Opini: Darah Pisang
Dion DB Putra February 10, 2026 08:19 AM

Oleh: Yoseph Yoneta Motong Wuwur
Warga Lembata, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Pisang bukan sekadar buah konsumsi sehari-hari. Di banyak wilayah Indonesia, pisang menjadi bagian penting sistem pangan lokal, berperan sebagai makanan pokok alternatif, sumber karbohidrat murah, dan pendapatan jutaan petani kecil. 

Buah ini juga melekat pada budaya makan karena mudah diolah dan terjangkau.
Namun produksi pisang kini menghadapi ancaman serius: penyakit darah pisang. 

Penyakit ini tergolong paling destruktif bagi hortikultura, ketahanan pangan lokal, dan kehidupan petani kecil. 

Jika dibiarkan, dampaknya tidak hanya menurunkan hasil panen, tetapi juga mengguncang ekonomi rumah tangga, mata pencaharian petani, dan stabilitas pangan di pedesaan.

Baca juga: Arak Boba Basmi Penyakit Darah Pisang

Kerentanan ini diperparah oleh pola tanam seragam secara genetik dan teknologi sederhana yang digunakan petani kecil. 

Tanaman yang seragam memudahkan budidaya, tetapi meningkatkan risiko infeksi. 

Penyakit darah pisang menunjukkan bagaimana biologi patogen bersinggungan dengan kelemahan sistem produksi dan kelembagaan, menuntut perhatian luas dari petani, konsumen, media, peneliti, dan pembuat kebijakan. 

Mengenal Penyakit Darah Pisang

Penyakit darah pisang adalah penyakit tular tanah yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f. sp. Cubense. Patogen ini menyerang sistem pembuluh xilem tanaman, yang berfungsi mengangkut air dan nutrisi. 

Ketika jaringan pengangkut ini terserang, aliran nutrisi terhambat dan tanaman menunjukkan gejala layu.

Tanda khas penyakit ini adalah perubahan warna jaringan pembuluh menjadi cokelat kemerahan, seolah “darah” di batang pisang. Dari sinilah nama penyakit darah pisang. 

Gejala di daun atau batang sering baru terlihat saat infeksi parah. Deteksi dini pun sulit dilakukan.

Penyebaran penyakit ini pun beragam. Spora patogen bergerak melalui tanah yang terkontaminasi, air irigasi, bibit yang terserang, hingga alat pertanian yang tidak disterilkan. 

Pergerakan manusia dan distribusi bibit tanpa pengawasan juga mempercepat penyebaran dari satu wilayah ke wilayah lain.

Patogen ini memiliki kemampuan bertahan yang luar biasa. Spora bisa tetap hidup di dalam tanah selama bertahun-tahun tanpa inang. Karena itu, tanah yang pernah terinfeksi tetap menjadi sumber ancaman jangka panjang bagi tanaman baru yang ditanam di lokasi sama.

Kerentanan Sistem Budidaya Pisang

Kerentanan tanaman pisang terhadap penyakit darah pisang tidak hanya soal patogen dan biologi penyakit. Ia juga bersumber dari sistem budidaya yang diterapkan secara luas. 

Di banyak wilayah, petani menanam varietas yang seragam secara genetis dalam luasan besar. Praktik monokultur ini memudahkan patogen untuk menemukan inang yang tepat dan menyebar cepat.

Masalah lain adalah penggunaan bibit yang tidak bersertifikat. Bibit anakan sering dipindahkan antarwilayah tanpa pemeriksaan kesehatan tanaman. 

Bibit yang tampak sehat secara visual bisa saja sudah membawa patogen di dalamnya. Ketika ditanam di kebun baru, penyakit pun menyebar.

Sanitasi kebun yang buruk juga memperparah risiko. Banyak petani belum menerapkan pencucian dan sterilisasi alat pertanian secara rutin. 

Sisa tanaman yang sakit sering dibiarkan di lahan setelah panen atau ketika tanaman mati. Sisa tersebut menjadi reservoir patogen yang memudahkan siklus infeksi berikutnya.

Di sisi kebijakan dan kelembagaan, pisang sering dipandang sebagai komoditas tanaman rakyat yang “tumbuh sendiri”. Akibatnya, dukungan riset, penyuluhan, subsidi, dan perlindungan tanaman tidak sekuat komoditas ekspor atau perkebunan besar. 

Sistem pendukung yang lemah ini membuat petani kecil lebih rentan terhadap ancaman penyakit.

Implikasi terhadap Ketahanan Pangan

Ketika produksi pisang terganggu oleh penyakit darah pisang, dampaknya tidak berhenti di kebun. Pasokan karbohidrat murah bagi masyarakat berkurang. 

Bagi banyak rumah tangga pedesaan, pisang adalah sumber pangan penting saat stok makanan lain menipis.

Penurunan produksi lokal memaksa pasokan dari luar daerah. Rantai distribusi lebih panjang, biaya naik, dan ketergantungan meningkat. Sistem pangan lokal pun lebih rentan terhadap fluktuasi harga dan gangguan logistik.

Hilangnya varietas lokal mempersempit diversitas genetik, cadangan ketahanan pangan. Tanaman sehat bukan sekadar aset agronomi, tapi fondasi ketahanan pangan sesungguhnya. Tanpa itu, ketahanan pangan hanya menjadi slogan kosong.

Dampak Ekonomi dan Sosial bagi Petani

Bagi petani kecil, serangan penyakit darah pisang sering kali berarti kehancuran ekonomi. Tanaman yang mati sebelum sempat berbuah artinya modal bibit, tenaga kerja, dan waktu terbuang sia-sia. 

Kebun yang terinfeksi membutuhkan waktu lama sebelum kembali produktif, bahkan bertahun-tahun.

Situasi finansial keluarga petani langsung terdampak. Karena pisang sering menjadi bagian dari pendapatan rumah tangga, kegagalan panen berarti hilangnya sumber pendapatan utama untuk biaya pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya.

Ketika pasokan pisang menurun di pasar lokal, harga cenderung naik. Konsumen harus membayar lebih mahal, tetapi petani justru tidak menikmati keuntungan dari harga tinggi karena produksi mereka rendah. 

Ketimpangan ini memperlihatkan betapa rapuhnya struktur ekonomi pertanian kecil ketika menghadapi serangan penyakit.

Dampak sosialnya pun luas. Tekanan ekonomi mendorong migrasi tenaga kerja dari desa ke kota. 

Perubahan ini mempengaruhi struktur sosial komunitas pedesaan, melemahkan jaringan sosial, dan memperlebar kesenjangan antara kawasan yang mampu beradaptasi dan yang tidak.

Tantangan Pengendalian

Sampai saat ini, belum ditemukan solusi kuratif yang benar-benar efektif untuk penyakit darah pisang. Tidak ada fungisida yang mampu membersihkan tanah dari patogen secara tuntas, sementara pendekatan kimia sering menimbulkan efek samping bagi tanah dan lingkungan.

Beberapa inovasi seperti varietas tahan, bibit kultur jaringan, dan mikroba antagonis menunjukkan janji sebagai strategi jangka panjang. 

Namun adopsinya masih terbatas. Harga yang relatif tinggi, akses yang buruk ke pasar bibit sehat, dan distribusi yang lemah menjadi kendala utama.

Kurangnya penyuluhan teknis memperlambat adopsi praktik terbaik. Banyak petani belum memahami penyakit ini. Mereka sering mencoba “mengobati” tanaman sakit dengan cara yang salah. Akibatnya, patogen justru menyebar lebih cepat. 

Situasi ini menegaskan bahwa pengendalian penyakit darah pisang tidak bisa hanya mengandalkan teknologi. 

Diperlukan pendekatan sistemik yang menggabungkan pencegahan, pembinaan petani, dukungan kelembagaan, dan kebijakan yang berpihak kepada kelompok tani kecil.

Strategi Pencegahan yang Efektif

Pencegahan menjadi kunci menghadapi penyakit darah pisang. Langkah awal yang paling penting adalah penggunaan bibit bersih dan bersertifikat. 

Bibit dari kultur jaringan menjamin anakan bebas patogen dan mengurangi risiko infeksi sejak awal.

Sanitasi kebun harus menjadi praktik rutin. Alat pertanian perlu disterilkan, sisa tanaman sakit dibuang, dan rotasi tanaman diterapkan bila memungkinkan untuk menekan populasi patogen di tanah. 

Bersamaan dengan itu, pengembangan dan adopsi varietas tahan patogen, terutama varietas lokal adaptif, membantu mengurangi kerentanan tanpa mengorbankan rasa, nilai ekonomi, atau preferensi pasar.

Peran penyuluhan sangat penting. Program pelatihan petani mengenai identifikasi gejala, teknik sanitasi, manajemen risiko, dan penggunaan bibit sehat perlu diperluas hingga tingkat desa. 

Dengan dukungan sistemik ini, strategi pencegahan dapat diterapkan secara efektif, menjaga keberlanjutan produksi dan ketahanan pangan lokal. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.