Indonesia Jadi Tuan Rumah Forum Dengue Pertama Asia Tenggara, Ini yang Dibahas
Rina Ayu Panca Rini/Tribunnews.com
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 3,9 miliar orang di dunia berisiko terinfeksi dengue, dengan sekitar 390 juta kasus terjadi setiap tahun, menjadikan dengue sebagai salah satu tantangan kesehatan masyarakat paling serius secara global.
Di Asia Tenggara, peningkatan kasus dipicu oleh perubahan iklim, urbanisasi cepat, kepadatan penduduk, serta mobilitas lintas negara yang tinggi.
Baca juga: 41 Persen Kematian Dengue Terjadi pada Anak, Kemenkes Soroti Keterlambatan Penanganan
Merespons kondisi tersebut, Indonesia melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bekerja sama dengan Koalisi Bersama (KOBAR) Lawan Dengue dan para mitra regional, menyelenggarakan Forum Regional Asia Tenggara pertama untuk Pencegahan dan Pengendalian Dengue.
Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI dr. Prima Yosephine mengatakan, forum ini merupakan upaya memperkuat kolaborasi negara-negara ASEAN dalam menanggulangi ancaman demam berdarah dengue (DBD) secara terpadu.
“Kolaborasi dari negara-negara khususnya negara anggota ASEAN ini menjadi penting untuk bisa memperkuat dalam penanggulangan dengue di negara ASEAN,” kata dia di Jakarta, Senin (9/2).
Adapun hasil konkret dari forum ini kata dr Prima, merupakan usulan dan praktik terbaik dari masing-masing negara peserta.
Setiap negara anggota ASEAN didorong untuk memaparkan strategi penanggulangan dengue yang telah diterapkan di negaranya, sekaligus menyampaikan usulan kebijakan dan program yang dapat dibawa ke tingkat ASEAN.
Usulan-usulan tersebut akan menjadi dasar untuk dibahas dalam pertemuan lanjutan.
“Dengan tujuan negara-negara ASEAN ini bisa melakukan gerakan bersama dalam penanggulangan dengeu di kawasan ASEAN,” ujar dr Prima.
Di sisi lain, ASEAN juga memiliki visi jangka panjang yaitu tercapainya zero death akibat dengue pada tahun 2030.
Untuk mencapai target itu, Indonesia secara konsisten mendorong penerapan 3 pendekatan seperti kontrol lingkungan, melalui pengelolaan lingkungan untuk mencegah berkembangnya tempat perindukan nyamuk melalui 3M plus.
Kemudian, kontrol faktor penular terutama pengendalian vektor nyamuk. Serta, kontrol pada manusia, termasuk upaya pencegahan melalui vaksinasi.
“Ketiganya ini harus terintegrasi. Supaya bisa mengendalikan DBD lebih komprehensif,” tegasnya.
Ditambahkan Ketua KOBAR Suir Syam, tantangan terbesar pengendalian dengue adalah membangun keterlibatan bersama antara masyarakat dan pemerintah daerah. Ia menyebut Indonesia masih mencatat angka kesakitan dan kematian akibat dengue tertinggi di kawasan ASEAN.
“Pemerintah pusat tidak bisa bekerja sendiri. Pencegahan dengue harus dilakukan bersama-sama oleh masyarakat dan pemerintah daerah di wilayah masing-masing,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari sektor swasta. General Manager Takeda Indonesia Andreas Gutknecht Takeda, menyatakan komitmen dalam mendukung upaya pengendalian dengue di kawasan Asia Tenggara.
Menurutnya, meskipun ASEAN mencatat angka kematian dengue tertinggi, kawasan ini memiliki pengalaman awal dan kemajuan dalam inovasi, termasuk pengembangan vaksin dan program pencegahan.
“Melalui kepemimpinan KOBAR dan Kementerian Kesehatan, forum ini mempertemukan negara-negara ASEAN untuk saling belajar, berbagi pengalaman, serta mengoordinasikan upaya agar kemajuan dalam melawan dengue dapat dicapai secara lebih efektif di tahun-tahun mendatang,” tambahnya.