TRIBUNJAKARTA.COM, BEKASI - Keputusan besar pernah diambil Ahmad Habiebie selepas lulus sekolah menengah kejuruan (SMK), tanpa pekerjaan tetap, ia memilih bertahan selama setahun penuh demi mengejar satu mimpi, menjadi pemain futsal profesional.
Pilihan itu bukan tanpa risiko.
Saat sebagian teman seusianya sudah bekerja, Habiebie justru berkeliling lapangan antarkampung (tarkam), berlatih tanpa bayaran, dan hidup dari hadiah turnamen kecil.
“Setelah lulus SMK saya nganggur setahun. Pesannya Bang Peking jelas, setahun ini fokus futsal. Kalau enggak ada hasil, baru kerja,” kata Habiebie mengenang masa krusial dalam hidupnya.
Bang Peking, seniornya di dunia futsal, menjadi sosok yang mendorongnya untuk berani mengambil keputusan tersebut.
Ia memberi batas waktu tegas agar Habiebie benar-benar serius menilai masa depannya.
Pada periode itu, kehidupan Habiebie diwarnai latihan setiap hari tanpa gaji tetap.
Ia mengikuti berbagai turnamen tarkam di berbagai daerah, berpindah-pindah lapangan demi menjaga jam terbang.
“Latihan tiap hari, enggak ada penghasilan. Tarkam sana-sini. Kalau juara baru dapat uang, itu pun kadang cuma cukup buat bensin,” ujarnya.
Sebelumnya, Habiebie bahkan tidak memiliki latar belakang futsal yang kuat. Hingga duduk di bangku SMP, ia mengaku belum mengenal olahraga tersebut.
Perkenalannya dengan futsal baru dimulai saat bersekolah di SMK Permata Bangsa, Bekasi, berkat lingkungan pertemanan yang gemar bermain futsal.
Dari keputusan berani itulah, perlahan hasil mulai terlihat. Habiebie tampil di ajang Porda Kota Bekasi, kemudian dipercaya membela daerah di PON Papua 2022, hingga akhirnya menembus level profesional.
Puncaknya, pada 2017, ia mendapat panggilan seleksi Timnas Futsal Indonesia U-20. Setahun berselang, Habiebie tampil di ajang Asia dan membantu tim finis di posisi empat besar.
“Dari U-20 itu pelan-pelan naik, sampai akhirnya bisa gabung Timnas senior,” katanya.
Keputusan setahun menganggur yang semula dipenuhi ketidakpastian itu kini terbayar lunas.
Ahmad Habiebie telah menjelma menjadi salah satu kiper andalan Timnas Futsal Indonesia dan tampil di Piala Asia 2026.
Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa keberanian mengambil risiko, ketekunan berlatih, dan konsistensi dalam proses mampu mengubah masa sulit menjadi pintu menuju prestasi.
Di balik perjalanannya, terselip kisah emosional tentang mendiang sang ayah yang menjadi role model dalam hidupnya. Habiebie menyebut ayahnya merupakan seorang kiper sepak bola yang cukup dikenal di kampung.
“Almarhum bapak itu posisinya kiper. Dulu kalau main antarkampung suka dibilang, ‘Udah lu aja Bi, bapak lu jago’,” kenangnya.
Meski ayahnya wafat saat Habiebie masih kecil dan tak sempat melatih langsung, cerita-cerita dari orang sekitar menjadi dorongan tersendiri.
“Mungkin nurun atau rezekinya di situ. Awalnya cuma guyonan, tapi akhirnya ditekuni,” katanya.
Habiebie juga menegaskan bahwa sebagian besar perjalanannya di futsal dijalani secara mandiri, tanpa pendampingan keluarga.
“Latihan, ke mana-mana sendiri. Tapi ada teman seperjuangan, adiknya Bang Peking. Ke mana-mana berdua, udah kayak keluarga,” tuturnya.
Sebelum menekuni futsal, Habiebie sempat mencoba sepak bola. Namun, intensitas latihan membuatnya berpaling.
“Sempat ikut sepak bola beberapa bulan, tapi latihannya berat. Akhirnya futsal yang jadi passion,” ujarnya.
Tak pernah terbayang olehnya bisa menjadi atlet profesional. Habiebie mengaku dulu hanya membayangkan hidup sebagai karyawan biasa.
“Enggak nyangka dari coba-coba jadi hobi, ternyata bisa menghasilkan uang dan membina rumah tangga,” katanya.