SURYA.co.id, SURABAYA — Pemkot Surabaya menyiapkan infrastruktur baru untuk mengkoneksikan menuju kawasan perbatasan kota.
Melalui pengembangan transportasi massal dan penambahan infrastruktur jalan, sejumlah program disiapkan untuk menjangkau kawasan sekitar, seperti Sidoarjo dan Gresik.
Dari sisi transportasi massal, ada dua jenis yang disiapkan, yakni Surabaya Urban Rail Project (SURP) dan pengembangan sistem rel regional atau Surabaya Regional Railway Line (SRRL).
Sedangkan dari sisi infrastruktur jalan, Pemkot terus mematangkan pembangunan flyover dan jalan penghubung baru.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Surabaya, Irvan Wahyudrajat, mengatakan penguatan akses tersebut menjadi strategi jangka panjang untuk mengurangi kemacetan sekaligus mempermudah mobilitas warga dari dan menuju pusat kota.
Baca juga: Surabaya Bangun Jalan Baru di Barat Hingga Gresik, Dukung Akses Transportasi Massal
Terbaru, Pemkot Surabaya mendukung pengembangan angkutan massal berbasis rel atau kereta api urban Surabaya.
Irvan menjelaskan, rencana tersebut saat ini masih dalam tahap pembahasan bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan British Embassy melalui program UK-FCDO GCIEP.
Penyusunan kajian tersebut terkait pengembangan angkutan perkotaan berbasis rel.
“Rencana pengembangan angkutan massal berbasis rel di kawasan Surabaya saat ini masih dalam tahap koordinasi dan penyelarasan strategi,” kata Irvan.
Pada akhir Januari, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto telah melakukan pertemuan dengan Secretary of State for Business and Trade (DBT) Kerajaan Inggris The Rt Hon Peter Kyle MP.
Baca juga: Anggota DPRD Jatim Dukung Penuh SRRL karena Perkuat Transportasi Publik
Pertemuan ini turut menandatangani Arrangement between the Government of the United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland and the Government of the Republic of Indonesia to Establish an Economic Growth Partnership (EGP) di London, Senin (19/1/2026).
Dikutip dari laman resmi Pemerintah Inggris, pihak Inggris menyatakan dukungannya terhadap pengembangan sistem transportasi di Surabaya melalui Proyek Kereta Perkotaan Surabaya (SURP).
Dukungan tersebut mencakup kemungkinan kolaborasi lanjutan dalam penyusunan studi kelayakan guna mendukung produktivitas, pertumbuhan ekonomi, serta konektivitas transportasi di kawasan metropolitan Surabaya.
Studi kelayakan itu terkait penentuan trase/rute dan tahapan pelaksanaan proyek. Studi ini dipandang penting agar perencanaan kereta urban dapat disusun secara matang sebelum memasuki tahap implementasi fisik.
Irvan memastikan Surabaya siap mendukung program tersebut. “Pemerintah Kota Surabaya mendukung penuh karena sudah tertuang dalam RPJPD 2025–2045 dan RPJMD 2025–2029,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan transportasi rel akan terintegrasi dengan simpul transportasi lain berbasis jalan, rel, maupun sungai.
Menurutnya, keberadaan kereta urban nantinya akan mendorong Surabaya menjadi kota yang nyaman dan layak huni dengan sistem transportasi yang memadai.
Untuk mendukung hal itu, Pemkot juga menyiapkan konsep Transit Oriented Development (TOD) dan skema Land Value Capture (LVC). Kawasan yang sedang dikaji untuk TOD antara lain sekitar Stasiun Gubeng, Stasiun Pasar Turi, serta Stasiun Wonokromo–TIJ Joyoboyo.
“Pengembangan TOD diharapkan dapat meningkatkan nilai manfaat dan nilai lahan untuk mendukung pembiayaan infrastruktur,” kata Irvan yang juga mantan Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya ini.
Dalam proses perencanaan, Bappeda Surabaya terlibat aktif mewakili pemerintah kota untuk memastikan keselarasan dengan tata ruang dan kebutuhan daerah.
“Bappeda memastikan rencana transportasi selaras dengan perencanaan daerah, mengawal integrasi antarmoda, tata ruang, serta dampak sosial ekonominya,” kata Irvan.
Saat ini, status proyek masih berada pada tahap studi kelayakan (feasibility study/FS) dan forum koordinasi antar pihak. Implementasi fisik masih menunggu finalisasi hasil studi, termasuk penentuan trase, skema pendanaan, hingga kelembagaan pengelola.
Pemkot Surabaya menargetkan kejelasan arah proyek kereta urban akan mengikuti hasil kajian akhir serta mekanisme pemerintah pusat dan Pemprov Jatim, sehingga pembangunan dapat berjalan terintegrasi dan berkelanjutan.
“Terkait tindak lanjut, kami berkoordinasi lintas perangkat daerah, termasuk penataan kawasan, integrasi transportasi umum, dampak sosial ekonomi, hingga sarana pendukung seperti manajemen lalu lintas serta akses pejalan kaki dan sepeda,” katanya.
Selain dari Inggris, dukungan internasional terhadap pembangunan transportasi di Surabaya sebelumnya juga datang dari Jerman.
Duta Besar Jerman untuk Indonesia, H.E. Mr. Ralf Beste secara khusus telah bertemu Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa pada awal Januari 2026.
Keduanya membahas keberlanjutan proyek Surabaya Regional Railway Line (SRRL) sebagai sistem angkutan massal yang digadang-gadang menjadi tulang punggung mobilitas Surabaya Raya mulai 2027. Dibandingkan SURP, SRRL memiliki persiapan yang jauh lebih matang.
Bahkan, Jerman melalui KfW Development Bank akan menjadi investor utama tahap pertama proyek ini dengan nilai pembiayaan mencapai Rp4,4 triliun. Nantinya, rutenya pun lebih panjang dengan menjangkau beberapa daerah di wilayah Surabaya Raya.
Sekalipun demikian, Irvan memastikan bahwa SURP dari Inggris akan terintegrasi dengan SRRL hasil kerja sama dengan Jerman. “Nanti akan terhubung,” kata Irvan. (bob)