Kisah Karhutla Aceh Barat: Dari Ancaman Besar Jadi Pelajaran Bersama
Saifullah February 09, 2026 01:03 AM

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Sakdul Bahri | Aceh Barat

SERAMBINEWS.COM, MEULABOH – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sempat melanda tujuh kecamatan di Aceh Barat, akhirnya berhasil dipadamkan sepenuhnya. 

Selama hampir tiga pekan, api melahap 58,7 hektare lahan di 12 gampong, sebelum tim gabungan bersama masyarakat berhasil menuntaskan operasi pemadaman.

Sejak 15 Januari hingga awal Februari 2026, titik-titik api muncul di berbagai lokasi, mulai dari Suak Raya hingga Meunasah Rambot.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Barat bahkan menetapkan status tanggap darurat untuk mempercepat penanganan.

Dukungan hujan yang turun beberapa hari terakhir menjadi faktor penting meredakan api.

Baca juga: Aceh Besar Masuki Musim Kemarau, BPBD Imbau Warga Waspada Karhutla

Kolaborasi Lintas Instansi

Pemadaman melibatkan banyak pihak: BPBD, Damkar, Manggala Agni, TNI, Polri, DLHK, hingga tim modifikasi cuaca BNPB. 

Kehadiran masyarakat setempat juga menjadi kunci, menunjukkan bahwa penanggulangan bencana bukan hanya tugas aparat, melainkan tanggung jawab bersama.

Plt Kepala BPBD Aceh Barat, Teuku Ronal Nehdiansyah menegaskan, bahwa kondisi kini aman dan terkendali.

Namun ia mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Karhutla bukan hanya merusak ekosistem, tetapi juga mengancam kesehatan dan kehidupan sosial ekonomi warga.

Baca juga: 90 Persen Karhutla di Aceh Barat Berhasil Ditangani, Sisakan Asap di Lokasi

Dari Bencana ke Kesadaran

Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga: pencegahan jauh lebih penting daripada pemadaman.

Dengan kolaborasi lintas sektor dan kesadaran masyarakat, Aceh Barat berharap tidak lagi menghadapi ancaman serupa di masa mendatang.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.