Tribunlampung.co.id, Pringsewu – Wakil Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Pringsewu Rusmanto menanggapi aksi protes warga Pekon Jati Agung, Kecamatan Ambarawa yang menggelar gogoh lele di kubangan jalan rusak.
Menurut Rusmanto, aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan masyarakat atas kondisi jalan yang sudah lama tidak diperbaiki sekaligus permohonan agar pemerintah daerah segera memberikan perhatian terhadap infrastruktur yang memprihatinkan.
“Itu salah satu bentuk kekecewaan masyarakat terhadap kondisi jalan, sekaligus permohonan agar pemerintah segera memperbaikinya,” kata Rusmanto kepada Tribunlampung.co.id, Senin (9/2/2026).
Ia menekankan, jalan tersebut merupakan akses penting bagi aktivitas masyarakat, dan pemerintah daerah harus bersikap tanggap, terutama jika jalan itu menjadi jalur penghubung yang ramai serta menunjang kegiatan ekonomi warga.
“Kalau itu memang jalan akses masyarakat yang ramai, seyogianya pemerintah harus segera membangun,” ujarnya.
Baca juga: Polresta Bandar Lampung Championship 2026 Ajang Cari Bibit Petinju Berprestasi
Meski demikian, Rusmanto mengakui kondisi keuangan daerah saat ini belum memungkinkan pembangunan secara menyeluruh.
Namun, ia menilai penanganan sementara tetap perlu dilakukan untuk mengurangi risiko bagi pengguna jalan.
“Setidaknya bisa dilakukan perbaikan sementara agar tidak menimbulkan lubang besar yang membahayakan pengguna jalan,” tambahnya.
Komisi III DPRD Pringsewu akan menindaklanjuti aspirasi warga dan mendorong pemerintah daerah mengambil langkah konkret sesuai kewenangannya.
Warga Pekon Jati Agung, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Pringsewu, Lampung, melakukan aksi protes atas jalan rusak yang tak kunjung diperbaiki Pemkab Pringsewu selama sembilan tahun.
Mereka kompak menggelar Gogoh Lele di jalan tersebut pada Minggu (8/2/2026).
Tradisi ini, yang juga dikenal sebagai Gogoh Iwak, adalah menangkap ikan lele secara langsung dengan tangan kosong, tanpa alat pancing, jaring, atau peralatan lainnya.
Kata "gogoh" berasal dari bahasa Jawa yang berarti mencari atau meraba-raba sesuatu di air atau lumpur menggunakan tangan.
Aksi ini menjadi bentuk kekecewaan warga terhadap kondisi jalan yang tak kunjung diperbaiki.
Baca juga: Isak Tangis Istri Iringi Pemakaman Wabup Klaten Benny Indra Ardhianto
Aksi tersebut dilakukan di salah satu ruas jalan utama yang dinilai sebagai akses yang menghubungkan aktivitas ekonomi warga.
Jalan tersebut dipenuhi lubang dan genangan air, sehingga menyerupai kolam dan dinilai membahayakan pengguna jalan.
Kepala Pekon Jati Agung Paryono mengatakan, kerusakan jalan tersebut telah terjadi sejak lama dan belum pernah tersentuh perbaikan.
Ia menyebut, kondisi jalan rusak itu sudah berlangsung sekitar sembilan tahun.
“Sudah sekitar sembilan tahun jalan ini rusak dan selama itu belum ada perbaikan,” kata Paryono.
Menurutnya, aksi gogoh lele itu merupakan murni aspirasi warga yang berharap pemerintah segera memberikan perhatian.
Jalan tersebut memiliki peran penting karena menjadi jalur industri dan penopang perekonomian masyarakat Jati Agung dan sekitarnya.
“Ini jalan industri dan sangat sibuk. Jalan ini menopang perekonomian Pekon Jati Agung dan wilayah sekitarnya,” ujarnya .
Paryono berharap, aksi tersebut dapat menjadi bentuk apresiasi sekaligus pengingat agar pemerintah segera merealisasikan pembangunan jalan yang layak.
Ia juga mengajak masyarakat untuk terus mengawal persoalan ini hingga ada perbaikan nyata.
“Harapannya ke depan jalan ini bisa lebih diperhatikan dan segera dibangun,” pungkasnya .
(Tribunlampung.co.id / Oky Indrajaya)