Mahasiswa Teknik Elektro Untag Surabaya Ciptakan Sistem Deteksi Kualitas Air Minum Berbasis Sensor
Titis Jati Permata February 10, 2026 03:32 PM

 

SURYA.co.id, SURABAYA – Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Aditya Vahresi Ramadhan, menciptakan inovasi berupa Sistem Deteksi Kualitas Air Minum Kemasan dan Isi Ulang Berbasis Sensor pH dan Turbidity.
 
Alat tersebut dirancang untuk membantu memastikan kelayakan air minum berdasarkan data pengukuran yang terukur, bukan sekadar asumsi.

Berawal dari Kegemaran Mendaki Gunung

Kepada SURYA.co.id, Aditya mengungkapkan, ide pembuatan alat berawal dari kegemarannya melakukan kegiatan hiking dan pendakian gunung. 

Dalam pengalamannya, banyak pendaki yang mengonsumsi air dari sumber alami tanpa mengetahui kualitas air tersebut secara pasti.

Baca juga: Untag Surabaya Tegaskan Komitmen Eco-Campus Lewat Podclass Warta 17

“Ketika mendaki gunung, sering ada sumber air yang langsung diminum. Padahal kita tidak tahu apakah air tersebut benar-benar bersih atau tidak, karena bisa saja tercemar tanah atau kotoran lain. Dari situ muncul ide untuk membuat alat pendeteksi kualitas air,” ujarnya.

Uji Kualitas Air Sumber Pegunungan

Dalam pengembangan tugas akhirnya, Aditya dibimbing oleh Ir. Kukuh Setyajid, M.T. Awalnya, penelitian difokuskan pada pengujian kualitas air sumber pegunungan. 

Namun, atas arahan dosen pembimbing dan dosen penguji, objek penelitian diperluas ke pengujian kualitas air minum kemasan dan air isi ulang agar lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Secara teknis, alat ini menggunakan mikrokontroler ESP32 yang terintegrasi dengan sensor pH dan sensor turbidity. 

Sensor pH digunakan untuk mengukur tingkat keasaman air pada skala 1–14, dengan kisaran pH 6,5 hingga 8,5 sebagai standar air layak konsumsi. 

“Hasil pengukuran ditampilkan melalui LCD yang menunjukkan nilai pH, tingkat kekeruhan, serta status kelayakan air untuk dikonsumsi. Sistem ini dirancang agar mudah digunakan secara langsung, terutama untuk kebutuhan lapangan,” jelas Aditya.

Tantangan Terbesar Kembangkan Alat

Ia menambahkan, tantangan terbesar dalam pengembangan alat ini adalah proses kalibrasi sensor. 

Sensor pH dan turbidity memerlukan pengaturan awal agar pembacaan data sesuai dengan kondisi sebenarnya. 

Kalibrasi dilakukan dengan menyesuaikan hubungan antara tegangan listrik dan nilai pH maupun tingkat kekeruhan air untuk memperoleh hasil pengukuran yang akurat.

Dari sisi manfaat, alat ini dinilai mampu memberikan rasa aman dan kepastian bagi konsumen maupun pelaku usaha air minum isi ulang.

 “Dengan adanya data pengukuran yang valid, kualitas air tidak lagi hanya berdasarkan asumsi, melainkan berdasarkan hasil pengujian yang terukur,” ujarnya.

Berharap Karyanya Bisa Dikembangkan dan Disempurnakan

Terpilihnya inovasi ini sebagai karya menarik calon wisudawan menjadi kebanggaan tersendiri bagi Aditya. 

Ia berharap karya tersebut dapat terus dikembangkan dan disempurnakan oleh mahasiswa selanjutnya.

“Saya berharap adik-adik bisa melanjutkan dan mengembangkan alat ini menjadi lebih sempurna dan lebih valid sesuai standar yang ada, serta memunculkan inovasi lain yang berdampak langsung bagi masyarakat maupun industri,” tuturnya.

Tingkatkan Kesadaran Masyarakat

Ke depan, Aditya berharap inovasinya tidak hanya berhenti sebagai karya akademik, tetapi juga mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kualitas air minum.

 “Semoga alat ini bisa membuat masyarakat lebih peduli terhadap kualitas air yang dikonsumsi, sehingga merasa lebih aman dan nyaman,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.