Tak Sekedar Olahraga, Event Lari di Bali Menjadi Selebrasi Kesehatan Mental, Kini Marak Digandrungi 
Ady Sucipto February 08, 2026 10:03 PM

TRIBUN-BALI. COM, MANGUPURA – Berbeda dengan ajang lari pada umumnya, kategori 5K dan 10K disuguhkan dengan menonjolkan aspek kesadaran atau mindfulness bukan kompetitif. 

Seperti dalam event bertajuk Mobil Run The Island by MStyle di kawasan ITDC Nusa Dua, Badung, Bali akhir pekan kemarin mengubah stigma lari yang biasanya kompetitif menjadi sebuah pengalaman gaya hidup yang meditatif.

Founder MStyle, Muthia Ruskandar, mengungkapkan bahwa acara tersebut adalah manifestasi dari filosofi Diversity Beyond Perfection

Baca juga: Sanur Bali International Half Marathon 2026, Targetkan 5.000 Peserta Nasional dan Mancanegara

Sebuah gerakan yang menantang definisi kesehatan atau wellness yang selama ini sering kali diseragamkan.

"Di tengah dunia yang serba cepat, kita sering lupa untuk mendengar tubuh sendiri.

Di sini, setiap individu bergerak dengan ritmenya masing-masing," ungkap Muthia kepada Tribun Bali, Kamis 5 Februari 2026 kemarin.

Estetika event lari ini terasa sangat terkurasi mencerminkan gaya hidup luxury tropical yang menjadi ciri khas MStyle yang peka terhadap lingkungan sekitar.

Sementara itu, Field Marketing Manager, Wadya Muliahardi menilai semangat menjaga performa tidak hanya ditujukan bagi manusia, tetapi juga sebagai analogi dalam perawatan hal lain seperti di bidang otomotif.

"Dukungan dari merek pelumas ternama dunia menjadi simbol bahwa perjalanan yang mulus baik dalam berlari maupun berkendara membutuhkan perhatian dan perlindungan yang tepat," ujar dia. 

Baca juga: Udayana Fun Run 2025, Festival Lari Santai Penuh Warna di Pantai Pandawa

Aspek fungsional tetap menjadi prioritas utama demi kenyamanan peserta. 

Penggunaan jersey dari PVR yang ringan dan berjiwa tropis memberikan fleksibilitas gerak, sementara kesiapan medis dari RSUP Prof Dr IGNG Ngoerah memberikan rasa aman bagi pelari dari berbagai tingkat kebugaran.

Energi komunitas pun terasa kental dengan kehadiran komunitas RIOT, yang membuktikan bahwa lari adalah bahasa universal untuk membangun koneksi sosial.

Salah satu peserta lari, Alit (34) yang setahun belakangan rutin mengikuti event lari menyampaikan, ajang lari kini memberikan sebuah perspektif baru bagi masyarakat Bali dan para pelancong. Bahwa olahraga adalah praktik hidup yang jujur. 

"Ini adalah tentang merawat batas diri, memberi izin bagi ketidaksempurnaan untuk bernapas, dan merayakan proses bertumbuh tanpa paksaan," pungkasnya. (*)

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.