Surabaya Bangun PLTSa Kedua, Sampah dari Gresik hingga Lamongan Ikut Diserap Demi Listrik 
Dyan Rekohadi February 08, 2026 07:32 PM

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Surabaya kini bersiap membangun TPA berbasis waste to energy, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) kedua.

PLTSa kedua ini disebut bukan hanya akan menyerap sampah kota Surabaya, tapi juga sampah dari Gresik hingga Lamongan.

Mengapa sampai menyerap sampah dari kabupaten lain? sementara sampah di kota Surabaya masih meluber dan dikeluhkan di sejumlah TPS.

Rupanya, jika mengacu dari perhitungan lebihan pasokan limbah atau sampah per hari setelah dikurangi dari serapan untuk PTLSa pertama, masih tidak ideal untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) baru.

Baca juga: Warga Keluhkan Sejumlah Tempat Pembuangan dan Penampungan Sampah di Surabaya

Perhitungan Serapan Sampah Surabaya

Sebagai gambaran perhitungan serapan sampah atau limbah untuk PLTSa, di TPA Benowo, tumpukan sampah sejak tahun 2012 diubah oleh PT Sumber Organik menjadi sumber energi listrik bisa bekerja optimal dengan pasokan 1.000 ton sampah per hari yang harus stabil.

Setiap jumlah pasokan sampah dari aktivitas rumah tangga, warung kopi, restoran, dan hotel di Kota Pahlawan mencapai 1.500 hingga 1.600 ton per hari.

Dari jumlah itu, sekitar 1.000 ton diolah di TPA Benowo menjadi listrik, maka sisanya masih ada sekitar 600 ton sampah di kota Surabaya yang kinimasih nampak meluber di TPA dan menjadi beban penanganan.

Beban sisa sampah 600 ton itu akan diserap PLTSa yang baru , dan masih butuh pasokan 400 ton sampah lagi tiap harinya. 

Untuk mensiasati pasokan 400 ton sampah itu, maka sampah dari daerah sekitar, seperti Gresik dan Lamongan nantinya ikut ditampung PLTSa baru demi listrik.

“Supaya listriknya stabil, bahan bakunya juga harus stabil. Idealnya, 1.000 ton per hari terus masuk,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Surabaya, Dedik Irianto.

Baca juga: PLTSa Benowo Surabaya Sumbang Energi Bersih 166,1 GWh Sejak Beroperasi 2015

Pilihan Lokasi di Sumberrejo

TPA berbasis PLTSa kedua akan ini dibangun di kawasan Sumberrejo, di atas lahan seluas sekitar lima hektar.

Lokasi ini dipilih bukan hanya karena ketersediaan lahan, tetapi juga karena dekat dengan sumber air dan jaringan PLN. Dua faktor penting dalam operasional PLTSa.

Sumberrejo sebenarnya bukan pilihan pertama. 

Sebelumnya, Surabaya mengusulkan Donokerto, namun ditolak karena rawan banjir.

Kota lain yaitu Mojokerto sempat mengajukan Dawar Blandong. Tetapi terkendala jarak dari sumber air dan jaringan listrik.


Begitu juga dengan Malang. Kota Wisata tersebut  mengusulkan Lowokdoro, bekas TPA, namun akhirnya mundur karena biaya pemantapan lahan mencapai Rp50 miliar.

Setelah melalui serangkaian evaluasi, Sumberrejo dinilai paling memenuhi syarat teknis dan lingkungan.

“ Insya Allah mulai dibangun dalam beberapa bulan ke depan, targetnya 2028 bisa beroperasi,” kata Dedik.

Baca juga: Komisi C DPRD Surabaya Sidak TPS3R Tambak Osowilangun, Tempat Olah Sampah Jadi Energi Alternatif

 

Kapasitas Produksi Listrik Lebih Besar

Dedik menjelaskan, proyek ini merupakan bagian dari implementasi Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang pengelolaan sampah berbasis energi.

Pendanaan dan pengelolaan teknis dilakukan oleh Danantara.

“Kita tinggal siapkan lahan dan antar sampah saja. Semua proses pengolahan ditangani Danantara,” kata Dedik.

Teknologi yang digunakan sama seperti di Benowo, yakni gasifikasi.

Sampah diolah menjadi gas bakar, lalu digunakan untuk memutar turbin pembangkit listrik.

Jika Benowo saat ini menghasilkan sekitar 9 megawatt, TPA baru ditargetkan mampu memproduksi hingga 20 megawatt.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.