Potensi Cuaca Ekstrem di Kaltim 10-11 Februari 2026, Hujan Sedang hingga Lebat
Rita Noor Shobah February 10, 2026 07:19 AM

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Cuaca ekstrem masih akan terjadi beberapa hari ke depan di Indonesia, termasuk di Kalimantan Timur.

Dilansir dari laman bmkg.go.id, Kalimantan Timur berpotensi hujan sedang hingga lebat pada 10-11 Februari 2026.

Baca juga: Prakiraan Cuaca Kaltim Senin 9 Februari 2026, Daftar Wilayah Diguyur Hujan Ringan

Sebelumnya, Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono, juga sudah mengingatkan agar masyarakat waspada cuaca ekstrem ini.

Pasca kejadian, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis analisis cuaca terbaru untuk menjelaskan penyebab sekaligus memberikan peringatan dini kepada masyarakat.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono, menyebut pertumbuhan awan konvektif menjadi pemicu utama hujan lebat, kilat, petir, dan angin kencang yang berkembang menjadi puting beliung.

Baca juga: Kronologi Rumah Ambruk Diterjang Angin Kencang di Baru Ulu Balikpapan Barat

“Pertumbuhan awan konvektif terpantau cukup signifikan di atas wilayah Balikpapan. Kondisi ini memicu hujan lebat disertai aktivitas petir dan angin kencang dalam waktu singkat,” ujarnya, Senin (9/2/2026).

Analisis BMKG

BMKG mencatat peristiwa puting beliung terjadi sekitar pukul 17.35 WITA dengan dampak terparah di kawasan Jalan Telaga Mas, Kampung Baru, serta laporan pohon tumbang di Gunung Pipa.

Secara dinamika atmosfer, kondisi saat itu memang mendukung terjadinya cuaca ekstrem.

Djoko menjelaskan sejumlah indikator global dan regional turut memperkuat potensi pembentukan awan hujan intens, antara lain:

  • Southern Oscillation Index (SOI) yang berada pada kategori positif signifikan. SOI adalah indeks yang mengukur perbedaan tekanan udara di Pasifik, berpengaruh pada pola cuaca global.
  • ENSO (El Niño–Southern Oscillation) yang memengaruhi distribusi curah hujan di Indonesia.

Gelombang atmosfer Kelvin dan indeks surge yang memperkuat aktivitas konvektif.

Selain faktor global, kondisi lokal seperti belokan angin dan konvergensi di Kalimantan Timur juga memperparah situasi, membuat awan hujan tumbuh cepat dan sulit diprediksi.

Baca juga: Penjual Gulali Tewas Tertimpa Rumah Ambruk di Baru Ulu Balikpapan Barat

Imbauan BMKG

BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi dalam beberapa waktu ke depan, terutama pada sore hingga malam hari.

Pantauan radar menunjukkan aktivitas awan hujan meningkat, sehingga kewaspadaan perlu ditingkatkan untuk mengantisipasi dampak lanjutan. (TribunKaltim.co/ Zainul)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.