TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - H. Moh. Maimun Noor M.Pd atau yang akrab disapa Gus Maimun resmi menahkodai Jaringan Kyai Santri Nusantara (JKSN) Provinsi Bali.
Kepengurusan JKSN Bali resmi dilantik dalam rangkaian agenda Silaturahmi Alim Ulama dan Santri se-Bali dalam rangka memperingati Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama dan Pelantikan Pengurus Jaringan Kyai Santri Nusantara (JKSN) Provinsi Bali di Pendopo Kalifa Nusantara, Denpasar, Minggu, 8 Februari 2026.
Acara pelantikan dihadiri Prof Dr. KH Asep Saifuddin Chalim M.A yang merupakan tokoh nasional dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur.
Baca juga: Kronologi Santri Asal Buleleng Dikeroyok di Banyuwangi, Dilarikan ke RS Kondisi Tak Sadarkan Diri
Setelah dilantik, dalam waktu dekat Gus Maimun akan melaksanakan sejumlah program strategis.
Ia mengungkapkan, lembaga pendidikan yang ada di Bali dan terafiliasi NU akan diajak bersinergi untuk menguatkan paham Al-Hikmah Wal Jama'ah.
Dengan begitu akan meningkatkan optimisme dalam memajukan pendidikan yang ada di Bali khususnya di pesantren.
Selain itu, pendidikan di pesantren juga mengikuti perkembangan zaman sehingga ke depannya menjadi manusia yang sempurna dan kokoh dalam keumatan.
Baca juga: Peringati Hari Santri Nasional, Wabup Buleleng Dorong Santri Kuasai Teknologi dan Sains
"Pelaksanaan pendidikan di pesantren juga harus meningkatkan akhlak dan kualitas pendidikan yang sesuai dengan era digitalisasi," paparnya.
Sementara itu, Prof Dr. KH Asep Saifuddin Chalim M.A mengatakan pelaksanaan transformasi harus terus berlanjut karena dibutuhkan Indonesia untuk mewujudkan kehidupan yang maju, adil, dan makmur serta kondusif.
"Indonesia merdekanya harus berkelanjutan. Bentuknya yakni pesantren dan lembaga pendidikan di bawah harus memiliki pilar dan orientasi tujuan sesuai peruntukan," paparnya.
Menurutnya ada empat pilar sebagai penopang kehidupan maju, adil, dan makmur.
Pertama, lulusan pendidikan pesantren atau lembaga pendidikan sejenis harus jadi kader ulama dan ilmuwan besar yang menerangi dunia utamanya Indonesia.
Kedua harus jadi pemimpin bangsa Indonesia yang senantiasa mengupayakan kesejahteraan dan keadilan.
Ketiga, menjadi pengusaha besar yang berkontribusi pada kesejahteraan bangsa.
Serta keempat, menjadi profesional berkualitas dan bertanggungjawab serta menciptakan situasi kondusif.
"Santri-santri di Bali harus menjadi santri yang mengudara, mau bergaul dengan siapapun. Serta meningkatkan kualitas SDM agar mampu menjadi salah satu dari empat pilar yang diharapkan," paparnya.
Wakil Gubernur Nyoman Giri Pasta dalam sambutannya yang dibacakan Kepala Badan Kesbangpol Bali, Gede Suralaga mengatakan pihaknya akan selalu berkomitmen dalam memajukan pendidikan.
Apabila ada kebutuhan fasilitas yang menyangkut pendidikan, kesejahteraan guru, santri dan hal yang terkait lainnya, agar dikomunikasikan.
"Pintu kantor titiang selalu terbuka untuk kiai dan para santri. Jangan sungkan-sungkan. Kalau untuk kebaikan umat dan kerukunan, Titiang siap fasilitasi."
"Kita harus mampu menunjukkan kepada dunia, bahwa Islam di Bali adalah Islam yang Rahmatan Lil Alamin, Islam yang sejuk, yang bisa duduk bareng dengan Pandita Hindu, dengan Pastor, dengan Biksu, sambil ngopi bareng bicara masa depan bangsa. Inilah wajah asli Indonesia," kata Giri Prasta. (*)