi belum ada aturan dan pengawasan yang tegas. Misal larangan kantong plastik yang taat hanya minimarket dan restoran, sedangkan toko-toko kecil masih banyak pakai plastik. Coba kalau Pemkot rajin sosialisasi kantong plastik bisa diganti kantong kain atau kertas, pasti lebih efektif daripada PLTSa,” tandasnya.
Baca juga: Jawab Walhi Jatim, DLH Surabaya Buktikan Kualitas Udara Sekitar PLTSa Benowo Aman Sesuai Uji Emisi
Hilir mudik truk sampah di kawasan Benowo hingga sekitar Gelora Bung Tomo telah menjadi pemandangan sehari-hari di Surabaya.
Sejak pagi hingga malam, sekitar 400 armada silih berganti mengangkut limbah rumah tangga, restoran, hingga pusat perbelanjaan menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo.
Bagi warga sekitar, aroma sampah sudah menjadi bagian dari keseharian.
Wendy Setiawan, warga kawasan jalan Uka, mengatakan bau tak sedap kerap muncul, terutama saat cuaca sedang terik.
“Bau iya, tapi sekarang tidak terlalu menyengat. Kalau dua atau tiga tahun lalu, baunya bahkan sampai ke Sememi,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Agus, warga Pakal, yang rumahnya hanya berjarak sekitar lima menit dari TPA.
Ia mengaku cemas dengan rencana pembangunan TPA baru di kawasan Sumberrejo.
“Harapannya pengelolaannya lebih profesional, supaya tidak menimbulkan bau ke permukiman,” katanya.