TRIBUNNEWS.COM, KUDUS – Ribuan warga memadati Festival Dandangan 2026 di Alun-alun Simpang Tujuh Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Senin (9/2/2026).
Di tengah riuh pasar rakyat yang berakar sejak era Sunan Kudus, generasi muda tampil berbeda: mahasiswa turun tangan menjadi duta sampah, mengajak pengunjung memilah sebelum membuang.
Festival Dandangan bukan sekadar pesta rakyat. Tradisi yang telah hidup ratusan tahun ini kini menjadi denyut ekonomi sekaligus magnet budaya.
Namun, lonjakan pengunjung dari 16 ribu orang per hari pada 2024 menjadi 38 ribu orang per hari pada 2025 membawa konsekuensi: tumpukan sampah.
Data menunjukkan Kabupaten Kudus menyumbang 4,5 persen timbulan sampah nasional pada 2024. Jika tidak dikelola, festival berisiko menambah beban lingkungan.
Wakil Bupati Kudus, Bellinda Putri Sabrina, menegaskan pentingnya sinergi.
“Dandangan tidak hanya menjadi ruang perayaan tradisi, tetapi berperan penting dalam menggerakkan dan memperkuat perekonomian daerah. Festival ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Bellinda di lokasi.
Pemerintah Kabupaten Kudus bekerja sama dengan pihak swasta, termasuk Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF), dalam menyediakan sarana pengelolaan sampah.
Sebanyak 60 unit tempat sampah terpilah disebar di titik strategis.
Namun, infrastruktur saja tidak cukup. Sentuhan manusia diperlukan.
Sebanyak 20 mahasiswa dari UIN dan UMK yang tergabung dalam gerakan “Kudus Asik” turun langsung ke lapangan.
Mereka bukan sekadar petugas kebersihan, melainkan duta edukasi yang mengajak pengunjung memilah sampah.
Baca juga: Disentil Prabowo soal Sampah di Pantai Bali, Gubernur Koster: Itu Sampah Kiriman Musiman
Director Communication Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara, menyampaikan bahwa selain menyediakan tempat sampah, pihaknya juga melibatkan 20 mahasiswa dari UIN dan UMK yang tergabung dalam gerakan Kudus Asik untuk mengedukasi pengunjung agar memilah sampah dan menjaga kebersihan area festival.
Gerakan Kudus Asik yang dimulai sejak 2022 kini melibatkan lebih dari 490 mitra, mulai dari rumah makan hingga pasar.
Sampah organik diolah menjadi pupuk di Pusat Pengolahan Organik berkapasitas 50 ton per hari. Mutiara menambahkan, kenyamanan lingkungan berdampak langsung pada ekonomi festival.
“Ketika lingkungan terjaga kebersihannya, UMKM bisa beraktivitas dengan lebih nyaman, dan pengunjung pun betah menikmati suasana,” katanya.
Melalui sinergi pemerintah, swasta, dan akademisi, Dandangan 2026 diharapkan menjadi ruang belajar menuju target zero waste dan zero emission 2040.
Festival Dandangan tahun ini menunjukkan bahwa menjaga tradisi bisa berjalan seiring dengan merawat bumi—pesan sederhana yang mudah diingat: budaya lestari, lingkungan tetap asri.