TRIBUN-TIMUR.COM - Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan organisasi masyarakat Islam matangkan persiapan dakwah menyambut Ramadan 1447 Hijriah.
Ratusan muballigh disiapkan mengisi ceramah dan berbagai aktivitas keagamaan di masjid hingga lingkungan masyarakat.
Selain NU dan Muhammadiyah, Wahdah Islamiyah juga mengerahkan 250 dai di Kota Makassar.
Sementara itu, Hidayatullah menugaskan 10 penceramah tersebar di setiap kecamatan di ibu kota Sulsel selama bulan suci Ramadan 2026.
Para dai tersebut akan mengisi ceramah tarawih, kajian rutin, hingga pembinaan keagamaan di tengah masyarakat.
Muhammadiyah Makassar menyiapkan 182 muballigh yang akan bertugas selama Ramadan 2026.
Baca juga: 6.000 Kader Hadiri Muktamar Muhammadiyah di Makassar, Tegaskan Regenerasi dan Arah Baru Organisasi
Para muballigh tersebut disebar ke 123 masjid di berbagai wilayah di Makassar untuk mengisi ceramah tarawih dan kegiatan dakwah Ramadan.
Ketua Majelis Tabligh DPD Muhammadiyah Makassar, Munir Abdul Rahman, mengatakan para muballigh telah melalui proses seleksi dan pembinaan.
Dakwah yang disampaikan diharapkan berlangsung secara bijak dan menyejukkan.
“Kami menekankan agar dakwah disampaikan dengan hikmah, tidak menyinggung pihak mana pun, dan tetap menjaga persatuan umat,” ujar Munir, Minggu (8/2/2026).
Sebagai bagian dari persiapan, Majelis Tabligh Muhammadiyah Makassar akan menggelar kegiatan Refreshing Dai pada 7 Februari 2026.
Kegiatan ini berlangsung di Masjid Baiturahman, Panaikang. Refreshing Dai diikuti muballigh dan pengurus masjid.
Kegiatan ini bertujuan menyamakan persepsi serta membekali muballigh dengan teknik berdakwah yang efektif.
Munir menjelaskan, dari 123 masjid dijadwalkan, sebagian telah bekerja sama Muhammadiyah selama beberapa tahun.
Sementara sebagian lainnya baru menjalin kerja sama pada Ramadan tahun ini.
“Ada masjid yang meminta muballigh selama 29 malam penuh, ada juga hanya pada malam-malam tertentu,” jelasnya.
Dalam penentuan muballigh, pengurus masjid diberikan ruang untuk mengusulkan nama.
Namun, ada pula masjid yang hanya menyampaikan kriteria muballigh yang dibutuhkan.
Munir menambahkan, persyaratan muballigh Muhammadiyah antara lain memiliki wawasan dakwah, fasih membaca Alquran, memiliki rekomendasi cabang, serta lulus pendidikan dan tes Majelis Tabligh.
Sebagian besar muballigh berasal dari Makassar, dengan komposisi sekitar 90 persen. Mereka berasal dari unsur pimpinan Muhammadiyah, akademisi, hingga aktivis dakwah. Dari sisi usia, sekitar 60 persen muballigh berusia 25-40 tahun.
Sisanya berada pada rentang usia 50–60 tahun.
Sementara itu, NU Sulawesi Selatan memastikan seluruh persiapan Ramadan 1447 Hijriah dilakukan dengan mengikuti arahan pemerintah.
NU menegaskan penetapan awal puasa akan menunggu keputusan resmi melalui sidang isbat.
Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Sulsel, Prof Dr KH Muammar Bakry, mengatakan NU tidak menetapkan tanggal sendiri.
NU mengikuti keputusan pemerintah dan arahan Pengurus Besar NU. “Penataan Ramadan kita ikuti pemerintah melalui sidang isbat,” ujar Prof Muammar.
Kementerian Agama dijadwalkan menggelar sidang isbat penetapan awal Ramadan pada 17 Februari 2026. Sidang ini melibatkan MUI, ormas Islam, dan instansi terkait.
Selain menunggu penetapan awal puasa, NU Sulsel juga menyiapkan berbagai agenda syiar Ramadan.
Meliputi ceramah sebelum tarawih, pengajian rutin, tadarus Alquran, hingga kegiatan sosial.
NU Sulsel juga menyiapkan ratusan muballigh bertugas di seluruh kabupaten/kota di Sulsel.
Setiap pengurus daerah bertanggung jawab menyiapkan muballigh di wilayah masing-masing.
“Persiapan muballigh NU pada Ramadan tahun ini hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya,” kata Prof Muammar.
Dari sisi dakwah, NU menekankan pendekatan yang inklusif dan berlandaskan prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah.
Dakwah diarahkan untuk memperkuat moderasi, toleransi, dan kebersamaan umat.
Di sisi lain, Wahdah Islamiyah Makassar menggelar Penataran Seputar Ramadan (PSR) 1447 Hijriah sebagai bagian dari persiapan dakwah. Kegiatan di Masjid Raya Bukit Baruga, Makassar.
Sekretaris DPD Wahdah Islamiyah Makassar, Muhammad Istiqamah, mengatakan PSR menjadi momentum pembekalan umat menyambut Ramadan. Kegiatan ini juga dirangkaikan Gerakan Sejuta Dai.
“Melalui gerakan ini, kami ingin memperluas jangkauan dakwah hingga ke masyarakat yang belum tersentuh pembinaan,” ujarnya.
Selama Ramadan 2026, Wahdah Islamiyah mengerahkan sekitar 250 dai di Makassar. Secara nasional, jumlah dai dan daiah yang diturunkan mencapai ribuan orang.
Para dai tersebut bertugas mengisi ceramah, pembinaan umat, pengajaran Alquran, serta pengajian ibu dan anak. Seluruh kegiatan dilakukan sebagai bentuk pengabdian kepada umat.
DPD Hidayatullah Makassar juga melanjutkan program dakwah rutinnya selama Ramadan 2026.
Fokus utama diarahkan pada pengisian ceramah Ramadan dan khatib salat Jumat.
Kepala Departemen Dakwah dan Pelayanan Umat DPD Hidayatullah Makassar, Syamsul, mengatakan pihaknya menurunkan 10 dai yang tersebar di 10 kecamatan di Makassar.
Program tersebut dikenal dengan sebutan Da’i Lorong. Program ini bekerja sama dengan Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kota Makassar.
“Setiap pekan ada ceramah dan mengaji. Program ini akan berlanjut selama Ramadan,” kata Syamsul.
Selain itu, Hidayatullah juga aktif mengisi kajian di rumah rehabilitasi narkoba, pembinaan rumah Qur’an, dan majelis Qur’an di setiap kecamatan.
Ketua Hidayatullah Makassar, Dr Irfan Yahya, menekankan pentingnya pendekatan spiritual dalam dakwah. Dakwah diharapkan mampu menyentuh akal dan jiwa masyarakat.
“Pendekatan spiritual menjadi penting untuk meredam polarisasi dan kontraksi sosial di tengah masyarakat perkotaan,” ujarnya.
Melalui berbagai program tersebut, ormas Islam di Makassar dan Sulsel berharap Ramadan 2026 menjadi momentum memperkuat iman, persatuan, dan kepedulian sosial umat.
Dakwah yang disampaikan para muballigh diharapkan tidak hanya menguatkan ibadah individual, tetapi juga membangun harmoni dan kebersamaan di tengah masyarakat.
DDI Patojo
Menyambut bulan suci Ramadan 1446 Hijriah, Pondok Pesantren Al-Irsyad DDI Patojo menyiapkan kegiatan Daurah Dakwah Santri.
Kegiatan ini mengusung tema “Optimalisasi Peran Santri dalam Dakwah Islam Rahmatan lil Alamin.”
Daurah Dakwah Santri dijadwalkan berlangsung selama enam hari, mulai 10 hingga 15 Februari 2026.
Kegiatan dipusatkan di kompleks Pondok Pesantren Al-Irsyad DDI Patojo, Kabupaten Soppeng.
Pimpinan Umum DDI Patojo, Prof Andi Aderus, mengatakan daurah bertujuan membekali santri agar siap terjun langsung berdakwah selama Ramadan.
“Menyambut bulan suci Ramadan, kami menggelar daurah atau pelatihan santri untuk diberdayakan selama bulan Ramadan,” ujarnya, Kamis (5/2/2026).
Menurut Prof Andi Aderus, momentum Ramadan harus dimanfaatkan sebagai sarana peningkatan kualitas diri dan keimanan.
“Kita memanfaatkan kesempatan yang diberikan Allah SWT untuk bertafakur dan memperbanyak amal kebajikan sebagai persiapan perjalanan panjang menuju kepada-Nya,” katanya.
Sementara itu, Pimpinan Harian DDI Patojo, Supriadi, menjelaskan kegiatan daurah akan diisi dengan penataran mubalig dan pelatihan intensif bagi santri yang bertugas selama Ramadan.
“Kegiatan penataran mubalig akan dimulai pada 10 Februari,” ungkap Supriadi.
Ia menjelaskan, pada siang hari santri mengikuti penataran mubalig. Sementara pada malam hari diisi dengan pelatihan dan bimbingan intensif.
“Siang hari penataran mubalig, malam harinya pelatihan intensif bagi petugas Ramadan yang akan bertugas sebagai imam tarawih dan penceramah,” jelasnya.
Menurut Supriadi, saat ini sudah ada sekitar 20 dai yang dipastikan memiliki lokasi tugas selama Ramadan. “Yang sudah ada tempat tugasnya hampir 20 dai,” katanya.
Namun jumlah tersebut masih berpotensi bertambah sesuai kebutuhan dan permintaan dari masyarakat.
“Masih ada yang sementara disiapkan. Potensinya bisa hampir 30 dai, tergantung permintaan,” ujarnya.
Ia menambahkan, santri yang ditugaskan merupakan santri aktif yang selama ini rutin mengisi khotbah Jumat di berbagai masjid.
“Anak-anak ini sudah terbiasa turun khotbah. Biasanya panitia masjid meminta langsung ke pihak pondok untuk bertugas ceramah dan imam tarawih selama Ramadan,” jelasnya.
Melalui kegiatan daurah ini, DDI Patojo berharap para santri semakin siap berkontribusi dalam dakwah dan pembinaan umat selama bulan suci Ramadan.